Kamis 19 Desember 2019, 20:52 WIB

Pemakzulan Trump Tuai Reaksi Beragam dari Publik AS

Melalusa Susthira K | Internasional
Pemakzulan Trump Tuai Reaksi Beragam dari Publik AS

AFP
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam kegiatan bertajuk Keep America Great Rally di Kellogg Arena, Battle Creek, Michigan, (18/12).

 

PEMAKZULAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump oleh DPR menuai beragam reaksi publik di negara 'Paman Sam'. Di California yang menjadi jantung perlawanan terhadap Trump beserta kebijakannya, pemakzulan itu disambut sorak sorai oleh sebagian besar penduduknya.

Seorang petugas kebersihan di Broadway, Los Angeles, bernama Gil Bustamante, mengaku menggelindingkan tempat sampah begitu mendengar kabar Trump berhasil dimakzulkan DPR AS.

Baca juga:Putin Sebut Dasar Pemakzulan Trump Dibuat-buat

Bustamante yang sangat menentang Trump, mengatakan ia baru saja berbicara dengan rekan kerjanya terkait peristiwa pemakzulan yang pernah menimpa mantan Presiden AS Bill Clinton karena terlibat skandal seks Gedung Putih.

Bustamante menuturkan, Presiden Clinton berani meminta maaf ketika terbukti memiliki hubungan dengan pegawai magang Gedung Putih. Namum, ia menyebut hal serupa tidak ditemukannya pada Trump.

"Trump pengecut. Dia bahkan tidak akan mengakui apa yang dia lakukan,” tukas Bustamante, Rabu (18/12).

"Dia berlawanan dengan semua orang. Dia telah menyalahgunakan kekuasaan presiden. Dia telah melakukan banyak hal yang tidak dilakukan presiden lainnya," tambahnya.

Bustamante juga mengumpat tuduhan Trump lainnya yang tidak menjadi bagian dari proses pemakzulan. Di antaranya, mengusahakan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016 lalu, mencari publisitas di majalah dan film, menganiaya wanita, dan kesalahan besar yang dilakukannya dalam perdagangan.

"Trump berlawanan dengan semua orang. Dia bukan orang Amerika. Orang Amerika adalah Anda berpegang teguh pada keyakinan Anda dan membantu orang lain, tidak hanya mengabaikan semua orang,” tutur Bustamante.

Adapun seorang warga California lainnya, Rina Sadiqui, mengatakan alasan Demokrat untuk memakzulkan Trump dapat dibenarkan. Meski begitu, ia tidak berpikir pemakzulan merupakan suatu langkah yang tepat.

“Sidang dan pemungutan suara yang akan datang hanya akan memecah belah negara yang sudah terpolarisasi,” ungkap Sadiqui yang tinggal di Irvine.

Sadiqui yang mengaku tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik mengaku berpikir alternatif yang lebih baik bagi Partai Demokrat dan Partai Republik untuk bekerja sama, ketimbang mengadu domba publik AS lewat pemakzulan Trump.

"Jujur saya pikir semua ini adalah lelucon," imbuh Sadiqui.

Pemakzulan Trump di DPR AS juga menuai reaksi yang beragam dari penduduk di wilayah Puget Sound yang terletak di barat laut Seattle, Washington. Beberapa pengunjung pusat kebugaran yang mengikuti jalannya pemakzulan dengan menontonnya dari layar TV sembari berolahraga mengaku mendukung langkah yang diinisiasi Demokrat tersebut.

“Hari ini adalah hari bersejarah. Itu sesuatu yang saya pikir banyak orang akan tertarik untuk mengikutinya, apa pun sudut pandang mereka," ujar Sean Erhardt, pemilik pusat kebugaran Anytime Fitness di Queen Anne.

"Saya pribadi percaya apa yang dia lakukan adalah penyalahgunaan kekuasaan dan itu pantas untuk dimakzulan," saut Helen Holmes.

Lain lagi dengan beberapa orang lainnya yang memutuskan untuk tidak menonton pemakzulan Trump, dengan alasan mereka sudah jengah dengan hal tersebut. Sementara yang lainnya mengatakan sekalipun Trump berhasil dimakzulkan di tingkat DPR yang dikuasai Demokrat, ia tidak akan mungkin dimakzulkan di tingkat Senat yang dikuasai Republik.

"Saya tidak menontonnya hari ini. Saya sedikit lelah. Kami baru saja dibanjiri oleh semua informasi di TV dan radio,” ujar Anita Ertel di Clyde Hill.

"Saya menonton hari ini. Saya pikir itu omong kosong. Saya pikir itu buang-buang waktu. Saya seorang pendukung Trump," pungkas Mick Deal. (latimes/komonews/Uca/A-5)

Baca Juga

AFP/Getty Images/Justin Sullivan

Menlu AS Pertimbangkan Larangan Aplikasi Medsos Tiongkok

👤Antara 🕔Selasa 07 Juli 2020, 19:21 WIB
Sejumlah anggota parlemen AS telah menyampaikan isu tentang kekhawatiran keamanan nasional atas penanganan data pengguna...
AFP

12 Negara Ini Terbebas dari Korona, Mana Saja?

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 07 Juli 2020, 18:40 WIB
Hampir 11,6 juta orang di seluruh dunia kini telah didiagnosis dengan Covid-19, dan lebih dari 537.000 telah...
AFP/Isaac Lawrence

Hong Kong Waspadai Gelombang Ketiga Covid-19

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 07 Juli 2020, 18:11 WIB
Pada Selasa (7/7) ini, ditemukan 14 kasus baru covid-19 dengan 9 kasus di antaranya merupakan transmisi lokal dan tanpa riwayat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya