Kamis 26 Desember 2019, 06:10 WIB

Natal dan Matinya Geografi

V Nahak Mahasiswa Pascasarjana Teologi Kitab Suci Universitas Comillas-Madrid, Spanyol | Opini
Natal dan Matinya Geografi

MI/Andry Widyanto
Misa Natal

EDITORIAL Media Indonesia tentang Natal cukup optimistis. Hal ini  didukung data Kementerian Agama soal indeks kerukunan umat beragama di Indonesia yang menunjuk tren positif (Media Indonesia, Senin, 23/12). Namun, Natal menjadi lebih bermakna kalau modal toleransi ini menjadi batu loncatan untuk solidaritas lintas batas.

Natal tahun ini dirayakan di tengah berita tentang persekusi umat Islam Uighur di Tiong­kok. Peristiwa ke­kerasan bermotif agama seperti ini menggugat cara kita menghayati Natal sebagai sebuah peristiwa iman. Tidak cukup meromantisasi penderitaan kita sendiri dan menutup mata terhadap reali­tas kekerasan yang terjadi di sekitar kita.

Model pengahayatan iman yang berkutat dengan penderitaan sendiri dan alpa digugat penderitaan orang lain bagi teolog Jerman JB Metz ialah tanda dari privatisasi iman. Artinya, horizon penghayatan iman dibatasi tembok identitas yang menghalangi mata untuk melihat realitas penderitaan dalam wajah sesama yang lain (Metz, 1994).


Autokritik

Natal tampil sebagai gugat­an atas cara kita memeluk agama. Spirit dasar perayaan Natal tercetus dari refleksi kritis terhadap tipe agama yang terlalu berkutat dengan berbagai ritual dan macam-macam regulasi yang justru membelenggu manusia.

Secara gamblang narasi kelahiran Yesus ialah protes terhadap kekerasan pemerintah atas warga sipil. Injil Matius mengisahkan kebrutal­an Herodes yang membantai bayi-bayi di Betlehem.
Lolosnya Yosef-Maria dan bayi mereka dari tirani Herodes ialah negasi terhadap kekuasaan.
Mustahil ada yang benar-benar mutlak berkuasa. Oposisi antara sang raja yang disokong infrastruktur militer dan seorang bayi di kandang hewan ialah sinis yang sempurna terhadap kekuasaan.

Menariknya, solidaritas di sekitar kandang Betlehem, tempat lahir Yesus, bukanlah solidaritas yang didasarkan identitas yang terekam dalam kartu tanda penduduk (KTP). Para gembala miskin yang datang ke kandang ialah warga kelas bawah dalam piramida sosial.
Mereka tidak dipedulikan dalam sensus Kaisar (Lukas 2) yang targetnya untuk memungut pajak.
Demikian juga tiga raja dari timur (Matius 2) ialah wakil dari komunitas internasional yang menyeberang teritorial geografisnya dan membelokkan kiblat dari Jerusalem kepada sebuah kandang hewan atas nama solidaritas dengan kemanusiaan.

Dengan demikian, Natal tidak lain ialah sebuah ajak­an untuk melampaui sikap eksklusif dan menukarnya dengan horizon baru yang berlandas pada bela rasa dengan sesama warga dunia yang menderita.

Dikatakan bahwa protes terhadap kekerasan yang terjadi pada saudara-saudari muslim Uighur di Tiongkok juga protes semua orang Kristen yang me­rayakan Natal.

Imperatif Natal diringkas dengan tepat dalam preambul UUD 45: Kekerasan dalam bentuk apa pun harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan.


Matinya geografi

Solidaritas lintas batas ini ialah sesuatu yang niscaya karena kita terhubung dalam jejaring tanpa batas. Angela Merkel dalam pidato peringatan tiga dekade peristiwa runtuhnya tembok Berlin pada 9 November lalu mengatakan, “Tidak ada tembok yang begitu panjang dan begitu lebar untuk memisahkan manusia.” Kita hidup di sebuah dunia yang tersambung gawai-gawai mu­takhir. Alvin Toffler menyebut fenomen ini sebagai ‘matinya geografi’-demise of geography (Toffler, 1970).

Natal ialah momentum vital untuk memugar memori kolektif kita sebagai warga dunia. Sebagai orang Indonesia, kita terlatih berimajinasi sebagai satu bangsa di tengah keterpisahan gugusan pulau-pulau kita. Koneksi virtual keindonesiaan ini sebetulnya modal untuk membangun solidaritas seluas globe.

Nada optimistis yang di­sebarluaskan ke publik ini sejalan dengan tema Natal 2019, Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang. Tema ini sesungguhnya memancarkan spirit inklusif yang sudah direfleksikan secara amat serius sejak abad pertama kekristenan (John Meier, 1991).     

Ide lintas batas dalam narasi Injil berlimpah ruah. Be­berapa yang paling menonjol, misalnya, dialog Yesus dengan perempuan asing dan beragama lain dari Siro Fenisia, kisah orang Samaria yang baik hati atau pujian Yesus kepada perwira Romawi yang menurut Yesus imannya di atas rata-rata orang Israel zaman itu.

Natal menghubungkan kita dengan jejak kekerasan yang menindas dan membelenggu kebebasan manusia pada satu sisi dan kerinduan terdalam manusia untuk merenggut kembali hak-haknya yang dirampas pada sisi lain.

Perayaan Natal kali ini juga sebuah solidaritas lintas batas dengan saudara-saudari muslim yang hak dan kebebasannya untuk beribadah dirampas. Sejalan dengan itu, Natal menagih dari negara opsi dan keberpihakan yang jelas terhadap kemanusiaan.

Baca Juga

dok.pribadi

Masa Genting yang Tak Bisa Dilupakan

👤Asmarullah, Perawat Senior di Klinik Asiki, Papua 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 16:55 WIB
Papua masuk ke dalam wilayah teritorial Indonesia, tetapi cukup sulit untuk melihatnya secara mendalam. Sebab banyak orang yang merasa...
Dok MI

Menghidupkan Sumpah Pemuda

👤Sunanto | Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 13:08 WIB
Sumpah pemuda harus diresolusi menjadi momentum melahirkan negarawan...
Dok.pribadi

Mewaspadai La Nina dan Cuaca Buruk

👤 Edvin Aldrian, Professor Meteorologi dan Klimatologi BPPT, Inter governmental Panel on Climate Change WG 1 Vice Chair, Anggota Dewan pakar IABIE Ikatan Alumni program Habibie 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:55 WIB
Kondisi di perairan laut akan lebih berbahaya pada saat La Nina, terlebih pada masa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya