Kamis 19 Desember 2019, 10:00 WIB

Penipu Rumah Syariah Umbar Kekayaan untuk Yakinkan Korban

Candra Yuri Nuralam | Megapolitan
Penipu Rumah Syariah Umbar Kekayaan untuk Yakinkan Korban

ANTARA/Galih Pradipta
Korban kasus sindikat mafia perumahan syariah menunjukan bukti transaksi pembelian rumah saat hadir dalam rilis kasus di Polda Metro Jaya.

 

PENIPU penjualan rumah bermotif syariah, Moch Arianto, Suswanto, Cepi, dan Supikatun, menggunakan kekayaan untuk meyakinkan korban mereka. Mereka semua mengaku mempunyai 16 mobil dan kantor di kawasan elite kepada korban agar korban percaya.

"Dia memperlihatkan kepada konsumen termasuk kantor di Kebayoran Square yang katanya miliknya," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (18/12).

Yusri mengatakan kantor itu bukan milik keempat pelaku. Dia mengatakan keempat pelaku hanya menyewa kantor tersebut. Mobil yang diakui mereka juga sewaan.

Yusri juga mengatakan uang Rp40 miliar yang sudah dikumpulkan para pelaku akan digunakan untuk pembebasan lahan.

Baca juga: Razia Pajak di Jakut, Mobil ASN dan Mobil Dinas Terjaring

Hingga saat ini, polisi masih mendalami keterangan pelaku untuk mengetahui kemungkinan ada uang lain yang belum diketahui.

"Pengakuan mereka, uang itu digunakan untuk pembebasan lahan, ada juga bayar pegawai, dan administrasi," ujar Yusri.

Sebanyak 3.680 warga menjadi korban penipuan mafia perumahan berbasis syariah. Bisnis perumahan bernama Amanah City Islamic Super Block tersebut meyakinkan para korban dengan menawarkan penjualan rumah sistem syariah.

Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah menangkap empat tersangka di kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan modus para tersangka melakukan penipuan dengan mempromosikan dan memasarkan perumahan tersebut melalui iklan dan brosur.

"Pihak pengembang, PT Wepro Citra Sentosa, menjanjikan para pembeli mendapatkan rumah di Desa Garut Kecamatan Serang, Banten pada Desember 2018. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, ternyata rumah yang dijanjikan tersangka tidak pernah dibangun," kata Gatot di Polda Metro Jaya, Senin (16/12).

Di samping rumah tidak pernah dibangun, uang para korban juga tidak dikembalikan oleh tersangka hingga diketahui para tersangka melarikan diri.

Atas pebuatan mereka, para tersangka dijerat pasal berlapis. Sejumlah pasal yang dikenakan yaitu Pasal 378 KUHP, Pasal 372 KUHP, Pasal 137 juncto Pasal 154, Pasal 138 juncto Pasal 45 juncto Pasal 55, Pasal 139 juncto Pasal 156, Pasal 145 juncto Pasal 162 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan.

Selain itu pelaku dijerat Pasal 3, 4 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Ancaman hukumannya, pidana penjara paling lama 20 tahun. (OL-2)

Baca Juga

Antara/Aprilio Akbar

Pemotor yang Berteduh di Bawah Jembatan Layang Akan Dipidana

👤Rahmatul Fajri 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 01:35 WIB
Hal itu terlihat dengan adanya rambu dilarang berhenti yang terpasang di pinggir...
MI/Fransisco Carolio Hutama Gani

Polisi Cek CCTV Cari Pelaku Begal Perwira Marinir saat Bersepeda

👤Rahmatul Fajri 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 00:28 WIB
"Kita identifikasi diduga ada 2 motor dari CCTV, tapi masih kita dalami dari dua motor itu, karena arahnya sama," kata...
Antara

Pemprov DKI Klaim Siap Antisipasi Banjir

👤Anis Putri Yuliani 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 22:50 WIB
"Prinsipnya Pemprov DKI Jakarta akan terus mengupayakan, memastikan tidak ada warga yang terdampak genangan lagi," pungkas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya