Kamis 26 Desember 2019, 14:40 WIB

Gerhana Matahari, Ujian Keimanan Umat Muslim

Rifaldi Putra Irianto | Humaniora
Gerhana Matahari, Ujian Keimanan Umat Muslim

Dok. Masjid Nursiah Daud Paloh
Salat gerhana matahari cincin di Masjid Nursiah Daud Paloh, Komplek Media Group, Jakarta Barat

 

HARI ini, Kamis (26/12), sebagian wilayah di Indonesia dilintasi gerhana matahari cincin. Bagi umat muslim, fenomena alam ini akan disyukuri dengan melakukan salat gerhana. Seperti yang dilakukan pihak Media Group yang menggelar salat sunah kusuf atau salat gerhana matahari selepas dzuhur di Masjid Nursiah Daud Paloh, Jakarta Barat.

Dalam pantauan Media Indonesia, sejumlah jemaah mendatangi masjid yang terletak di Komplek Media Group untuk melakukan salat sunah kusuf.

Ustaz Nurjaman Sahli yang bertindak selaku imam dan khatib menjelaskan tentang pentingnya salat sunah kusuf saat terjadi gerhana matahari.

"Yang utama adalah rasa keimanan kita. Sebenarnya dengan salat kusuf, Allah ingin mengingatkan soal ibadah seseorang kepadanya, sebagaimana yang disampaikan sebenarnya salat kusuf atau gerhana matahari tidak lain adalah ujian. Ujian bagi keimanan seseorang kepada sang pencipta, Allah SWT," jelas Nurjaman saat ditemui di Masjid Nursiah Daud Paloh, Jakarta, Kamis (26/12).

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk memperbanyak bekal ibadah serta ketaqwaan.

"Yang ingin ditekankan adalah pesan-pesan ketaqwaan pada Allah SWT, karena begitu datang perintah salat ini, Rasulullah pernah mengatakan perbanyak amal ibadah, perbanyak kesalehan kepada Allah swt. Jadi itu yang lebih ditekankan supaya manusia punya bekal," ucapnya.

Baca juga: 5.800 Kacamata Disediakan untuk Menikmati Gerhana Matahari

Ia menceritakan mengenai kisah gerhana matahari yang pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW bersamaan dengan meninggalnya putra Rasulullah yang bernama Ibrahim. Hal tersebut membuat umat menghubung-hubungkan feomena alam tersebut dengan peristiwa wafatnya Ibrahim yang masih bayi.

Ketika itu, gerhana matahari cincin tersebut terjadi pada tanggal 29 Syawal 10 H / 27 Januari 632 M di Kota Madinah.

"Pertama kali terjadi gerhana di zaman Rasulullah itu berbarengan dengan meninggalnya anak Rasulullah. Saat itu kondisi keimanan para sahabat ada yang masih mengaitkan dengan mitos zaman jahiliyah," ungkapnya.

"Masih ada sahabat nabi yang mengkaitkan gerhana terjadi karena ada pembesar yang meninggal atau anak pembesar seperti raja yang meninggal," lanjutnya.

Namun, Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat bahwa kejadian gerhana matahari tidak ada sangkut paut dengan meninggalnya sang anak. Ia mengingatkan gerhana matahari merupakan kuasa Allah SWT.

"Rasulullah mengatakan gerhana tidak ada sangkut pautnya dengan meninggalnya seorang pembesar atau keluarga seorang pembesar, bahkan hidupnya seorang pembesar. Tapi gerhana merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT," tuturnya.

Ia mengatakan, Rasullulah meluruskan informasi yang keliru tersebut bahwa sesungguhnya Allah SWT ingin menunjukan kuasanya.

"Yang Allah ingin tunjukan kepada hambanya bahwa Allah SWT itu ada, dan punya kuasa atas setiap segala sesuatu," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More