Minggu 22 Desember 2019, 02:55 WIB

Robot-Robot yang Membantu Pekerjaan Manusia

Fetry Wuryasti | Weekend
Robot-Robot yang Membantu Pekerjaan Manusia

Dok. Disrupto
Preben Wik, Co-Founder Furhat Robotics, pada saat menjelaskan cara kerja Furhat di Disrupto 2019.

TEKNOLOGI kini semakin berkelindan dengan kegiatan sehari-hari manusia. Dengan bentuk yang juga makin beragam, mereka berperan, dari sekadar pengingat jadwal, membantu menjaga kesehatan, mempermudah pekerjaan dengan komputerisasi, sampai menginfal fungsi sosial manusia.

Beberapa waktu lalu, Indonesia kedatangan sejumlah robot pintar menyerupai fungsi manusia, antara lain robot Furhat, lengan bionik, dan robot Sophia.

Furhat Robotics diklaim sebagai robot ‘sosial’ paling mutakhir di dunia saat ini. Dia diciptakan oleh startup yang berbasis di Stockholm, Swedia. Hanya meletakkan wajah pada interaksi manusia dengan kecerdasan buatan (AI) Furhat, robot sosial ini mampu menampilkan ekspresi dan emosi pada wajah yang dapat disesuaikan.

Furhat dapat berkomunikasi dua arah dengan ekspresi wajah dan gestur natural.

Berbentuk mesin berkepal disertai speaker sebagai bentuk bahu, robot Furhat menggunakan sistem proyeksi untuk menampilkan wajah yang tampak seperti manusia hidup ke tampilan berbentuk kepala.
Robot sosial ini telah diprogram dengan berbagai animasi yang memproyeksikan ekspresi wajah.
Menurut perusahaan, Furhat Robotics, berbicara, mendengarkan, dan bereaksi sesuai manusia hidup, sambil mempertahankan kontak mata. Bot mencapai level ini berkat kamera bersudut tinggi, sudut lebar, dan mikrofon stereo berbentuk balok yang memberikan kesadaran situasional.

Dikutip dari situs perusahaan, mereka memosisikan robot sebagai alat, terutama untuk kebutuhan bisnis dan organisasi. Furhat dapat dipakai untuk berinteraksi dengan pelanggan, melatih karyawan, atau mengajar bahasa. Furhat Robotics sudah bekerja sama dengan perusahaan, seperti Disney, Merck, dan Honda untuk menemukan peran bot di tempat kerja.

Sementara itu, Furhat Robotics menyediakan platform percakapan sosial. Hadir juga robot Tengai yang merupakan gagasan dari Furhat. Perancangnya, TNG, membuat perangkat lunak yang merupakan dasar dari perilaku Tengai dan kapasitasnya untuk melakukan wawancara terstruktur dan berbasis situasional.

Ketika diintegrasikan ke dalam proses rekrutmen, robot sosial AI secara objektif menilai soft skill dan karakter kepribadian melalui wawancara buta. Mesin pengolah bahasa alami Tengai dan analitis wawancara membantu perekrut dan manajer perekrutan untuk membuat keputusan perekrutan yang lebih baik. Wawancara robot diklaim memberikan pengalaman kandidat yang lebih jujur, adil, dan menarik.

Elemen robotik lain tersemat pada sosok manusia Tilly Lockey, 14, seorang remaja bionik yang tengah melanglang buana untuk memberikan inspirasi bagi manusia lain.

Kedua tangan gadis 14 tahun itu dulu diamputasi saat bayi karena suatu penyakit. Setelahnya, dengan melalui serangkaian operasi, ia kini menjadi manusia bionik dengan tangan robot yang menjadikannya bak superhero.

Bionik adalah ilmu yang digunakan untuk mengganti struktur anatomis atau proses fisiologi dengan komponen elektronis atau mekanis, dengan menggunakan reseptor silikon untuk langsung menghubungkan alat buatan dengan saraf.

“Ibu saya dulu berjanji kepada saya bahwa suatu hari saya akan memiliki tangan lagi. Kini, kami telah bekerja dengan orang dan perusahaan, dengan harapan untuk membuat hidup lebih mudah bagi anak-anak yang diamputasi seperti saya,” ujar Tilly dikutip dari website perusahaan teknologi Bristol Open Bionics.

Hadirnya lengan bionik ini membuat pemakai­nya menjadi lebih mandiri, dari makan, minum, menulis, mengetik, bermain gim konsol, dan kegiatan lainnya yang menggunakan tangan.


Ilusi

Sebelumnya, Indonesia juga kedatangan Sophia, robot kecerdasan buatan (AI) humanoid pertama di dunia yang diciptakan Hanson Robotics di Hong Kong. Sophia bisa berinteraksi layaknya manusia.

Sophia diprogram untuk memberikan tanggapan yang telah ditulis sebelumnya terhadap pertanyaan atau frasa tertentu seperti chatbot. Respons ini digunakan untuk menciptakan ilusi bahwa robot mampu memahami percakapan.

Saat di Indonesia, kepada audiensi Sophia menjelaskan pekerjaan apa yang robot mampu dan tidak mampu lakukan. Manusia, kata robot itu, memiliki keunggulan dalam empati, inspirasi, dan kreativitas. Aspek kemanusiaan itu tak terjangkau robot sehingga tenaga manusia tetap dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu.

“Artificial intelligence lebih mampu mengolah angka dan melakukan tugas repetitif, (sementara) untuk menjadi guru atau CEO, kamu perlu memahami apa yang orang lain rasakan,” ujar Sophia.

Sophia menyebut hasil kinerja AI masih sebatas mengelola data yang mereka pahami. Dia juga berharap agar akses setara di dunia pendidikan, teknologi, dan internet semakin meningkat. Tujuan­nya agar semua orang bisa berkontribusi pada perkembangan AI. (Try/M-2)

 

Baca Juga

Instagram @cmbynfilm

Timothee Chalamet Akan Bermain di Sekuel "Call Me by Your Name"

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 13:25 WIB
"Call Me by Your Name" masuk nominasi film terbaik Oscar...
 Angela Weiss / AFP

PBB Minta Pemerintah di Seluruh Dunia Lindungi Perempuan

👤Adiyanto 🕔Senin 06 April 2020, 10:25 WIB
Selama beberapa pekan terakhir ketika tekanan ekonomi dan sosial dan ketakutan telah tumbuh,  pihaknya telah menyaksikan lonjakan...
Lionel BONAVENTURE / AFP

YouTube Pantau Video Konspirasi Palsu Teknologi 5G dan Covid-19

👤Adiyanto 🕔Senin 06 April 2020, 10:01 WIB
Setidaknya, tujuh menara seluler telah dibakar di Inggris, setelah teori konspirasi online secara tidak akurat mengklaim hubungan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya