Selasa 24 Desember 2019, 03:00 WIB

Sigap Deteksi Dini Bencana Lingkungan

Rifaldi Putra/H-2 | Humaniora
Sigap Deteksi Dini Bencana Lingkungan

DOK KLHK
Kementerian LHK meluncurkan mobil laboratorium dalam upaya merespon cepat ancaman pencemaran lingkungan.

 

PULUHAN orang berkerumun di depan halaman kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, kemarin pagi. Pandangan mereka tertuju pada sebuah mobil berwarna putih bertuliskan ‘Mobil Laboratorium P3KLL-BLI-KLHK.’

Dari luar, kendaraan beroda empat dengan pintu geser itu tampak biasa saja seperti mobil-mobil pada umumnya. Namun, begitu pintu dibuka, ternyata isinya tidak biasa.  Ada televisi, laptop, meja kerja, tempat cuci tangan dengan keran air otomatis, peralatan K3, masker, sarung tangan, kacamata pelindung, kulkas mini, dan sejumlah alat yang tampak asing di mata orang awam.  “Kurang lebih ada 38 alat yang ada di mobil ini,” terang Kepala Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) KLHK Herman Hermawan.

Ke-38 alat itu antara lain, TDS/DHL/Salinomater, yaitu alat untuk mengukur salinitas atau kandungan garam terlarut dari suatu larutan--biasa digunakan untuk mengukur tekanan dan suhu larutan. Kemudian, pH meter atau alat elektronik yang berfungsi untuk mengukur pH derajat keasaman atau kebasaan suatu cairan.

Ada pula alat untuk mengukur kadar oksigen terlarut (dissolve oxygen) di dalam air atau larutan (DO meter), serta XRF portable--alat yang digunakan untuk mengidentifikasi serta menentukan konsentrasi elemen yang ada pada padatan, bubuk, ataupun sampel cair.

Menteri LHK Siti Nurbaya menyebutkan, mobil laboratorium lingkungan ini dibuat untuk merespons dugaan kejadian pencemaran lingkungan secara cepat. Pengecekan kualitas udara emisi dan ambien, misalnya, hanya memakan waktu pengecekan paling lama 24 jam. Untuk mendapatkan hasil yang lebih rinci dan akurat, data dan sampel itu akan dibawa ke laboratorium pusat di daerah tersebut dengan waktu paling lama 7 hari.

Laboratorium lingkungan menjadi ujung tombak untuk dapat menyediakan data-data yang diperlukan dalam pengelolaan lingkungan, mengingat kondisi geografis wilayah Indonesia yang luas. “Ini inovasi KLHK untuk memberikan respons secara cepat terhadap kejadian ancaman pencemaran lingkungan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” sebut Menteri Siti, dalam sambutannya yang diwakili Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK Agus Justianto.

Untuk tahap awal, KLHK menyerahkan 5 mobil laboratorium kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Banten, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Balitbang KSDA Samboja Kalimantan Timur, dan juga Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatra untuk Provinsi Riau. Kelima provinsi itu menjadi prioritas karena bencana lingkungan kerap terjadi di sana. (Rifaldi Putra/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More