Senin 23 Desember 2019, 16:56 WIB

Nadiem: Assesment Pengganti UN Akan Distandarisasi

Rifaldi Putra Irianto | Humaniora
Nadiem: Assesment Pengganti UN Akan Distandarisasi

MI/Susanto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim

 

MENTERI Pendidikan Dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menjelaskan asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik yang direncanakan menjadi penggantu Ujian Nasional (UN) pada 2021 mendatang nantinya akan memiliki standar nasional.

"Ya (asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik), akan ada standard nasional nanti kita buat, disini banyak sekali yang salah persepsi karena banyak berfikir assesment ini ditentukan sekolah, tidak itu test dari kita (Kemendikbud). Jadi ada tolak ukur nasional," ungkap Nadiem dalam kegiatan Temu Media, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin, (23/12).

Ia menjelaskan, nantinya proses asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik masih sama seperti UN menggunakan sistem komputer.

"Jadi assemen kompetensi ini nanti prosesnya sama kaya UN, nanti murid dibawa kedepan komputer sama masih harus mengambil satu ujian berdasarkan komputer. Jadi sama saja secara logistic sama kaya UN," jelasnya.

Ia pun mengatakan nantinya asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik ini tidak akan berdampak pada Ujian Sekolah yang menjadi penilaian murid.

"Tidak akan berdampak ke ujian sekolah, asemen hanya berhubungan dengan bagaimana cara kita membantu memperbaiki sekolah itu," tukasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Totok Suprayitno menjelaskan hasil penilaian asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik tidak akan hanya menampilkan angka semata sama halnya seperti Program for International Student Assessment PISA.

"Kira-kira seperti itu, kalau hasil PISA itukan tidak hanya menampilkan angka, yang penting adalah diagnosa deskriptifnya, Perlu saya sampaikan seperti apa model asesment 2021 nanti pada UN 2020 akan kita titipi 5 soal asesment kedepan seperti model PISA ala Indonesia agara guru dan siswa mulai mengenal standardnya tetap sesuai kurikulum," ungkap Totok.

"Tidak peringkat juga ya nanti kalau nilainya itu. Tapi yang jelas kita memiliki informasi yang bisa digunakan untuk perbaikan dimasing-masing sekolah," tukasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More