Rabu 18 Desember 2019, 20:15 WIB

Sehati TeleCTG Bantu Pemeriksaan Ibu Hamil di Pelosok

Eni Kartinah | Humaniora
Sehati TeleCTG Bantu Pemeriksaan Ibu Hamil di Pelosok

Istimewa
Sehati Group, penyedia solusi layanan kesehatan jarak jauh, meluncurkan program Sehati TeleCTG.

 

ANGKA kematian ibu (AKI),  angka kematian bayi (AKB), dan stunting menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. Jumlah AKI di Indonesia masih 305 jiwa per 100.000 ibu, sedangkan AKB 24 jiwa per 1.000 bayi.

Adapun angka stunting di Indonesia 30,8%. Angka itu masih jauh dari batas maksimal stunting yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%.

Salah satu kendala dalam memperbaiki kesehatan ibu dan bayi, terutama di daerah pelosok, ialah sulitnya ibu dan bayi menjangkau layanan kesehatan yang memadai.

Untuk membantu mengatasi masalah itu, Sehati Group, penyedia solusi layanan kesehatan jarak jauh, meluncurkan program Sehati TeleCTG.

TeleCTG adalah layanan kesehatan maternal jarak jauh terpadu, berbasis inovasi dan teknologi tepat guna, yang secara sinergis memberikan informasi lengkap dan real time mengenai kehamilan.

“Solusi Sehati TeleCTG terdiri dari aplikasi Ibu Sehati, Bidan Sehati, TeleCTG Sehati, Dashboard Sehati, dan Pusat Konsultasi yang dapat digunakan oleh ibu hamil, bidan, dokter kandungan, maupun pemerintah pusat dan daerah dalam membuat keputusan, kebijakan, dan proyeksi lebih jelas,” ujar dr Ari Waluyo SpOG, Co-Founder & Chief Executive Officer Sehati Group, dalam temu media di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Salah satu layanan yang penting dalam program itu ialah pemeriksaan kehamilan oleh bidan setempat. Pemeriksaan itu mencakup penggunaan alat pemeriksa denyut jantung janin atau CTG portable. Hasil pemeriksaan tergambar dalam grafik yang akan muncul di layar ponsel si bidan.

Data itu, bersama hasil komponen pemeriksaan lainnya, akan terkirim ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang ada di kota, untuk dianalisis. Dengan demikian, dokter bisa memberikan analisis mengenai kesehatan si ibu hamil, apakah perlu mendapat penanganan khusus atau tidak.

Mendeteksi faktor risiko

Pada kesempatan sama, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat,  dr Deden Bonni Koswara mengatakan pihaknya menggunakan Sehati TeleCTG sebagai salah satu upaya intervensi AKI, AKB dan stunting di wilayah Indramayu.

Melalui layanan kesehatan maternal ini, para bidan terbantu dalam mendeteksi faktor risiko ibu hamil, serta melakukan intervensi tepat sasaran sehingga dapat dikelola dengan baik.

“Sehati TeleCTG telah membantu 126 bidan, 892 ibu hamil, dan mendeteksi 167 ibu hamil berisiko. Penggunaan aplikasi Sehati TeleCTG di Kabupaten Indramayu ikut berperan dalam penurunan AKI dan AKB yang cukup signifikan, yaitu AKI yang pada 2018 sebanyak 61 jiwa, menurun menjadi 34 jiwa pada 2019. Sedangkan AKB yang semula 242 jiwa pada 2018, menurun menjadi 215 jiwa pada 2019,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Pengelola KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Mariana A. Sailana, STr Keb. Ia mengungkapkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang juga telah menggunakan solusi Sehati TeleCTG di 14 puskesmas sejak Desember 2018.

“Dengan teknologi Sehati TeleCTG, sebanyak 47 bidan berhasil memeriksa 1.471 ibu hamil, dan mendeteksi 991 ibu hamil berisiko. Kami juga berhasil menurunkan AKI dari sebelumnya 8 jiwa menjadi 5 jiwa. Faktor risiko kehamilan yang umumnya kami deteksi adalah anemia, kehamilan terlalu dekat, serotinus, kurangnya nutrisi ibu dan usia terlalu tua,” tuturnya. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More