Selasa 24 Desember 2019, 20:40 WIB

Kementan Bangun Posko Darurat Tangani Demam Babi di Sumut

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Kementan Bangun Posko Darurat Tangani Demam Babi di Sumut

Dok. Kementan
Babi yang mati akibat demam babi dikubur massal

 

KEMENTERIAN Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan bahwa Posko Darurat dan Tim Gerak Cepat telah bergerak untuk menangani kasus Demam Babi Afrika atau lebih dikenal dengan African Swine Fever (ASF).

"Posko darurat telah dibentuk di semua tingkatan mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota bahkan hingga tingkat kecamatan. Saat ini, kami sudah memiliki 102 posko di tingkat kecamatan," ujar Ketut melalui keterangan resmi, Selasa (24/12)

Sebelumnya, Kementan telah mengumumkan adanya kejadian penyakit ASF di Sumut melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit demam babi Afrika (African Swine Fever/ ASF) pada beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara pada tanggal 12 Desember 2019.

Hal itu sekaligus menegaskan bahwa penyebab utama banyaknya kasus kematian babi di Sumut disebabkan oleh ASF.

Ketut menegaskan, pengendalian ASF di Sumut telah dilakukan secara terintegrasi oleh Tim Gabungan antar instansi daerah yang melibatkan unsur Tim Gerak Cepat (TGC) Ditjen PKH, Balai Veteriner Medan, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi bersama Dinas PU, Dinas Kesehatan dan juga Kepolisian.

Baca juga : Virus ASF Terdeteksi, Sarawak Larang Babi Kalengan dari Tiongkok

"Salah satu permasalahan yang ditangani bersama TGC dengan kepolisian adalah penanganan bangkai babi yang dibuang ke sungai. Hal ini terjadi pada awal-awal kasus kematian babi di Sumut bulan Oktober 2019," ungkapnya.

Melalui kerja sama itu, pengawasan bisa dilakukan secara ketat sehingga pembuangan bangkai babi dapat dicegah. Seluruh pihak juga melakukan pengumpulan serta penguburan bangkai ternak babi.

"Saat ini kasus pembuangan bangkai tersebut telah menurun tetapi pengawasan harus tetap dilakukan. Selain mengawasi pembuangan bangkai, tim gabungan juga mengawasi lalu lintas ternak babi dan produknya," jelasnya.

Ketut juga menyampaikan dukungan untuk Pembentukan Tim Khusus Kepolisian di Sumut dalam penanganan kasus penyakit ASF. Menurutnya, hal ini merupakan kelanjutan kerja sama yang sudah terjalin dan sangat membantu TGC dalam upaya dalam pengendalian penyakit ASF di Sumut.

"Tim Gerak Cepat Ditjen PKH, Balai Veteriner Medan dan Dinas Provinsi saat ini tetap melanjutkan pelaksanaan kegiatan di posko darurat dan lapangan untuk mengawasi lalu lintas ternak babi, sosialisasi, dan bimbingan teknis tentang ASF. Kementan juga telah mengalokasikan APBN sebesar Rp5 miliar untuk mendukung operasional di lapang," tambah Ketut.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional, sampai hingga pekan kedua Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di 16 kabupaten/kota Sumut dilaporkan mencapai 28.136 ekor. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More