Kamis 19 Desember 2019, 01:40 WIB

Kemenangan untuk Gerakan Me Too

(AFP/X-11) | Internasional
Kemenangan untuk Gerakan Me Too

Photo by CHARLY TRIBALLEAU / AFP)
Wartawan Jepang Shiori Ito meneteskan air mata ketika dia berbicara kepada wartawan di luar pengadilan distrik Tokyo pada 18 Desember 2019

 

PENGADILAN Tokyo telah memberikan ganti rugi sebesar 3,3 juta yen atau sekitar Rp420 juta kepada jurnalis Shiori Ito. Ito menggugat seorang mantan wartawan Jepang yang telah memerkosanya. Kasus pemerkosaan tersebut menjadi yang paling terkenal dari Me Too di Jepang, sebuah gerakan melawan pelecehan dan kekerasan seksual.

Dalam persidangan, Ito menggugat 11 juta yen dari Noriyuki Yamaguchi yang merupakan mantan reporter di Tokyo Broadcasting System Television Inc. Ito menuduh Yamaguchi, yang memiliki hubungan dekat dengan Perdana Menteri Shinzo Abe, telah memerkosanya setelah mengundangnya makan malam untuk membahas peluang kerja pada 2015.

Yamaguchi membantah melakukan perbuatan tersebut dan telah mengajukan tuntutan balik terhadap Ito dan meminta ganti rugi 130 juta yen.

"Kami menang. Tuntutan balik ditolak," ujar Ito di luar pengadilan sembari memegang spanduk bertuliskan 'Kemenangan', kemarin.

Sebelum putusan itu dibacakan, Ito mengatakan kepada media bahwa ia telah menerima dukungan luas atas gugatan yang dilayangkannya tersebut.

Ito yang angkat suara pada 2017 mengaku dipandang aneh, terutama di Jepang, atas keberaniannya menyuarakan kasus pemerkosaan tersebut. Namun, ketika gerakan Me Too muncul tak lama setelahnya, ia merasa tak sendirian.

Ito mengatakan masalah utama di media Jepang ialah tingginya proporsi laki-laki dalam posisi pengambilan keputusan.

Namun, ia menambahkan bahwa situasinya telah mulai berubah dengan kisah pelecehan di luar negeri yang muncul di Jepang ataupun tentang kisahnya yang diberitakan di luar negeri.

Selain itu, Ito mengatakan bahwa 'penderitaan dalam diam' dianggap sebagai kemuliaan dalam budaya Jepang.

"Saya dibanjiri dengan penghinaan dan ancaman. Namun, yang paling memantik saya ialah beberapa e-mail dari para wanita yang mengatakan saya seharusnya malu karena mengungkapkan semuanya," tutur Ito.

Ito meyakini tersangka pemerkosanya telah melancarkan aksi dengan membiusnya lalu mengklaim polisi telah gagal menguji zat. Ia menyebut polisi membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memulai penyelidikan kriminal atas laporannya dan mengaku kepadanya bahwa akan menangkap Yamaguchi. Namun, nyatanya mereka tiba-tiba mundur.

Kasus perdata itu lantas menjadi berita utama di Jepang dan juga luar negeri karena sangat jarang bagi korban pemerkosaan untuk melaporkan kejahatan tersebut ke polisi. Menurut survei pemerintah pada 2017, hanya 4% wanita yang melapor. (AFP/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More