Minggu 22 Desember 2019, 14:00 WIB

Dunia Fesyen Erat Kaitannya Dengan Pariwisata

Denny Susanto | Nusantara
Dunia Fesyen Erat Kaitannya Dengan Pariwisata

MI/Denny Susanto
Selama ini masih banyak orang Indonesia bangga jika memiliki produk branded luar. Padahal Indonesia memiliki beragam produk lokal yang unik.

 

FESYEN telah menjadi representasi Indonesia dalam dunia pariwisata. Sebagai bagian produk ekonomi kreatif, industri fashion mampu memberikan kontribusi tiga besar dalam produk domestik bruto Indonesia. Hal ini disampaikan Putri Pariwisata Jawa Timur, Yasmin Oktavia, didampingi Manager Elizabeth Area Timur, Herawaty Puspa Dewi, dalam talkshow bertemakan Indonesia as Fashion Tourism, di gerai Elizabeth, Raya Gubeng, Surabaya, Sabtu (21/12/2019) sore.

Yasmin menjelaskan selama ini masih banyak orang Indonesia bangga jika memiliki produk branded luar. Padahal Indonesia memiliki beragam produk lokal dengan menghadirkan keunikan tersendiri.

"Seperti halnya dengan batik dimana tahun ini merupakan tahun kesepuluh diakuinya batik oleh PBB sebagai warisan budaya Indonesia. Jawa Timur sendiri memiliki paling banyak ragam batik berasal dari 38 kota/kabupaten,"tukasnya.

Yasmin yang juga Runner Up Putri Marine 2019 mengajak masyarakat untuk membeli produk lokal yang justru secara value lebih unik.

Seperti halnya Elizabeth yang memproduksi tas perempuan dengan motif batik, perlu diapresiasi mengingat tidak mudah membuat desain batik yang diaplikasikan pada tas. Yasmin menuturkan dirinya lebih suka menggunakan produk lokal. Ini tidak jauh beda dengan orang luar negeri yang juga suka dengan produk unik dari Indonesia seperti batik.

"Jadi lebih baik bangga menggunakan produk lokal dan menghargai karya buatan anak bangsa. Karena secara kualitas cukup bagus dan harga relatif lebih terjangkau," tambahnya.

Sementara Manager Elizabeth Area Timur, Herawaty Puspa Dewi, menjelaskan, jelang akhir 2019 ini, Elizabeth meluncurkan tas motif batik. Ini merupakan upaya Elizabeth ikut melestarikan warisan budaya. Motif batik yang dipilih juga tidak sembarangan agar mudah diaplikasikan pada tas. Elizabeth konsisten menghadirkan produk lokal yang dibuat sendiri di pabrik dengan jumlah karyawan 1.500 orang.

Saat awal berdiri tahun 1963 Elizabeth hanya memproduksi tas, saat ini varian produk semakin banyak, seperti sepatu, busana dan asesoris.

"Kami berharap orang-orang juga dapat menghargai kebudayaan Indonesia melalui fashion. Seperti halnya tas batik yang kami luncurkan, dengan harapan, kebanggaan dan apresiasi terhadap karya asli Indonesia semakin bertumbuh di setiap individu dan terukir di setiap generasi," tegasnya.

baca juga: Minim Peserta, BP Jamsostek Palangka Raya Gandeng Penegak Hukum

Hingga saat ini, Elizabeth memiliki 90 gerai dan akan menjadi 100 gerai pada 2020. Selain menambah gerai di tahun 2020, Elizbeth juga melakukan penjualan via online baik melalui website ELizabeth maupun e-commerce seperti Tokopedia.com.

"Respons pasar Surabaya sendiri cukup bagus. Mayoritas pelanggan loyal. Kami masih ingin menambah dua gerai di Surabaya yakni wilayah timur dan barat," ujarnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More