Kamis 19 Desember 2019, 11:49 WIB

Terowongan di Curug Jompong Kurangi Banjir di Dayeuhkolot

Bayu Anggoro | Nusantara
Terowongan di Curug Jompong Kurangi Banjir di Dayeuhkolot

MI/Bayu Anggoro
Warga Dayeuhkolot berusaha membuat saluran air agar mempercepat surutnya air di depan rumahnya.

 

GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) menyebut banjir di Dayeuhkolot dan Baleendah, Kabupaten Bandung tidak akan separah tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan sudah berfungsinya terowongan air di Curug Jompong, Kabupaten Bandung. Meski pembangunannya belum rampung 100%, menurut Emil sudah difungsikan untuk meminimalisasi banjir.

"Saya laporkan, kemarin Terowongan Nanjung sudah dibuka," katanya di Bandung, Kamis (19/12/2019).

Dengan dibukanya terowongan itu, menurutnya banjir di Dayeuhkolot akan lebih cepat surut.

"Luar biasa, surutnya air di Dayeuhkolot lebih cepat dibanding sebelumnya," kata dia.

Pembukaan yang dipercepat ini menurutnya diperlukan agar genangan banjir tidak separah dahulu. Meski begitu, memang tidak bisa mencegah banjir 100% karena terowongan yang dibuka baru satu.

"Satu lagi belum dibuka karena lagi finishing. Kemarin pun terowongan dibuka secara manual, harusnya kan mekanis," katanya.

Dia menegaskan, pembukaan terowongan ini merupakan instruksi dirinya dengan harapan banjir tidak akan parah karena air lebih cepat surut.
 
"Jadi Insya Allah, Citarum walau ada luapan, surutnya lebih cepat," lanjut Emil.

Sebelumnya, proyek terowongan Curug Jompong di Desa Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung akan tuntas pada akhir tahun ini. Pembangunan yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini bertujuan untuk mempercepat aliran air menuju Waduk Saguling sehingga bisa meminimalisasi banjir yang ditimbulkan setiap musim hujan.

Kepala BBWS Citarum Bob Arthur mengatakan, dengan akan beroperasinya terowongan air Curug Jompong, aliran Sungai Citarum dari kawasan hulu akan semakin lancar. Dengan begitu, dia berharap potensi banjir di Kabupaten Bandung bisa ditekan meski tidak menjangkau semua kawasan.

"Sekarang sudah 95% terowongan selesai," kata Bob.

Dia menjelaskan beroperasinya terowongan air Curug Jompong ini mampu mengurangi banjir hingga 700 hektare. Jika biasanya bencana tersebut menggenangi 3.500 hektare di wilayah Kabupaten Bandung, diprediksi jumlahnya akan berkurang menjadi 2.700-2.800 hektare.

"Jumlah kepala keluarga yang terbebas banjir sekitar 14 ribu KK," katanya.

Meski tidak semua wilayah akan terbebas banjir, dia berharap keberadaan terowongan air ini bisa mempercepat genangan air di sejumlah daerah.

"Setidaknya terowongan air ini bisa mempercepat genangan. Banjir tetap, tapi genangannya tidak akan lama, karena air di sungai mengalirnya jadi lebih cepat," kata Bob Arthur.

Ia menambahkan biasanya genangan banjir berpekan-pekan, kini bisa surut hanya dalam hitungan hari.

Terowongan air ini memiliki dua pipa yang masing-masing berukuran panjang 230 meter dengan diameter 8 meter. Dengan begitu, menurutnya terowongan ini mampu mengalirkan air dari Sungai Citarum hingga 700 m3/detik.

"Masing-masing terowongan 350 m3/detik," katanya.

Selain bisa mempercepat aliran air, terowongan di Curug Jompong inimampu menarik material sedimentasi yang ikut terbawa air. Sebab, terowongan ini memiliki kolam penyimpan sedimentasi yang mampu menampung hingga 6.000 m3.

"Jadi selain bisa mempercepat air, juga bisa menjadi penangkapan sedimentasi," katanya.

baca juga: Kapolda Jabar dan Pangdam Siliwangi Jamin Keamanan Perayaan Natal

Pada Rabu (18/12) malam, Dayeuhkolot kembali direndam banjir. Tinggi air di sejumlah kampung mampu mencapai 1,5 meter. Warga terpaksa harus menggunakan perahu untuk beraktivitas ke luar rumah. Sejak dibukanya terowongan air di Curug Jompong, ketinggian air menyusut lebih cepat.

"Tapi nanti kalau hujan lagi, naik lagi," kata Fandy Irawan, warga Dayeuhkolot saat dikonfirmasi. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More