Rabu 18 Desember 2019, 18:25 WIB

Datangi KPK, Sekretaris MA Ngaku Hanya Serahkan SK Pejabat

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
Datangi KPK, Sekretaris MA Ngaku Hanya Serahkan SK Pejabat

MI/Rommy Pujianto
Sekretaris MA Setyo Pudjoharsoyo

 

SEKRETARIS Mahkamah Agung (MA) Achmad Setyo Pudjoharsoyo memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun, dia mengaku tidak diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan kasus suap dan gratifikasi yang menjerat eks Sekretaris MA Nurhadi.

"Saya tidak diperiksa sebagai saksi. Hanya ingin menyerahkan surat," ucap Setyo saat keluar dari Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/12) sore.

Ia mengaku surat yang diserahkannya itu ialah surat keputusan (SK) pengangkatan, pemberhentian, dan pengangkatan pelaksana tugas (Plt) di lingkungan MA. Namun, ia tak merinci SK yang diserahkannya kepada penyidik itu.

Pernyataan Achmad bertolak belakang dengan jadwal pemeriksaan dirilis KPK. Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan Setyo diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto (HS).

"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk tersangka HS (Hiendra)," kata Yuyuk.

Baca juga : Artidjo Diisukan Dewas, KPK: Pengawasan Lebih Bagus

Dalam kasus itu, KPK menetapkan mantan Sekretaris MA, Nurhadi sebagai tersangka kasus pengurusan perkara di lingkungan MA. Selama menjabat sekretaris di MA, Nurhadi diduga melakukan perdagangan perkara dan menerima suap serta gratifikasi senilai Rp46 miliar.

Nurhadi dijerat sebagai tersangka bersama menantunya Rezky Herbiyanto dan seorang pengusaha yang menjabat Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto.

Rezky diduga menjadi perantara suap kepada Nurhadi dalam sejumlah pengurusan perkara perdata, kasasi, dan peninjauan kembali.

KPK menduga Nurhadi terlibat pengurusan perkara perdata PT MIT melawan Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN).

Pada awal 2015, tersangka Rezky diduga menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT untuk mengurus perkara PK atas putusan Kasasi Nomor 2570 K/Pdt/2012 (sengketa PT MIT dan PT KBN). Namun, dalam perkara itu PT MTI kemudian kalah dan sembilan lembar cek yang pernah diberikan tersebut dikembalikan.

Baca juga : Kasus Mafia Peradilan, KPK Panggil Sekretaris MA Achmad Setyo

Komisi juga menduga Nurhadi terlibat pengurusan perkara perdata sengketa saham PT MIT. Pada 2015, tersangka Hiendra digugat atas kepemilikan saham PT MIT. Perkara perdata itu kemudian dimenangkan Hiendra mulai dari tingkat pertama dan banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada Januari 2016.

Pada periode Juli 2015-Januari 2016 ketika perkara gugatan perdata tersebut sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, diduga terdapat pemberian uang kepada Nurhadi melalui Rezky senilai Rp33,1 miliar.

KPK juga menduga Nurhadi menerima gratifikasi terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah untuk tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian. Nurhadi diduga menerima gratifikasi uang sekitar Rp12,9 miliar kurun waktu Oktober 2014–Agustus 2016. (OL-7)

Baca Juga

MI/ BARY FATHAHILAH

Kabiro Hukum dan Humas MA Abdullah Tutup Usia

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 09:00 WIB
Kepala Biro Hukum dan Humas MA Abdullah meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam, Surabaya, Sabtu (31/10) pukul 01.45...
Medcom.id

Pendekatan Militer tidak akan Berhasil Atasi Terorisme

👤Che/P-1 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 04:50 WIB
Pasalnya, para pelaku teror ini saat melakukan aksinya lebih mengusung ide ketidakadilan negara terhadap pendahulu...
DOK BAKAMLA

Perairan Natuna Incaran Kapal Vietnam

👤Cah/P-1 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 04:36 WIB
Bakamla dengan menggunakan Kapal Negara (KN) Pulau Nipah 321 menangkap dua kapal nelayan Vietnam yang sedang mengambil ikan di wilayah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya