Minggu 22 Desember 2019, 08:05 WIB

Presiden Minta Kilang TPPI Tuban Rampung 3 Tahun

Akmal fauzi | Politik dan Hukum
Presiden Minta Kilang TPPI Tuban Rampung 3 Tahun

BIRO PERS SETPRES/KRIS
Presiden Joko Widodo saat meninjau kilang PT Trans Pacifi c Petrochemical Indotama (TPPI) di Kecamatan Jeno, Kabupaten Tuban, Jawa Timur

 

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) beserta Ibu Negara Iriana meninjau kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Kecamatan Jeno, Kabupaten Tuban, kemarin. Kilang TPPI, menurut rencana, akan dikembangkan menjadi industri petrokimia nasional yang menghasilkan bera­gam produk turunan petrokimia dan bahan bakar minyak (BBM).

“Ini merupakan salah satu kilang terbesar di negara kita yang dapat menghasilkan produk aromatik, baik para-xylene, ortho-xylene, bensin, toluene, heavy aromatic, dan juga penghasil BBM, seperti premium, pertamax, elpiji, solar, dan kerosin. Ini bisa untuk semuanya,” kata Jokowi.

Dengan melihat besarnya potensi kilang itu, Presiden langsung menyampaikan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Direktur Utama PT ­Pertamina (persero) Nicke Widyawati, dan Komisaris Utama PT Pertamina (persero) Basuki Tjahaja Purnama untuk segera menyelesaikan kilang itu. Presiden mengatakan dia telah cukup lama menunggu penyelesaian kilang tersebut.

“Tadi saya sampaikan kepada Menteri BUMN, Dirut Pertamina, dan Komut Pertamina agar tidak lebih dari 3 tahun, harus rampung semuanya. Mintanya tadi 4 tahun, 3 tahun harus rampung semuanya. Entah itu dengan kerja sama, entah itu dengan kekuatan sendiri. Saya kira ada pilihan-pilihan yang bisa diputuskan segera. Namun, saya minta nanti pada Januari sudah ada kejelasan mengenai ini karena saya tunggu sudah 5 tahun,” jelasnya.

Kilang TPPI sudah dibangun sejak lebih dari dua dekade, tetapi tersen­dat karena beberapa masalah. Setelah diakuisisi PT Pertamina, TPPI akan dibangun menjadi pabrik petrokimia terpadu. Apabila telah berproduksi secara penuh, kata Presiden, TPPI memiliki potensi yang bisa menghemat devisa hingga US$4,9 miliar atau sekitar Rp56 triliun.

“Ini kalau bisa nanti produksinya sudah maksimal bisa menghemat devisa US$4,9 miliar. Gede sekali. Kurang lebih 56 triliun. Ini merupakan substitusi karena setiap tahun kita impor, impor, impor. Padahal, kita bisa buat sendiri, tapi tidak kita lakukan,” imbuhnya.

Solusi defisit

Seperti diketahui, dalam berbagai kesempatan seperti rapat terbatas, rapat paripurna, hingga rapat dengan kepala daerah, Jokowi berulang kali menyampaikan pentingnya substitusi produk-produk impor, salah satunya petrokimia. Presiden berharap, setelah berproduksi maksimal, industri petrokimia dapat membantu menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia.

“Kita harapkan, kalau ini benar-benar bisa berproduksi maksimal, yang namanya current account deficit, neraca kita akan menjadi jauh lebih baik. Ini salah satu kuncinya ada di sini,” kata Presiden.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati dalam siaran persnya menyatakan peluang pasar bisnis petrokimia di Indonesia sekitar Rp40-Rp50 triliun per tahun. Selain itu, bisnis petrokimia mempunyai margin lebih tinggi ketimbang BBM.

“Pembangunan kompleks industri Petrokimia akan lebih menjamin keberlanjutan bisnis perseroan karena sesuai dengan tren bisnis masa depan,” ujar Nicke. Selain itu, pembangunan industri petrokimia, juga akan lebih efisien karena diintegrasikan dengan kilang, (YK/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More