Kamis 19 Desember 2019, 18:35 WIB

Kemarau Panjang Salah Satu Penyebab Banyak Ular Kobra Muncul

Rifaldi Putra Irianto | Humaniora
Kemarau Panjang Salah Satu Penyebab Banyak Ular Kobra Muncul

ANT/Syaiful Arif
Warga menangkap seekor ular kobra yang masuk wilayah permukiman di Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur.

 

KEMARAU berkepanjangan yang terjadi di Pulau Jawa, khususnya di Jabodetabek. Menyebabkan meningkatnya temuan ular kobra di Indonesia.

Anggota Komunitas Taman Belajar Ular Indonesia, Igor, membenarkan hal tersebut. Ia menilai disebabkan kemarau yang panjang beberapa waktu belakangan membuat telur-telur ular menetas sempurna.

"Biasanya September itu sudah mulai hujan, otomatis si telur ini sudah membusuk duluan. Tapi, karena ini kemarau panjang, Desember kita hujan, jadi ular menetas sempurna," kata Igor di  Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara, Kamis (19/12).

Ia menyebutkan, Desember merupakan masa-masa bagi telur kobra menetas. Namun, dalam kondisi tahun-tahun sebelumnya, tak semua telur kobra bisa menetas sempurna. Sebab, hujan biasanya turun pada September, sehingga sebagian telur ular kobra akan berjamur sehingga gagal menetas.

Sementara itu, anggota Perhimpunan Herpetologi Indonesia, Averroes Oktaliza, mengatakan, menghindari ular kobra dengan cara menabur garam merupakan mitos belaka.

"Itu mitos, saya tekankan ular itu binatang tidak berkeringat jadi otomatis tidak berlendir, hewan yang takut dengan garam itu adalah hewan yang memiliki lendir, jadi ular sebenarnya tidak takut garam karena dia gak punya lendir. Karena kan garam itu sebenarnya dapat mengikat lendir kan sehingga hewan akan mati, sementara ular tidak berlendir jadi ular tidak takut garam," tegas pria yang akrab dipanggil Ave.


Baca juga: Tips Hadapi Nyamuk Bandel Saat Musim Hujan


Ave berpendapat, sejatinya ular lebih takut dengan hal-hal yang wangi seperti minyak wangi, bensin, cairan pembersih lantai, hingga kapur barus.

"Penanggulangan pertama yang pasti kita harus bersih-bersih rumah itu pasti. Karena ular gak suka dengan rumah yang bersih, Nah kemudian ada juga ular tidak suka dengan wangi yang menyengat seperti minyak wangi, bensin, karbol, ular akan takut dengan itu," tuturnya.

"Namun kalau wewangian yang bersifat cair itu kan akan lebih mudah menguap, kalau saran saya lebih baik masyarakat menaburkan sulfur atau kapur barus karena itu kan akan bertahan lama daripada karbol yang bersifat cairan," imbuhnya.

Di sisi Lain, Kasubdit Sumber Daya Genetik Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Moh Haryono, mengimbau kepada masyarakat bila menemukan ular di lingkunganya untuk tidak membunuh binatang tersebut.

"Ini yang perlu kita sosialisasikan ke masyarakat, perlu mempertimbangkan moral dan etik. Jadi kalau ada satwa yang kita sikapi adalah bagaimana kita mengamankan satwa tersebut," ucapnya.

"Jadi tentunya setiap satwa juga punya hak untuk hidup dengan aman, dan makannya kita rasa masyarakat tidak perlu melukai atau sampai membunuh satwa tersebut. Kalau tidak bisa mengamankan secara pribadi tentunya masyarakat melaporkan ke lingkungan dan juga pasti melaporkan ke petugas balai konservasi sumberdaya alam, " tukasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More