Minggu 29 Desember 2019, 00:30 WIB

Jejak Buddhisme Ugo Untoro

Fathurrozak | Weekend
Jejak Buddhisme Ugo Untoro

MI/FATHURROZAK
Pengunjung tengah mengamati karya coretan ala Ugo Untoro lewat telapak-telapak kaki itu

LE Massacre de Chios (The Massacre at Chios) merupakan karya Delacroix yang mengisahkan ­pembantaian penduduk Pulau Chios, Yunani, oleh tentara Turki. Jarak Chios ialah sekira tujuh kilometer dari pantai Turki. Saat itu, pada 1822 pembantaian itu terjadi sebagai respons proklamasi Yunani. Dari potret itu terlihat seorang dengan turban menaiki kudanya sembari menyeret perempuan telanjang dan menghunuskan pedang.

Pada latarnya, membubung kepul­an asap. Dalam karya yang ‘direpro’ Ugo, ia hanya menggunakan satu unsur warna merah, yang tentu menegaskan sebagai suatu peristiwa berdarah. Dalam karya yang menyimplifikasi komposisi, Ugo menggambarkan orang-orang dalam Le Massacre de Chios serupa coretan sketsa. Bila ia tidak turut membubuhkan tempelan karya Delacroix di sampingnya, mungkin saja itu akan lebih terlihat sebagai bukan pembantaian di Chios, bisa saja itu terjadi di negeri kita sendiri.

Pada pameran bertajuk Rindu Lukisan Merasuk di Badan yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia yang masih akan berlangsung hingga 12 Januari 2020, seniman asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini, menyuguhkan koleksi-koleksi karya dua dimensinya, juga instalasinya. Terbagi menjadi empat bagian; seri romantik, sleeping Buddha, seri lukisan, dan seri hujan.

Seri romantik diwakili dengan cara Ugo menafsirkan garis, warna dengan gaya coretan pada karya-karya Delacroix, juga S Sudjojono. Entah disengaja atau tidak, narasi kuda kembali muncul pada karya lukis terbarunya ini yang dibentuk dari karya-karya Delacroix.

Sebelumnya, Ugo pernah menggelar pameran bertajuk Poem of Blood (2007), juga di tempat sama. Pameran itu dipicu pasca­peristiwa kepergian Badai Lembut, kuda ­kesayangannya. Saat itu, Ugo ­mengajukan gagasan sejarah kuda dalam perkembangan manusia. Sejarah kuda juga ialah sejarah manusia.

Sebut saja seperti Le Massacre, Fanatics of Tangier, Execution of The Doge Marino Faliero yang olehnya digubah dengan kanvas bernuansa biru gelap dan hanya menyisakan si kuda hitam bersayap, serta menihilkan sosok-sosok manusianya. Kuda juga dijumpai dalam Entry of The Crusaders into Constantinople dan Combat of The Giaour and The Pasha. Karya-karya nirkuda milik Delacroix yang digubah Ugo, hanya tiga, yaitu Barque of Dante, Medea, dan Greece Expiring on The Ruins of Missolonghi, serta dua karya yang terilhami dari Sudjojono.

Ugo tampaknya menyelipkan dengan kentara hubungan per­sonalnya dengan subjek kuda sebagai narasi dalam karya. Gagasannya yang diajukan 12 tahun silam itu, dipotret melalui coretan khasnya, bernapas karya dari tokoh romantisme, Eugene Delacroix. Ia seolah ingin menabalkan gagasan bahwa kuda memang turut menjadi bagian dari sejarah manusia, bukan sekadar tunggangan, melainkan juga ia bagian dari pembantaian, revolusi, dan lara yang dilalui manusia.


Karakter lain

Dengan komposisi yang cukup mayor memenuhi kanvas, dua telapak kaki merapat bahkan terlihat gandeng, dengan warna cokelat dan gradasi keunguan pada sela jari. Pada seri sleeping Buddha, Ugo menggelontorkan rentetan visual jejak-jejak telapak kaki. Ada yang hanya menangkap satu telapak dengan bonus jempol kaki lain dengan garis cokelat kejinggaan, kanvas yang dibiarkan polos putih yang hanya terdapat goresan kuas pada sisi atas seperti garis yang menyisakan cipratan pada bidang yang dibiarkan putih.

Cara lainnya, ia menyajikan dengan seluruh kanvas berwarna putih krim dan hanya menyisakan bidang minor pada sisi samping, yang terlihat seperti celah jari kaki dan di bawahnya sebagai latar berwarna biru keunguan. Atau ia menggunting kanvas untuk menghasilkan efek serupa dua telapak yang berimpitan pada kanvas berwarna biru. Satu telapak lahir dari bolongan yang meninggalkan warna putih tembok, satunya lagi telapak dari kanvas yang digun­ting, menyisakan bagian dalam (belakang) berwarna cokelat yang meggantung.

Pada seri Buddha ini, kita bisa mengenali karakter Ugo yang lain, yang mengosongkan sebagian besar kanvasnya, untuk kemudian hanya mengisi pada sudut-sudut minor. Menurut kurator Hendro Wiyanto, ini merupakan kekhasan tata rupa Ugo.

“Beberapa bagian bidang berisi warna, sisa warna atau sisa kanvas dibiarkan kosong dan beberapa ce­lah atau kawasan lebih tersembunyi justru menyedot perhatian melalui penekanan dan perlakuan tertentu. Sudut, pojok, dan tepian dalam arti harfiah maupun simbolis kerap kali beralih sebagai pusat perhatian dengan bobot lebih atau paling kuat untuk mendorong perhatian kita sedikit bergeser atau tidak memusat,” tulis Hendro dalam catatan kuratorial.

Antara coretan dan Buddhisme ala Ugo, lewat telapak-telapak kaki itu, barangkali kita bisa membaca jejak pertentangannya pada nilai-nilai estetika yang menjadi pakem dan konvensi. Sebagai wujud perlawanan pada kejumudan gagasan estetis, juga kenaifan pada perputaran yang serbabergegas.
Sesekali, barangkali perlu juga kita memperhatikan yang ditaruh di sudut, pojok, yang memang minor dari bidang pusat mayor. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More