Selasa 24 Desember 2019, 07:26 WIB

Uskup Agung Semarang Dorong Umat Menjadi Pribadi Transformatif

Antara | Humaniora
Uskup Agung Semarang Dorong Umat Menjadi Pribadi Transformatif

Antara
Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengunjungi Ahmad Syafii Maarif. Menjadi sedulur salah satu komitmen Uskup Agung.

 

USKUP Agung Semarang Monsinyur Robertus Rubiyatmoko mendorong umat Katolik membangun kehidupan baru menjadi pribadi yang transformatif, untuk mendukung terwujudnya peradaban kasih di Indonesia.

"Saya mengajak dan mendorong Anda semua untuk menjadi pribadi yang transformatif, pribadi yang selalu berubah dan berdaya ubah, demi terwujudnya peradaban kasih di Indonesia tercinta ini," kata Uskup Agung Semarang Monsinyur Robertus Rubiyatmoko dalam pesan Natal yang dikeluarkan melalui Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Semarang, Selasa (24/12/2019).

Ia mengharapkan perayaan Natal menjadikan umat Katolik, terutama di keuskupan setempat, menjadi pribadi-pribadi yang mampu membawa perubahan dalam hidup bersama.

"Hingga masing-masing dari kita menjadi sahabat bagi yang lain," kata Ruby yang memimpin umat Katolik dengan wilayah sebagian Provinsi Jawa
Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu.    

Dia mencontohkan tentang daya ubah dialami manusia sebagaimana kisah dalam kitab suci mengenai sosok Zakheus dan Paulus. Perjumpaan mereka dengan Yesus mengubah diri dan orientasi hidup mereka.    

Ia menyebut pribadi yang transformatif terbuka untuk perubahan, yakni siap untuk diubah, siap untuk berubah, dan siap untuk mengubah. Transformasi, ujarnya, akan terjadi juga dalam diri umat manakala perjumpaan dan iman kepada Yesus Kristus berdaya ubah terhadap orang lain dan lingkungan masing-masing. Dia mengatakan bahwa salah satu wujud konkret terjadinya perubahan adalah terciptanya kehidupan bersama yang diwarnai oleh persaudaraan, masing-masing menjadi sahabat bagi semua. Keadaan itu, lanjut Uskup sesuai dengan harapan Deklarasi Persaudaraan yang disepakati Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed Al-Tayeb, di Abu Dhabi, 4 Februari 2019.    

Ia mengemukakan pentingnya umat menampakkan jati diri menjadi pribadi yang transformatif. Istilah transformatif sudah dimunculkan dalam Tema Ardas (Arah Dasar) KAS 2016-2020 Membangun Gereja yang insklusif, inovatif, dan transformatif demi terwujudnya peradaban kasih di Indonesia.

Uskup menambahkan pribadi yang transformatif menyangkut upaya umat menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa berubah hingga berbuah berkah yang melimpah.    

"Hal ini ditempuh dengan senantiasa berbenah, melakukan yang baik dan yang lebih baik. Maka menjadi pribadi yang transformatif tidak lain berarti menjadi pribadi yang senantiasa berubah dengan berbenah hingga berbuah berkah," lanjutnya.

Ia juga mengingatkan umat untuk bersyukur karena berkat Tuhan melimpah sepanjang 2019 yang disebut sebagai Tahun Pastoral. Dengan fokus pastoral itu, katanya, umat telah berupaya bersama seluruh masyarakat menciptakan kondisi hidup bersama yang memungkinkan pribadi-pribadi dan kelompok masyarakat mencapai kepenuhan martabatnya sebagai manusia.

Salah satu buahnya berupa pemilu yang lancar, aman dan damai sertap melahirkan para wakil rakyat dan presiden serta wakil presiden.

"Mereka para pelayan masyarakat yang dipercaya rakyat untuk membawa bangsa mewujudkan cita-cita, yaitu hidup sejahtera, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia serta semangat Bhinneka Tunggal Ika," lanjut Uskup.   

baca juga: Alat Skrining Bayi masih Kurang Efektif

Monsinyur Robertus Rubiyatmoko mengajak umat Katolik dapat hadir di tengah masyarakat dan menjadi sahabat bagi semua orang.    

"Menjadi sahabat berarti dadi sedulur bagi orang lain. Dengan cara demikian kita semakin dapat merasakan dan mengalami persaudaraan yang diwarnai oleh sikap saling pengertian, rasa hormat, dan belas kasih (welas asih). Dalam suasana ini toleransi pun akan bertumbuh dalam masyarakat, bangsa, dan negara kita," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More