Jumat 20 Desember 2019, 05:20 WIB

Prospek di 2020 Lebih Cerah

Ihfa Firdausya | Ekonomi
Prospek di 2020 Lebih Cerah

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
HASIL RAPAT DEWAN GUBERNUR BI: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah)

 

PROSPEK perekonomian tahun depan akan lebih cerah ketimbang tahun ini.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pemulihan global yang akan terjadi seiring dengan kemajuan perundingan perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok bisa menjadi pemicu membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,1%-5,5% di 2020. Tahun ini diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,02%.

"Prospek pemulihan global tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan arus masuk modal asing," kata Perry saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, kemarin.

RDG memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 5,00%, suku bunga deposit facility 4,25%, dan suku bunga lending facility 5,75%.

Ia menambahkan prospek perekonomian global juga akan dipengaruhi pemanfaatan daerah tujuan ekspor baru (trade diversion) di negara berkembang, efektivitas stimulus fiskal, dan pelonggaran kebijakan moneter serta kondisi geopolitik.

"Perbaikan ekspor mulai terlihat di triwulan IV 2019 karena pengaruh naiknya ekspor pulp, waste paper, dan serat tekstil ke Tiongkok, ekspor besi baja ke Tiongkok dan ASEAN, serta berlanjutnya ekspor kendaraan bermotor ke ASEAN dan Arab Saudi," ujar Perry.

Dari sisi domestik, perekonomian nasional pada 2020 ikut dipengaruhi penyaluran bantuan sosial yang diproyeksikan lebih tinggi daripada di 2019 dan mampu menjaga konsumsi rumah tangga serta kinerja penyerapan belanja pemerintah untuk infrastruktur.

Selain itu, perbaikan investasi terutama nonbangunan, terutama dari hilirisasi nikel di Sulawesi, diproyeksikan mendorong kinerja investasi pada 2020. .

Perry memastikan dukungan BI terhadap kinerja perekonomian pada 2020 melalui kebijakan moneter yang akomodatif dengan penurunan suku bunga sebanyak empat kali pada 2019, juga relaksasi GWM ataupun kebijakan makroprudensial untuk mendorong konsumsi rumah tangga, investasi, maupun ekspor.

Sinergi fiskal moneter

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis kinerja pertumbuhan ekonomi yang sempat melambat akan kembali positif pada 2020 seiring dengan membaiknya beberapa jenis pajak yang mulai tumbuh positif.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan 5,14% ditopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang terjaga dan pertumbuhan pembentukan modal domestik bruto (PMDB) yang membaik seiring dengan berakhirnya tahun politik dan telah dirumuskannya paket kebijakan terkait dengan peningkatan daya saing dan iklim investasi domestik, seperti undang-undang omnibus law.

" Faktor positif yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di 2020 ialah dampak transmisi kebijakan moneter, seperti penurunan suku bunga acuan dan kenaikan LTV. Selain itu, kebijakan fiskal yang semakin efektif melalui peningkatan kualitas belanja sehingga memiliki dampak multiplier effect yang tinggi," ujar Andry Asmoro. (Ant/Mir/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More