Rabu 18 Desember 2019, 21:34 WIB

Bea Cukai Masih Dalami Kasus Penyelundupan Kendaraan

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Bea Cukai Masih Dalami Kasus Penyelundupan Kendaraan

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.
Menkeu Sri Mulyani bersama Kapolri Jenderal Idham Azis melihat mobil mewah Porche GT3RS selundupan di Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta

 

KEPALA Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro mengatakan, pihaknya masih meneliti kasus penyelundupan kendaraan mewah yang dipublikasikan pada Selasa (17/12).

Setelah proses penelitian selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya masuk pada penyidikan dan penuntutan. Dalam kasus penyelundupan PT SLK dan PT TJI, kata Deni, status kendaraan tersebut sementara dikuasai oleh negara.

"Statusnya saat ini menjadi dikuasai negara, sembari berjalan, nanti putusan pengadilan nanti memutuskan terhadap pelaku dan barangnya. Untuk barang ada beberapa skema, dihibahkan, dilelang atau dimusnahkan, tergantung pada putusan pengadilan," kata Deni saat dihubungi, Rabu (18/12).

Diketahui, PT SLK menyelundupkan mobil Porsche GT3RS dan Alfa Romeo yang didatangkan dari Singapura. Nilai dua mobil mewah itu diperkirakan mencapai Rp2,9 miliar dan potensi kerugian negara yang disebabkan mencapai Rp6,8 miliar. Mobil selundupan itu kini tengah diinvestigasi oleh Bea dan Cukai sebagai bentuk tindaklanjut.

Sementara PT TJI menyelundupukan Mercedez Benz, BMW tipe CI330 model GH-AU30, BMW tipe CI330 Series E46, Jeep TJ MPV, mobil Toyota Supra, mobil Jimny, 8 rangka motor, 8 mesin motor dan motor Honda Motocompo dari Jepang. Perkiraan nilai barang yang diselundupkan PT TJI mencapai Rp1,07 miliar.

Dalam dokumen manifes tertanggal 29 Juli 2019, PT TJI hanya menyatakan barang yang diimpor ialah fornt bumper assy, rear bumber, door assy, dashboard assy dan engine hood. Potensi kerugian negara yang dilakukan PT TJI ditaksir mencapai Rp1,7 miliar

"Berkas perkara atas kasus ini (PT TJI) telah lengkap dan seorang berinisial SS telah ditetapkan sebagai tersangka," jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (17/12).

Lebih lanjut, Deni mengatakan, pihaknya akan segera membentuk tim khusus bersama dengan Kementerian Perhubungan, kepolisian dan kejaksaan guna mengantisipasi penyelundupan.

"Segera, sesuai arahan pimpinan akan dibentuk yang bersinergi antara BC, perhubungan, kepolisian dan kejaksaan supaya bisa menangani perkara seperti ini lebih efekti/Kalau selama ini sesuai dengan fungsi masing-masing, kemarin masih BC, tapi kemarin kita juga sudah bersinergi walaupun belum dalam satu perangkat khusus," jelasnya.

Berdasarkan data Bea Cukai, dalam skala nasional, kerugian negara akibat penyelundupan mobil dan motor mewah selama 2019 diperkirakan mencapai Rp647,5 miliar.

Nilai itu merupakan total dari nilai barang yang diselundupkan hingga Rp312,92 miliar untuk mobil dan Rp10,83 untuk motor ditambah dengan besaran potensi pajak yang seharusnya dibayarkan oleh barang-barang selundupa tersebut.

Komponen perpajakan dan kepabenan yang seharusnya dibayarkan yakni bea masuk dengan besaran 40% hingga 50% dari nilai barang; Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 125%; Pajak Penghasilan sebesar 2,5% hingga 7,5% serta Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%. (Ol-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More