Senin 30 Desember 2019, 09:05 WIB

Menyambut Kemerdekaan Belajar

Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta | Opini
Menyambut Kemerdekaan Belajar

DOK PRIBADI
Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berjanji akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. “Saya tidak akan membuat janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia,” ujar Nadiem dalam pidato Hari Guru Nasional 2019 (Media Indonesia, 23/11/2019).       

Pernyataan itu diperkuat dalam Diskusi Standar Nasional Pendidikan di Hotel Century Park Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019. “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir dan terutama esensi kemerdekaan berpikir ini harus ada di guru dulu. Tanpa terjadi di guru, tidak mungkin bisa terjadi di murid” (Tempo.co, 28/12/2019).

Guru pembelajar autentik

Kehendak Kemendikbud memberi ruang lebih besar kepada sekolah dan guru merupakan angin segar bagi dunia Pendidikan di RI. Penyederhanaan berbagai peraturan kependidikan yang selama ini dirasa membelenggu kemerdekaan guru dan peserta didik, semoga saja dapat segera direalisasikan. Sudah terlalu lama guru mengeluh ribetnya aturan ‘dinas’ yang semakin mengikat guru dalam rutinitas yang membosankan.

Terlalu banyaknya tuntutan administratif dan mekanisme birokrasi kaku, terkadang membuat guru kelelahan sebelum berjuang. Padahal, guru akan benar-benar dapat menjadi pembelajar autentik manakala dalam alam pikirnya sudah tidak ada lagi segala bentuk pola pikir yang meng­hukum dan menghambat laju pertumbuhan potensi diri sesuai misi hidupnya.

Guru memang bertugas sebagai pengajar di sekolah, tapi untuk dapat melaksanakan fungsi utamanya itu terlebih dahulu harus menjadi pembelajar. Semestinya belajar ialah bagian tidak terpisahkan dari gaya hidup seorang guru.  

Bagaimana mugkin guru dapat menginspirasi siswa-siswinya manakala dia sendiri miskin inspirasi? Jika semua guru ialah pembelajar andal, dewan guru dapat menjadi komunitas pembelajar yang saling menguatkan. Apabila guru memiliki sikap benar-benar terbuka (truly open to learning), mereka akan selalu dikejutkan anugerah per­ubahan yang menggairahkan. Komunitas pembelajar yang terbangun pada gilirannya akan memperkuat budaya belajar di sekolah.

Drennon dan Foucar-Szocki (1996) berpendapat, para praktisi pendidikan yang bekerja dengan kelompok sejawat mendapatkan manfaat langsung dari umpan balik yang diberikan sesama guru pada ide-ide yang terlontar. Belajar semakin diperkaya ketika setiap anggota kelompok menampilkan keterampilan dan perspektif. Oleh karenanya, memberi ruang interaksi lebih banyak kepada komunitas guru bertukar pengalaman belajar merupakan cara bijak meningkatkan profesionalitas pedagogiknya.

Ketika guru diberikan waktu dan media merefleksikan secara kolektif metode pengajaran yang dilakukan dan dapat berbagi gaya meng­ajar masing-masing, hasilnya akan meningkat dan proses belajar mengajar berubah. Dengan demikian, guru sangat perlu dibantu keluar dari tradisi isolasi, bekerja sendiri, menuju budaya baru: kolaborasi, dan dialog ialah prasyarat utama kolaborasi.

Tujuan dialog ialah membantu kelompok guru membawa asumsi ke permukaan dan memperjelas teori-teori yang digunakan. Inilah yang harus dilakukan sebelum berbagi sejumlah makna dan proses berpikir bersama dikembangkan. Kebiasaan berdialog tidak saja penting dalam pro­ses kolaborasi sesama guru. Keterampilan berdialog juga sangat membantu guru mengenali anak didik secara mendalam.

