Rabu 18 Desember 2019, 20:33 WIB

Eksplorasi Seni Berbasis Teknologi Terbaru di Wave of Tomorrow

mediaindonesia.com | Humaniora
Eksplorasi Seni Berbasis Teknologi Terbaru di Wave of Tomorrow

Istimewa
Festival seni, teknologi, dan musik, terbesar di Indonesia dengan tema 'Wave of Tomorrow' di di The Tribrata, Dharmawangsa,Jakarta.

 

DI era digitalisasi, industri seni turut terpapar dengan beragam inovasi teknologi yang membuat pelakunya semakin tertantang untuk bereksperimen dengan karya.

Sayangnya, tidak banyak ruang bagi para seniman progresif untuk bisa memamerkan karya mereka yang berbasis teknologi digital dan tetap diapresiasi sebagai sebuah bentuk seni. Berbagai festival seni media baru atau multimedia berskala besar masih kerap ditemui di Eropa, Amerika Serikat, atau Tokyo.

Namun kini geliat seni media baru di Indonesia semakin hidup dengan adanya inspirasi dari Wave of Tomorrow. Festival seni, teknologi, dan musik, terbesar di Indonesia tersebut baru saja mengumumkan daftar para seniman dan musisi yang terlibat serta informasi penyelenggaraannya di The Tribrata, Dharmawangsa, Kebayoran, Jakarta, pada 20-29 Desember 2019.

Adapun sederet kreator yang terlibat yaitu Rubi Roesli, Sembilan Matahari, Kinara Dharma x Modulight, Maika, U Visual, Ricky Janitra, Motionbeast, Notanlab, Farhanaz Rupaidha, dan beberapa international artists yaitu Nonotak, Tundra, Ouchhh, dan Jakob Steensen.

Mona Liem, seorang artpreneur dan kurator Indonesia yang berdomisili di Swiss, merupakan figur di balik penentuan line up kreator dan turut andil dalam merancang konsep Wave of Tomorrow.

Di tengah persiapannya untuk Wave of Tomorrow, Mona membeberkan bahwa festival yang memasuki tahun kedua tersebut akan membawa berbagai transformasi karya dari para kreator progresif.

“Publik mungkin sudah mendengar bahwa Wave of Tomorrow akan hadir kembali. Namun yang mungkin mereka belum benar-benar tahu, bahwa Wave of Tomorrow kali ini akan semakin interaktif dengan berbagai karya multidisiplin yang ahead of its time," ujar Mona di Jakarta, Rabu (18/12).

"Bahwa kami memilih para kreator yang terlibat berdasarkan progress mereka. Contohnya Sembilan Matahari, dari yang tadinya dikenal sebagai visual mapping artists, kini bereksplorasi dengan instalasi kinetik dan robot," tutur Mona.

"Lalu Kinara Dharma yang tahun lalu menghadirkan visual mapping interaktif, kini akan membangun sebuah instalasi audio visual dengan eksperimen sosial,” jelas Mona.

Lebih lanjut ia juga menerangkan bahwa demi menghadirkan sebuah pengalaman yang unik dan penuh transformasi, Mona tidak hanya menantang para kreator tanah air untuk bereksperimen. Namun ia turut membawa award-winning artists dengan karya fenomenal yang menginspirasi.

Permainan audiovisual 

Instalasi audiovisual mungkin akan banyak ditemui di area eksibisi Wave of Tomorrow. Namun sebuah kolektif multidisiplin asal Rusia, Tundra, mampu mengisi lanskap ruang berskala besar dengan teknik audiovisual yang dimainkan di hamparan rumput sintesis.

Karya bertajuk The Day We Left Field tersebut kini sedang ditampilkan di Prosvet Festival, Rusia dan Manhattan, New York, Amerika Serikat (AS). Namun dengan adanya Wave of Tomorrow, para insan kreatif tanah air bisa menikmati karya teranyar dari Tundra tersebut tanpa harus berkunjung jauh.

Tundra yang pernah mengantongi Event of The Year Award 2018 di Moskow, Rusia, sebelumnya banyak bermain dengan audiovisual projection yang ditampilkan secara langsung seperti NOMAD Live di Roma (Italia), Moskow (Rusia), Augsburg (Jerman), dan London (Inggris).

Melalui karya ‘The Day We Left Field’, kolektif yang terdiri dari visual artist, programmer, musisi, dan sound engineer tersebut, seakan ingin menyisipkan pesan mendalam melalui pengalaman audiovisual yang lebih intens.

Mereka ingin membuat para pengunjung larut dan mampu berlama-lama berada di dalam instalasi tersebut serta menantang realita dengan imajinasi, melalui harmonisasi alam yang dibawa ke dalam lanskap urban.

Artificial intelligence untuk visualisasi

Di antara 14 karya ahead of its time yang akan mengisi Wave of Tomorrow, akan terdapat sebuah masterpiece yang mengisi area tengah eksibisi. Karya tersebut bertajuk Data Gate dari studio kreatif asal Istanbul, Ouchhh, yang merupakan 360° visual projection pada sebuah kubus raksasa dengan konten yang divisualisasikan melalui artificial intelligence atas data kepler hasil riset NASA.

Permainan AI tersebut merupakan karya seni publik pertama yang menggunakan data astronomi NASA bahkan mampu menjuarai Muse Creative Award USA 2019.

Melalui ‘Data Gate’, Ouchhh kembali membuktikan kemampuan mereka dalam menyatukan seni, teknologi, dan sains. Mereka ingin membuat publik berkontemplasi melalui ‘Data Gate’ yang seakan mampu membuka gerbang antargalaksi dan melihat fenomena astronomi secara intens.

Penyajian data yang seakan saling berinteraksi bahkan dengan pengunjung, merupakan keutamaan dari karya-karya terbaru Ouchhh.

Sehingga Ouchhh yang sebelumnya mengawali karier sebagai visual mapping artist kini sukses membawa berbagai karya mereka ke publik internasional dan diakui sebagai sebuah eksibisi AI terbesar di dunia melalui Iconic Award Paris 2019 dan Reddot Award Jerman 2019. (OL-09)

Baca Juga

Tim media JK

JK Pantau Penyemprotan Disinfektan di Johar Baru dan Kalibata

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 17:46 WIB
"Penyemprotan disinfektan ini cukup efektif untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid 19. Hal ini juga dilakukan di Tiongkok...
MI/Pius Erlangga

BPJS Akui belum Turunkan Iuran JKN karena Alasan ini

👤Henri Siagian 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 17:37 WIB
Menurut dia, MA belum memberikan salinan resmi terkait putusan uji materi Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun...
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Pemerintah Pusat Siap Distribusikan Lagi 170 Ribu APD

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 17:00 WIB
Yurianto menyatakan separuh dari 170 ribu APD tersebut telah didistribusikan ke wilayah yang tinggi penyebaran...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya