Minggu 22 Desember 2019, 06:40 WIB

Perkuat Pemberdayaan Perempuan untuk Kemajuan Bangsa

Tesa Oktiana Surbakti | Humaniora
Perkuat Pemberdayaan Perempuan untuk Kemajuan Bangsa

ANTARA/Rahmad
Sejumlah PNS mengenakan pakaian adat melakukan penghormatan pengibaran bendera merah putih pada upacara peringatan Ke-91 Hari Ibu di Aceh

 

PERINGATAN Hari Ibu (PHI) yang jatuh pada 22 Desember bukan sekadar perayaan biasa karena memiliki makna mendalam. Hal itu ditegaskan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga.

“Hari Ibu diperingati sebagai momentum untuk mengenang dan menghargai semangat dan perjuangan kaum perempuan dari berbagai latar belakang dalam pergerakan merebut dan mengisi kemerdekaan. Itu perwujudan keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan bangsa,” ujar Bintang dalam PHI ke-91 yang acara puncaknya berlangsung di Semarang, Jawa Tengah.

PHI bertujuan mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial terhadap makna Hari Ibu sebagai hari kebangkitan dan perjuangan kaum perempuan. Kekuatan itu tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Bintang memandang perempuan dan laki-laki memiliki peran dan kedudukan setara untuk mencapai tujuan negara, berikut memperjuangkan kesejahteraan dalam berbagai aspek pembangunan, seperti bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, sosial, politik, dan hukum.

“Perempuan dan laki-laki harus mempunyai akses yang sama, kesempatan yang sama untuk mengontrol dan berpartisipasi dalam pembangunan. Pada akhirnya, memperoleh manfaat yang sama pula dari pembangunan,” tegas Bintang.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Azriana Manalu berpendapat, makna peringatan Hari Ibu saat ini mengalami pergeseran. “Kongres Perempuan pertama menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu telah berani menyuarakan pandangan politiknya terhadap situasi bangsa. Ruang  sejarah itu yang harus dibangun terutama pada kalangan milenial,” ujarnya ketika menghadiri rangkaian peringatan Hari Ibu di Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Azriana menyampaikan, pergeseran mengenai pergerakan perempuan di Indonesia tidak lepas dari kebijakan Orde Baru. Pada masa itu, ada pembatasan ruang gerak bagi perempuan. Peran perempuan dikembalikan ke dalam rumah dan hanya menangani urusan domestik. “Perempuan dibatasi ruang geraknya pada lingkup paling kecil. Ini menyulitkan ketika dia harus keluar dari lingkup rumahnya,” tuturnya.

Karena itu, ia mengimbau agar anak-anak milenial diajarkan memahami dan memaknai Hari Ibu sebagai pergerakan perempuan. Selain itu, negara perlu mengambil langkah serius untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

Bahkan, katanya, tidak hanya menghapuskan praktik di masyarakat yang berpotensi berdampak pada kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga membentuk perspektif aparat penegak hukum untuk bisa menjalankan penyelenggaraan yang kondusif untuk pemenuhan hak-hak perempuan bebas kekerasan dan diskriminasi. “Momentum Hari Ibu perlu kita gunakan mendorong dihentikannya impunitas bagi pelaku kekerasan seksual untuk disahkannya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.”  


Bonus demografi

Di sisi lain, Bintang mengingatkan, Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020-2035, Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu jumlah penduduk produktif berusia 15-64 tahun lebih besar jika dibandingkan dengan usia tidak produktif berusia di atas 64 tahun.

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 67,9% dari total jumlah penduduk yang diproyeksi 305,6 juta jiwa, terdiri atas 151,3 juta jiwa perempuan dan 154,3 juta laki-laki. Adapun persentase anak usia 0-14 tahun diprediksi mencapai 21,5% atau setara 65,7 juta jiwa.
Artinya pada 2035, persentase perempuan dan anak mencapai 71% dari jumlah penduduk Indonesia. “Jumlah perempuan dan anak yang cukup besar ini merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan. Mengingat posisinya sebagai pelaku, sekaligus pemanfaat hasil pembangunan,” tutur Bintang.

Menurutnya, dengan persentase mencapai 71% dari total jumlah penduduk, sudah sewajarnya pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak menjadi prioritas dalam setiap tahap pembangunan.
Bintang mengutarakan Kementerian PPPA akan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak.
Berbagai terobosan dan inovasi fokus pada beberapa kebijakan atau program prioritas, seperti menguatkan kualitas keluarga dan peningkatan peran utama dalam pencegahan kekerasan. Selain itu, menguatkan pelaksanaan strategi Pengarusutamaan Gender (Pug) dan Pemenuhan Hak Anak (Puha) melalui peningkatan kapasitas SDM pelaksana.

Kebijakan lainnya ialah penguatan sinergi dan jaringan antarkementerian atau lembaga (K/L), pemerintah daerah, pemerintah desa, lembaga masyarakat, berikut dunia usaha. “Tidak kalah penting, menguatkan promosi pemenuhan hak anak melalui kebijakan kabupaten/kota layak anak (KLA),” ujarnya.


Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu ke-91 mengangkat tema Perempuan berdaya Indonesia maju. Menurut Menteri PPPA, tema tersebut sebagai upaya menyelaraskan arah kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, seperti tertuang dalam RPJMN 2015-2019 dan Rancangan RPJMN 2020-2024. “PHI tahun ini dikemas secara kreatif dan inovatif sehingga lebih bernuansa kekinian. Namun, tidak mengubah makna PHI itu sendiri. Nuansa baru diharapkan dapat menarik perhatian kaum milenial dan para influencer agar lebih peduli terhadap isu kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan,” jelas Bintang.

Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan mencakup acara Bincang Bintang pada 27 November-10 Desember 2019. Kegiatan itu berupa dialog antara Menteri PPPA dan para perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro.

Selain itu, pada 9-14 Desember 2019, diselenggarakan Vlog Festival Perempuan Berdaya. Kemasan vlog berbentuk dua hal, yaitu Her Story, yang isinya perempuan berbagi kisah keberhasilan yang didukung keluarga dan lingkungan. Ada juga video dengan konten aktivitas perempuan berdaya yang unik dan inspiratif, dengan gaya live report berdurasi 1 menit.

Masih banyak lagi rangkaian kegiatan Hari Ibu dan puncaknya pada 22 Desember 2019 di Kota Lama, Semarang. (Ind/S-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More