Minggu 22 Desember 2019, 00:55 WIB

Bereksplorasi dengan Sidik Jari

MI | Weekend
Bereksplorasi dengan Sidik Jari

MI/Galih Agus Saputra
Karya Putri Taufi k berjudul Ridges.

BENDA itu memiliki wujud yang tak beraturan. Dari sisi sebelah kiri dan kanan, ia tak memberi barang sedikit perspektif yang dapat dicerna pikiran, begitu juga dari sisi depan. Akan tetapi, siapa sangka jika benda yang terbuat dari bahan akrilik itu ternyata ialah sebuah instalasi seni atau lebih tepatnya merupakan retrospeksi dari sidik jari.

“Ini judulnya Your Layered Perspec­tive, yang mana dari sini saya ingin memberi tahu ke orang-orang bahwa kita ini, walau berbeda-beda tetapi sebenarnya satu. Sebelum membuat karya ini, saya membuat lukisan terlebih dahulu. Judulnya Ridges, terinspirasi dari sidik jari juga, tetapi saya lebih banyak ambil garis-garisnya terus seperti mencoba membuat kolase, selain memberinya dengan sentuhan warna,” tutur seniman itu, yang belakangan diketahui ternyata bernama Putri Taufik.

Putri ialah seseorang yang gemar bereksplorasi dengan persepsi dan waktu. Dalam berkarya, ia sering kali juga mengompromikan media berbasis nonwaktu, yang pada kesempatan selanjutnya turut menjadi dimensi kritis yang terus berkembang.
Instalasi berjudul Your ­Layered Perspective itu ialah salah satu dari sekian banyak karyanya, yang pada kesempatan ini turut dipajang dalam pameran tunggalnya yang berjudul Fingerprint dan berlangsung di DD Designspace, Bintaro, Tengerang, Banten.

Pameran yang berlangsung hingga 7 Desember itu merupakan pameran tunggal Putri yang keempat di Indonesia. Tema Fingerprint (sidik jari) sendiri ia pilih karena sejalan dengan semangat inklusivitas.
“Inclusivity sendiri artinya ialah semua orang yang ada atau hidup dalam satu ruang. Terus dari situ saya kepikiran dengan apa yang semua orang miliki, tetapi berbeda satu sama lain? Nah, dari situlah saya lalu memperdalam bacaan sampai akhirnya tahu bahwa ternyata manusia itu mempunyai lebih dari delapan pattern sidik jari. Berbeda-beda, tapi tetap satu kan,” imbuh seniman kelahiran 1996 itu.

Putri yang semakin keranjingan dengan sidik jari pada mulanya hanya menuangkan goresannya dalam bentuk sketsa. Ia awalnya juga hanya ingin mengeksplorasi satu bentuk sidik jari, tetapi setelah literatur menjelaskan polanya cukup beragam.
Akhirnya, ia buat pula karya yang bermacam-macam, mulai instalasi, lukisan, hingga cetakan (printing) pada kain.

Salah satu cetakan kain yang dibuatnya ialah berjudul Orbit. Karya itu sebelumnya dibuat dengan metal paint yang dilukis di atas kanvas, sementara garisnya dilukis satu per satu. Melalui karya berjudul Orbit itu pula, Putri lantas berharap bahwa orang bisa masuk-keluar di dalamnya sehingga dapat merasakan sensasinya.

“Dan ini sebenarnya adalah hasil dari gambaran saya di skecth book. Jadi, awalnya saya sketsa di buku A3, habis itu saya scan dan masukkan ke komputer. Setelah itu, diedit di Photoshop, jadi ini saya otak-atik warnanya di komputer, sampai terakhir saya print di kain double chiffon ini,” terangnya.

Menurut dia, orang-orang bisa mengetahui kalau sebenarnya mereka ialah bagian dari sesuatu yang besar. “Jadi, kalau mereka masuk ke instalasi ini, mereka bisa merasa seolah-olah terjebak, tapi sesungguhnya kita ini selalu bersama-sama dengan yang lainnya,” kata dia.


Diversity

Selain Orbit, ada juga karya lain yang pada kesempatan ini turut dipajang Putri, yaitu Diversity. Karya ini sebenarnya hampir sama dengan Orbit, hanya cara sajinya cukup berbeda, yang mana turut memberikan sentuhan warna hitam dan putih. Sama halnya dengan Orbit, melalui karya itu, ia juga ingin mengingatkan kepada semua orang bahwa sebenarnya mereka ialah bagian dari sesuatu yang besar. Mungkin selama ini, kata Putri, ada orang-orang merasa dirinya paling tangguh, hebat, kuat, besar, atau tinggi. Sementara itu, pada kenyataannya, manusia sangat beragam dengan sifat, kelebihan, maupun kekurang­an, tetapi tetap dengan kesempatan yang sama.

Cukup menarik, pada kesempatan ini Putri juga membuat lukisan yang cukup reflektif. Dalam sebuah karya berjudul Existing itu, Putri menempelkan sidik jarinya dengan tinta putih di tengah-tengah kanvas yang diselimuti tinta hitam. Warna hitam dan putih dalam lukisan itu, kata Putri, saat ditemui Media Indonesia, Selasa (3/12), merupakan bentuk dari sebuah ekspresi seseorang yang sebenarnya juga sering merasa takut hidup di dunia ini meski banyak yang hidup di sekelilingnya.

“Kita hidup dalam kerja sama meskipun warna hitam dalam lukisan ini melambangkan kesepian,” ujar Putri. (Gas/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More