Senin 30 Desember 2019, 02:00 WIB

POST, si Kecil di Sudut Pasar Santa

Rifaldi Putra/H-3 | Humaniora
POST, si Kecil di Sudut Pasar Santa

Sumber: Dokumentasi MI/Tim Riset MI/Foto: Dok Post Pasar Santa
POST adalah toko buku di sudut Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 

DERETAN buku bersandar pada rak-rak yang berjejer di sudut Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebuah papan terlihat bergelantung di samping, bertuliskan POST. POST adalah toko buku yang didirikan pasangan suami istri Teddy W Kusuma dan Maesy Angelina sejak 5 tahun lalu.

“Dulu toko buku ini kecil, bermodal lapak berukuran 4x4 meter. Dengan berjalannya waktu, sekarang berkembang menjadi seluas enam lapak,” ucap Shinta, penjaga toko yang merupakan keponakan pemilik POST ketika ditemui Media Indonesia, Jumat (27/12).

“Konsep POST lebih ke arah memperkenalkan buku-buku baru yang enggak ada di toko-toko buku besar. Kami memang lebih fokus ke buku-buku dari independent publisher. Buku-buku dari penerbit kecil lah namanya,” ungkap Shinta.

Ia menambahkan, konsep demikian membuat POST menjadi alternatif bagi pencinta buku di Jakarta yang mencari buku terbitan penerbit independen yang sering kali susah ditemukan di toko buku besar.

Yang menarik, POST menyediakan sejumlah kursi dan meja untuk pengunjung untuk dapat membaca di dalam toko. “POST tidak hanya menjual buku, tapi juga memperboleh-kan pengunjung membaca buku dan mencari referensi yang tersedia di toko. Boleh banget,” imbuhnya.

Toko hanya buka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan pengunjung rata-rata 50 orang. “Pengunjung yang datang sangat variatif, banyak anak sekolah dan kalangan dewasa. Apalagi waktu libur banyak orang mencari buku untuk mengisi liburan,” tutur Shinta.

POST kerap kali menggelar workshop dan bedah buku. “Tak hanya diskusi, kami juga menggelar workshop, misalnya tentang menulis,” lanjutnya.

Buku yang dijual di toko tersebut bervariasi, antara Rp30 ribu-Rp300 ribu. POST juga menyediakan buku-buku second hand yang dijual seharga Rp10 ribu hingga Rp50 ribu. “Buku second hand kebanyakan berasal dari buku pribadi yang sudah tidak dibaca lagi. Ada juga sumbangan dari pengunjung yang masih layak baca,” ujar Shinta.

Salah seorang pengunjung, Fachry Prayasi, 30, mengaku sering bertandang ke POST. “Suka beli di sini. Pilihan bukunya oke-oke. Yang jaga bisa dimintain rekomendasi buku yang bagus,” jelasnya.

Kedekatan pengelola POST dengan pengunjung atau sesama pengunjung menjadi ciri khas toko ini. Hal tersebut memungkinkan pengelola merekomendasikan secara langsung kepada pe­ngunjung buku yang menarik atau memperkenalkan koleksi barunya.

Interaksi yang dekat antara pengunjung dan pengelola toko memang menjadi ciri khas yang lumrah ditemukan di banyak toko indie di Indonesia maupun di luar negeri. (Rifaldi Putra/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More