Rabu 18 Desember 2019, 23:51 WIB

Kasus Jiwasraya, Jaksa Agung: Kerugian Negara Rp13,7 Triliun

Kasus Jiwasraya, Jaksa Agung: Kerugian Negara Rp13,7 Triliun

Antara
Warga melintas di depan kantor Asuransi Jiwasraya di Jalan Juanda, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

 

KERUGIAN negara dari dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) hingga Agustus 2019 diperkirakan mencapai Rp13,7 triliun.

"Ini masih perkiraan awal dan diduga ini akan lebih dari itu," kata Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam keterangan pers di Gedung Jaksa Agung RI di Jakarta Selatan, Rabu (18/12).

Jaksa Agung ST Burhanuddin. (Antara)

Menurut dia, potensi kerugian itu timbul karena adanya tindakan melanggar prinsip tata kelola perusahaan menyangkut pengelolaan dana yang dihimpun melalui program asuransi saving plan.

Jiwasraya, ungkap dia, melanggar prinsip kehati-hatian dalam melakukan investasi pada aset yang berisiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi pula.

Investasi asuransi BUMN itu di antaranya penempatan saham sebanyak 22,4% senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah itu, lanjut dia, sebesar 5% dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik dan 95% ditempatkan di saham yang berkinerja buruk.

Selain itu, korporasi juga berinvestasi di reksadana sebanyak 59,1% senilai Rp14,9 triliun.

Dari jumlah itu, sebanyak 2% persen dikelola manajer investasi Indonesia berkinerja baik dan 98% dikelola manajer investasi berkinerja buruk.    

Akibatnya, lanjut dia, asuransi Jiwasraya saving plan mengalami gagal bayar terhadap klaim jatuh tempo dan sudah diprediksi BPK sesuai laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan bisnis asuransi investasi, pendapatan dan biaya operasional.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) sudah menerbitkan surat perintah penyidikan nomor 33/F2/FG2/12 tahun 2019 pada 17 Desember 2019.    "Penyidikan itu dilakukan untuk memperoleh fakta adanya kegiatan investasi yang melibatkan grup tertentu, ada 13 grup di 13 perusahaan yang melanggar prinsip tata kelola perusahaan (GCG)," katanya.

JAM-Pidsus Adi Toegarisman menambahkan perkara itu ditangani Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada Juni 2019 dan hingga saat ini sudah memeriksa 89 orang. Namun, karena menyangkut beberapa wilayah lebih luas dan kasus yang besar, kasus itu kini ditangani Kejaksaan Agung RI.

"Kami sedang mengerjakan di tahap penyidikan. Kami kumpulkan alat bukti untuk membuktikan termasuk akan koordinasi tentang perhitungan kerugian negara dengan lembaga yang punya kewenangan," katanya. (X-15)

Baca juga: Pemerintah Bawa Jiwasraya ke Ranah Hukum

Baca juga: Demokrat tidak Terima SBY Dibawa-bawa Dalam Kasus Jiwasraya

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More