Selasa 24 Desember 2019, 07:50 WIB

Dua Kubu Hanura Diminta Berdamai

Media Indonesia | Politik dan Hukum
Dua Kubu Hanura Diminta Berdamai

MI/MOHAMAMD IRFAB
Wakil Ketua Umum Partai Hanura Yus Usman Sumanegara (tengah) bersama pengurus lainnya memberikan keterangan pers.

 

DUA kubu di Partai Hanura diminta berdamai. Para sesepuh partai khawatir pertengkaran memecah belah partai.

“Kita para pendiri punya kepentingan agar partai ini tetap eksis, bisa berkembang, dan punya kekuatan politik yang optimal. Salah satu korban dari gejolak internal itu ialah tidak lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen),” kata pendiri dan penggagas Partai Hanura, Yus Usman Sumanegara di Kantor DPP Hanura, kemarin.”

Yus terganggu tudingan kubu Wiranto terkait Musyawarah Nasional (Munas) III Hanura pada 17-19 Desember 2019 disebut abal-abal. Yus menegaskan munas dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. “Yang hadir dalam munas itu peserta dari seluruh DPD, yakni 34 provinsi, juga DPC sebanyak 514. Itu saja, dua komponen itu saja, sudah melebihi 90% dari pemilik suara. Kok tiba-tiba disebut abal-abal,” sesal Yus.

Yus mempertimbangkan langkah hukum selanjutnya bila Wiranto tetap mengklaim sebagai pengurus Hanura.

”Kita harus pelajari dulu (diproses secara hukum). Makanya kita minta supaya menghentikan pernyataan-pernyataan tidak benar,” tegas dia.

Yus juga mengimbau DPP Hanura pimpinan Oesman Sapta Odang (OSO) membuka diri bagi pihak internal yang masih berseberangan. Yus meminta OSO merangkul kembali pihak-pihak yang ingin kembali bergabung dengan partai.

Ketua Dewan Kehormatan Partai Hanura kubu Wiranto, Chaeruddin Ismail, menolak mengakui kepemimpinan OSO. Chaeruddin menuding Munas III Hanura abal-abal.

“Partai Hanura sana itu ialah Partai Hanura abal-abal, tidak sah menurut saya,” kata Chaerud­din.

Chaeruddin mengaku turut memantau pelaksanaan munas secara langsung. Munas disebut tak punya legitimasi. “Masalah anggaran dasar itu semua tidak dipenuhi,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan dualisme kepemimpinan Hanura dinilai cukup serius karena akan berdampak besar di Pilkada 2020 mendatang. Selain itu, adanya dualisme antara kubu OSO dan Wiranto tidak baik karena akan membunuh karakter masing-masing.

“Saya menduga masalah dualisme ini cukup serius. Terlalu berisiko kalau gimik dan dinamika politik biasa karena saling tuduhnya sudah membunuh karakter,” katanya. (Medcom/Iam/P-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More