Rabu 25 Desember 2019, 05:45 WIB

Inggris Peringatkan Iran Terkait Ancaman Pertempuran di Laut

Arpan Rahman | Internasional
Inggris Peringatkan Iran Terkait Ancaman Pertempuran di Laut

AFP
Kapal perang Inggris dikerahkan ke Teluk Persia untuk menjaga keamanan kargo.

 

ANGKATAN Laut Kerajaan Inggris mengirim kapal perusak HMS Defender ke Teluk Persia. Tujuannya untuk membantu melindungi kapal pengiriman Inggris dari agresi Iran.
 
Kapal perang tipe perusak akan bergabung dengan fregat HMS Montrose, yang saat ini ditempatkan di sana. Kepala Angkatan Laut Inggris Laksamana Tony Radakin, memperingatkan bahwa Iran tetap menjadi ancaman nyata bagi kapal-kapal Inggris di kawasan itu. Komentarnya muncul setelah sebuah kapal tanker minyak berbendera Inggris, Stena Impero, ditangkap oleh Garda Revolusi Iran pada Juli karena dituduh melanggar aturan maritim.
 
Kapal itu dirampas di Selat Hormuz dua pekan setelah sebuah kapal tanker Iran ditahan di Gibraltar dengan bantuan Marinir Kerajaan Inggris.

Teheran membantah keras bahwa kapal itu diambil sebagai tindakan pembalasan. Stena-Impero kemudian diizinkan meninggalkan Iran pada akhir September, dari sana menuju ke Dubai.
 
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, panglima AL Inggris menggambarkan tindakan Iran sebagai ‘agresif’ dan ‘keterlaluan’.
 
Meskipun Inggris ingin ‘meningkatkan ketegangan’ dengan Iran, Radakin menegaskan bahwa AL Inggris akan mempertahankan kehadiran yang tinggi di Teluk.
 
"Kita harus bereaksi ketika sebuah negara sama agresifnya dengan Iran,” ujar Laksamana Radakin.
 
"Itu adalah tindakan keterlaluan yang terjadi di laut lepas dan itulah mengapa kami merespons seperti ini," cetus Radakin, disitat dari Daily Express, Selasa 17 Desember 2019.
 
Laksamana juga mengonfirmasi bahwa Inggris tidak akan bergabung dengan operasi angkatan laut Eropa yang disponsori Prancis untuk memberikan peningkatan keamanan maritim di Teluk.
 

Sebaliknya, Inggris akan terus memainkan perannya dalam inisiatif yang dipimpin Amerika Serikat, ‘Operation Sentinel’. Dia berpendapat bahwa alasan untuk ini adalah karena praktis, serta ikatan militer sejak lama.
 
Radakin juga menjelaskan bahwa Inggris tidak mendukung kebijakan Trump buat memberikan tekanan maksimum pada Iran. AS secara sepihak menarik diri dari apa yang disebut kesepakatan nuklir P5+1, dan memberlakukan kembali sanksi hukuman terhadap rezim Iran.
 
AS juga mengancam akan memasukkan daftar hitam perusahaan mana pun yang melanggar embargo sanksi. Kesepakatan asli ditandatangani pada 2015 oleh Presiden AS Barack Obama, Inggris, Prancis, Tiongkok, Rusia, dan Jerman.
 
Di bawah perjanjian itu, Iran setuju membatasi kegiatan nuklirnya yang sensitif dan mengizinkan para inspektur internasional sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi.
 
Laksamana Radakin juga ingin meningkatkan kemampuan AL Kerajaan untuk melawan peningkatan aktivitas permusuhan Rusia di Atlantik Utara. Menurutnya aktivitas bawah laut Rusia sudah 30 tahun.
 
Ini bisa menimbulkan ancaman bagi kapal selam Trident Inggris, yang harus beroperasi tanpa terdeteksi. AL Inggris mengakui bahwa ini sekarang menjadi jauh lebih sulit, karena investasi Rusia dalam kapal selam rahasia yang lebih canggih sendiri.
 
Bagi Radakin jawaban untuk memenuhi tantangan baru ini, serta menghadapi ancaman baru seperti perang siber, adalah berinvestasi dalam teknologi baru. Sebagai hasilnya, ia mendesak pemerintah baru untuk segera melakukan tinjauan pertahanan yang komprehensif.
 
"Itu mungkin berarti kita harus menyesuaikan bentuk dan ukuran angkatan bersenjata untuk memungkinkan investasi baru itu, atau itu mungkin berarti kita perlu berinvestasi lebih banyak,” pungkas Radakin.(Medcom/OL-12)
 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More