Dengan berdialog secara terbuka, hubungan guru-murid dapat menjadi sedemikian cair. Menghilangkan sekat-sekat yang selama ini menghambat keberanian siswa mengekspresikan pikiran dan perasaannya kepada guru. Hal yang sama terjadi pada sesama guru.

Memperkuat kolaborasi

Kemerdekaan belajar dapat diartikan guru secara mandiri saling bekerja sama untuk mengembangkan diri dan prestasi belajar siswa. Mereka membangun komunitas pembelajar dengan tujuan dan arah yang jelas.     

Dalam pelaksanaannya, guru dapat mengikuti sejumlah prinsip yang dikembangkan Diaz-Maggioli (2004). Pertama, kerja sama ialah nilai. Dalam situasi yang benar-benar kooperatif, setiap anggota tim pembelajar berusaha aktif memberikan kontribusi pada pekerjaan orang lain dalam kelompoknya dengan menawarkan dukungan, tantangan, atau penilaian. Salah satu tujuannya, mendorong guru berbagi keahlian, baik dalam rumpunnya, sekolah, maupun di lingkup yang lebih luas lagi.

Kedua, tim yang heterogen. Heterogenitas memungkinkan anggota kelompok melatih berbagai tingkat keahlian.

Ketiga, anggota tim saling bergantung. Mengutip Yakub, Power, dan Wan Inn (2002), “Prinsip saling ketergantungan positif adalah prinsip yang paling penting dalam pembelajaran kooperatif. Saling ketergantungan positif mewakili perasaan di antara anggota kelompok, yaitu apa yang dirasakan membantu salah satu anggota kelompok akan dirasakan pula manfaatnya oleh semua dan apa yang merugikan salah satu anggota, yang lain ikut pula merasakan sakitnya”.

Keempat, anggota tim bertanggung jawab secara individual. Setiap anggota tidak hilang tanggung jawab individualnya hanya karena yang bersangkutan bekerja dalam tim. Gagasan mengenai tanggung jawab individu ini memberikan koherensi tim, mendukung  kohesi, dan membantu menjaga anggota tetap produktif.

Kelima, anggota tim berinteraksi secara bersama-sama. Interaksi simultan melekat dalam budaya sekolah yang sistemis. Prinsip ini menyangkut pola interaksi. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban sama dalam kelompok.

Keenam, semua anggota tim harus memiliki kesempatan sama untuk berpartisipasi. Belajar diperkaya ketika semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kegiatan tim. Kelompok akan lebih sehat dan produktif jika pola yang digunakan ialah pola yang lebih egaliter dan demokratis. Setiap anggota dapat mengeks­presikan perasa­an, pikiran, dan pengalamannya secara merdeka tanpa ada perasaan terintimidasi oleh yang tua. Setiap guru memiliki hak dan kesempatan sama untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.

Ketujuh, anggota tim perlu belajar keterampilan pokok dalam bekerja sama yang akan membantunya sukses. Meskipun guru telah terbiasa dengan ‘aturan main sekolah’, tetap saja masih perlu diyakinkan terus pentingnya mengembangkan keterampilan bekerja sama yang konstruktif.  

Guru bersatu

Pada akhirnya, guru harus bersatu. Secara bersama-sama belajar mengembangkan diri menuju profesionalitas yang dipersyaratkan. Pengembangan kapasitas guru sebagai upaya berkelanjutan yang dilakukan guru bersama sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan untuk terus mengembangkan diri menuju kualitas ideal sebagai guru profesional, yang dapat meng­inspirasi pencapaian prestasi optimal peserta didik perlu dukungan semua pihak.

Oleh karenanya, sudah bukan masanya lagi apa yang dahulu sering ditemukan hampir di setiap sekolah, polarisasi kelompok. Terdapat sejumlah klik yang terkadang, bukannya sa­ling mendukung, malah saling menjatuhkan. Keterampilan dasar berkolaborasi menjadi sangat diperlukan agar keseluruhan proses pengembangan kapasitas guru dengan semangat kebersamaan ini dapat berjalan lebih produktif.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More