Jumat 27 Desember 2019, 14:47 WIB

Puncak Musim Hujan Diprediksi Terjadi Maret 2020

Indriyani Astuti | Humaniora
Puncak Musim Hujan Diprediksi Terjadi Maret 2020

MI/Rommy Pujianto
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

 

HAMPIR seluruh wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak musim hujan akan terjadi pada Februari dan Maret 2020.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan curah hujan pada periode itu diprakirakan tinggi atau mencapai puncaknya terutama bagian Selatan Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Jawa, Kalimantan bagian Tengah, Sulawesi dan Papua.

Menurut Dwikorita, pada periode ini masyarakat dapat mengoptimalkan daerah resapan-resapan air terutama di lahan datar. Tujuannya agar saat musim kemarau datang, masyarakat tidak mengalami kekeringan.

Ia menjelaskan bahwa prospek BMKG mengenai cuaca dan iklim pada 2020 diprediksi normal. Berbeda dengan tahun 2019, awal musim hujan di banyak wilayah terutama di Selatan garis khatulistiwa terlambat.

Hal itu, terangnya, bukan diakibatkan  karena El Nino yang umumnya membuat musim kemarau menjadi panjang. Melainkan, adanya anomali yang terjadi di Samudera Hindia sehingga berdampak signifikan pada iklim di Indonesia.

Pada 2019, suhu muka air laut di Samudera Hindia lebih dingin dari kondisi normal, sehingga berpengaruh pada pembentukan awan hujan yang minim.

"Itu yang mengakibatkan musim kemarau pada 2019 yang lebih panjang dari kondisi normal," papar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada itu.

Ia lebih lanjut memaparkan bahwa  Iklim di Indonesia sangat tergantung pada kondisi suhu muka air laut di Samudera Pasifik dan Hindia.

Pada 2020, diprakirakan Samudera Pasifik bagian tengah akan berada pada kondisi netral sehingga kecil kemungkinan fenomena El Nino dan La Nina terjadi di Indonesia. El Nino  mengakibatkan kemarau panjang, sedangkan La Nina berdampak pada tingginya curah hujan.

Begitu pula, untuk kondisi Samudera Hindia, menurut BMKG tidak terdapat indikasi akan muncul fenomena fluktuasi suhu muka air laut yang kuat. Hal itu membuat kondisi suhu muka air laut di perairan Indonesia diprakirakan normal dan bertahan hingga Juni 2020.

Prediksi BMKG, menurutnya, sesuai sejalan dengan prakiraan Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOOA) Amerika Serikat.

"Tidak ada indikasi musim kemarau akan maju atau mundur karena sesuai dengan kondisi normal. Kemarau diprediksi terjadi pada April atau Mei hingga Oktober 2020," terangnya.

Meski musim kemarau dan hujan diprediksi normal pada tahun depan, BMKG meminta beberapa wilayah yang mengalami dua periode musim kemarau yakni Riau dan Aceh.

Pada dua wilayah tersebut, periode pertama kemarau diprediksi terjadi pada Februari hingga Maret. Ia menegaskan agar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena cuaca kering perlu diwaspadai.

"Terjadi karhutla perlu diwaspadai meskipun wilayah lainnya masih hujan deras. Musim kemarau tidak serentak di berbagai wilayah," tuturnya.

BMKG mencatat, sepanjang 2019 ada beberapa kejadian signifikan terkait cuaca dan iklim terjadi. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R. Prabowo menyampaikan kondisi cuaca ekstrem 2019 terjadi hampir di seluruh provinsi yang ada meskipun Jawa yang cukup mencolok.

Ia mencontohkan pada periode  September dan Oktober 2019, suhu panas melebihi 40 derajat terjadi di Bojonegoro, Jawa Timur.

BMKG juga mencatat ada sejumlah kejadian bencana terkait cuaca iklim pada 2019. Hingga Desember 2019 telah terjadi 243 kejadian banjir, 240 tanah longsor, 554 kejadian puting beliung akibat kondisi hidrometeorologi.

Selain itu, kemarau panjang yang terjadi tahun ini memicu 52 karhutla dan bencana asap. Untuk aktivitas seismik berdasarkan data BMKG ada 12 kejadian gempa bumi yang signifikan sepanjang 2019.

"Ini menjadi catatan untuk menguatkan mitigasi bencana," tukas Dwikorita. (Ind/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More