Minggu 22 Desember 2019, 03:10 WIB

Wildlife Insights, Platform AI untuk Konservasi Satwa

MI | Weekend
Wildlife Insights, Platform AI untuk Konservasi Satwa

google
Wildlife Insights, Platform AI untuk Konservasi Satwa

GOOGLE bersama tujuh organisasi pelestarian lingkungan global baru-baru ini merilis platform berteknologi AI yang diberi nama Wildlife Insights untuk membantu upaya konservasi. Platform ini bekerja mengumpulkan data foto-foto kamera penangkap yang diinput peneliti dan ahli biologi dari organisasi-organisasi tersebut dari kawasan hutan di seluruh dunia.

Adapun organisasi lingkungan yang terlibat ialah Conservation International, World Wildlife Fund (WWF), Smithsonian Institution, Map of Life (MOL), North Carolina Museum of Natural Sciences, dan Zoological Society of London (ZSL), termasuk Wildlife Conservation Society di Bukit Barisan, Sumatra.

Menurut data WWF, di seluruh dunia populasi mamalia, burung, ikan, reptilia, dan amfibi telah menyusut 60% sejak periode 1970-an. Sementara itu, sebuah laporan global dari PBB menemukan bahwa 1 juta spesies binatang terancam punah saat ini. Bahkan, banyak di antaranya mungkin akan punah dalam satu dekade ke depan.

Untuk melindungi margasatwa dengan lebih baik, para peneliti dan ahli biologi mulai memanfaatkan kamera sensor gerak untuk memantau jumlah spesies di suatu wilayah beserta pola pergerakan dan aktivitas mereka.

Kamera sensor gerak mengambil sejumlah foto setiap kali dilewati hewan, yang kemudian dimanfaatkan peneliti untuk mempelajari lebih jauh kondisi populasi mereka. Selama bertahun-tahun, ahli biologi menggunakan kamera tersebut untuk mempelajari binatang liar. Namun, mereka belum memiliki cara untuk membagikan dan memadukan data, hingga berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)

“Ini adalah masalah sangat besar dalam hal manajemen data. Para pegiat konservasi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menafsirkan citra atau gambar kamera, yaitu 300-1.000 gambar per jam, sedangkan bila menggunakan AI, akan tersortir 3,6 juta citra per jam,” jelas Program Mana­ger Google Earth Outreach Tanya Birch melalui video conference, Rabu (18/12).

Sensor gerak yang dimiliki organisasi sering kali, di antaranya hanya menunjukkan gambar kosong, menampilkan daun, atau menunjukkan hal tidak signifikan. AI yang dibangun dalam platform Wildlife Insights akan meng­eliminasi gambar kosong dan mengidentifikasi tiap spesies yang tertangkap kamera, meski yang muncul hanya bagian tubuh tertentu seperti ekor.

Sejak 1 Januari 1990-21 November 2019, tercatat 4.555.621 citra tertangkap kamera di berbagai hutan belahan dunia dan menemukan 797 spesies hewan. Untuk di Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Bukit Barisan Sumatra, dari 108.119 citra yang tertangkap kamera—menggunakan trap camera--telah diidentifikasi 52 spesies.  

Platform Wildlife Insights berfokus pada upaya pelestari­an spesies dari tahun ke tahun. Peneliti dapat meng­unggah data ke Google Cloud dan meng­analisis citra dengan model AI pengidentifikasi spesies dari Google, memvisua­lisasikan margasatwa dengan Google Maps, dan membuat laporan untuk membagikan insight ini kepada pihak Iain.

Pada akhirnya, lanjut Tanya, tujuan mereka ialah membantu orang mengambil keputusan yang lebih tepat tentang spesies mana yang membutuhkan perlindungan lebih baik dan lokasi mana yang harus diprioritaskan dalam upaya perlindungan itu.

Platform ini bisa diakses siapa saja, termasuk masyarakat awam, untuk mengetahui, memiliki data, dan meningkatkan kesadaran seberapa banyak satwa yang harus dilindungi dari kepunahan. (Try/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More