Minggu 22 Desember 2019, 10:27 WIB

Ibu Berperan Penting Mencetak SDM Unggul

Bayu Anggoro | Humaniora
Ibu Berperan Penting Mencetak SDM Unggul

MI/Bayu Anggoro
Perayaan Hari Ibu dihadiri Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Menteri PMK Muhajir Effendi dan Ketum Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi.

 

PERAN seorang ibu sangat besar dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Pola pengasuhan serta pemberian gizi yang baik akan menentukan masa depan anak. Hal ini disampaikan Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi saat memeringati  Hari Ibu 2019 sekaligus peluncuran buku 30 Penulis Perempuan Hebat,  di Gedung Paguyuban Pasundan, Bandung, Sabtu (21/12/2012).

Acara ini dihadiri Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, serta Rektor Universitas Pasundan (Unpas) Bandung Eddy Jusuf. Menurut Didi, berbagai tantangan menyangkut sumber daya manusia tengah dihadapi bangsa kita saat ini. Salah satunya dengan menurunnya indeks
siswa Indonesia berusia 15 tahun. Akibatnya, menurut dia tingkat literasi pada anak usia sekolah tersebut jadi menurun.

"Matematika menurun, science-nya juga menurun," ucap mantan rektor Unpas Bandung tersebut.

Kondisi ini, lanjut Didi, diperburuk oleh pengaruh negatif gawai terhadap anak-anak sebagai wujud buruknya pengawasan dan pola asuh dari orangtua.

"Dengan jumlah penduduk yang besar, seharusnya SDM mampu menjadi modal utama dalam menjalankan pembangunan," kata Didi.

Oleh karena itu, Didi sangat berharap para orangtua khususnya ibu mampu menjalankan tugas dan fungsi dengan baik.

"Ibu menjadi kunci kesuksesan dari segala perubahan. Ibu adalah penyuluh, perempuan yang selalu memberi percik pemikiran yang cemerlang," katanya.

Didi pun mengajak semua pihak khususnya pemerintah untuk memberi perhatian yang besar kepada kaum ibu.

"Rasul juga menyebut siapa yang harus dihormati? Adalah ibu, ibu, dan, ibu," ucapnya.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memiliki penilaian yang sama. Dia mengakui belum maksimalnya kualitas SDM kita.

Salah satunya karena 54% warga Indonesia yang berusia kerja saat ini pernah mengalami stunting.

"Bank dunia melaporkan dari 196 juta (jumlah penduduk Indonesia berusia kerja), 54%-nya adalah mantan stunting pada masa balita. Dengan begitu kenapa SDM rendah? Karena 54% mantan stunting," katanya seraya menyebut saat ini terdapat 27,4% balita yang stunting.

Selain faktor itu, menurutnya pemerintah pun berupaya meningkatkan kualitas rumah tangga khususnya ibu demi mewujudkan SDM unggul. Sebab, dia menilai rumah tangga yang buruk berpotensi besar menciptakan SDM rendah dan berdampak terhadap kemiskinan.

"Rumah tangga yang miskin sekarang sangat banyak. Maret 2019, 57.116.000. Dari jumlah itu, 9,4% itu rumah tangga yang sangat miskin," katanya.

Untuk mengatasinya, pihaknya menyiapkan program bimbingan pranikah. Sebab, menurut dia warga miskin kemungkinan besar akan menikah dengan pasangan yang juga miskin sehingga akan menciptakan rumah tangga yang miskin.

"Yang miskin cari jodoh dengan yang miskin juga, ini melahirkan rumah tangga miskin baru. Sangat besar itu di lapangan terbukti. Ini harus terus dipotong, kalau tidak, menggila," katanya.

Melalui program itu, nantinya warga yang hendak menikah akan diberi berbagai informasi dan bimbingan. Selain terkait pola asuh, kemandirian ekonomi, hingga keagamaan, menurutnya program inipun fokus menangani kesehatan. Dengan begitu, diharapkan semakin banyak ibu yang memiliki kualitas dan pemahaman yang baik tentang rumah tangga.

"Untuk menghindari generasi yang hilang. Karena begitu anak stunting, jadinya tidak produktif. Malah konsumtif, artinya jadi beban," paparnya.

baca juga: Kemenag: Warga Boleh Merayakan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) mengaku pihaknya sudah melakukan cara untuk meningkatkan kualitas ibu. Salah satunya melalui program  Sekoper Cinta (sekolah perempuan untuk capai impian dan cita-cita). Program ini melatih kaum ibu dari berbagai aspek seperti kesehatan, pola asuh, interaksi sosial, hingga wirausaha.

"Sudah 12 bulan kita sekolahkan ibu dan rumah tangga di 27 kabupaten/kota. Sekarang sudah ada 2.700 lulusan, ada 270 leader (ibu) di desa/kelurahan. Kalau dikalikan lima tahun kepemimpinan kami, ada 13 ribuan perempuan hebat. Saya berharap kemajuan kaum ibu ini bisa menjadi teladan dan inspiratif," katanya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More