Minggu 22 Desember 2019, 01:35 WIB

Otoritas Tubuh dalam Humor Khas Ernest

MI | Weekend
Otoritas Tubuh dalam Humor Khas Ernest

Dok. Starvision
Orotitas Tubuh dalam Humor Khas Ernest

BERTUBUH gemuk dan berkulit sawo matang, Rara kerap jadi sasaran perundungan di kantornya. Tempat bekerjanya yang merupakan perusahaan kosmetik seolah digunakan sebagai pemakluman akan pola pikir serbaartifisial di sana.

Begitu kuatnya citra penampilan pada industri itu hingga menjadi ganjalan karier Rara. Meski kemampuannya sebenarnya diakui, sang bos tetap mensyaratkan perubahan penampilan jika Rara mau naik jabatan.

Begitulah inti cuplikan dari film terbaru Ernest Prakasa, Imperfect: Karier, Cinta dan Timbangan. Mulai tayang di bioskop pada Kamis (19/12), film ini diadopsi dari buku karya sang istri, Meira Anastasia, yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-Acceptance (2018).

Melalui buku tersebut, Meira bercerita tentang bagaimana cara seseorang dapat menerima atau berdamai dengan diri sendiri setelah mendapat perun­dungan dari pengguna media sosial. Meira yang berkulit sawo matang kerap dinilai tidak pantas menjadi istri selebritas oleh beberapa netizen.

Di film, sosok Rara diperan­kan aktris yang lama di dunia sinetron, Jessica Mila. Sementara itu, sosok Ernest yang di buku dituturkan sebagai lelaki yang mampu memompa kepercayaan pasangannya dituangkan sebagai sosok Dika (Reza Rahadian) di film.

  Dalam film, penggambaran ‘itik buruk rupa’ dibuat semakin kuat dengan kehadiran sosok adik Rara, Lulu (Yasmin Napper), yang mengikuti gen sang ibu (Karina Suwandi). Seperti ibunya yang peragawati, Lulu bersosok tinggi langsing dan berkulit putih.

Rara akhirnya terpacu untuk mengubah penampilan hingga menjadi sosok seperti yang diinginkan para perisaknya. Di sisi lain, Rara justru kehilangan kebersamaan dengan sahabat dan kekasihnya, yang tampan, dan sesungguhnya bisa menerima Rara apa adanya.

Dari situ, alur film ini bisa jadi layaknya film remaja Holly­wood. Meski begitu, Ernest kembali berhasil menyuguhkan formula segar dan riil sebagaimana yang sukses ia buat di Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal, dan Milly & Mamet.

Dengan dialog, penokohan maupun setting yang memang nyata sehari-hari, film ini tidak menjadi sekadar kampanye anti-bodyshaming yang klise. Bukan hanya itu, candaan dengan kick yang cerdik khas Ernest membuat penonton terbahak sekaligus juga berpikir atau bahkan tersentil.

Penyadaran soal dampak buruk body shaming saat ini memang sedang bangkit di masya­rakat. Orang sudah mulai sadar jika perundungan terkait bentuk tubuh ialah perbuatan tercela. Sebaliknya pula, setiap orang semakin disadarkan pada otoritasnya akan tubuh masing-masing.

Meski begitu, tidak sedikit pula orang yang masih sulit merasakan dampak buruk terhadap korbannya. Maka itu, lewat film ini kita bisa melihat jika candaan atau sindiran yang mungkin terdengar remeh bisa berdampak sangat dalam terhadap seseorang.

Seperti yang Ernest katakan juga saat berkunjung di kantor Media Indonesia, Senin (2/12). “Justru film ini penginnya sedikit memberikan penyadaran juga buat orang yang melakukan itu. Maksudnya mungkin cuma bercanda, setelah nonton film ini bisa melihat sisi sebaliknya bahwa body ­shaming bisa berdampak psikologis yang serius,” tutur sutradara film Milly & Mamet yang masuk di dua nominasi Festival Film ­Indonesia (FFI) 2019.

Meski begitu, catatan khusus dalam film ini justru terletak pada proses transformasi Rara. Tahapannya terasa begitu cepat sehingga semestinya perlu ditambahkan porsi lagi agar penonton dapat lebih merasakan pergulatannya. (Gas/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More