Rabu 18 Desember 2019, 17:55 WIB

Program 5.000 Doktor Ciptakan SDM Unggul

mediaindonesia.com | Humaniora
Program 5.000 Doktor Ciptakan SDM Unggul

DOK KEMENAG
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan sambutan saat launching Integrated Master Doctor di Jakarta, Selasa (17/12).

 

PROGRAM 5.000 Doktor yang sudah berjalan selama lima tahun diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui peningkatan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Program ini muncul lantaran dilatarbelakangi oleh tiga hal. Pertama, mendukung penuh arah dan tujuan pembangunan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Terutama dalam menciptakan Indonesia Maju melalui SDM unggul,” ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kama­ruddin Amin dalam perayaan ulang tahun ke-5 Program 5.000 Doktor serta peluncuran Integrated Master-Doctor (IMD) Program, di Jakarta, Selasa (17/12).

Kedua, lanjut dia, kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi agama Islam sehingga mendapat pengakuan global. Hal ini akan berdampak pada penguatan daya saing di kawasan ASEAN karena adanya peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan. Aspek ketiga ialah mendukung transformasi institusi di lingkungan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Saat ini berlangsung pro­ses transformasi dari sekolah tinggi menuju institut, lalu ­institut jadi universitas. Dalam proses transformasi, diperlukan SDM yang memiliki kualifikasi gelar doktor dalam berbagai bidang keilmuan,” imbuh Kamaruddin.

Sebagai gambaran, kini terdapat sekitar 12% atau 3.502 dosen PTKI yang sudah meraih gelar doktor. Adapun 82% atau 23.461 masih berada pada level magister, dan 6% atau 1.514 lainnya masih berstatus S-1. “Dosen atau tenaga pendidik di perguruan tinggi seharusnya berkualifikasi S-3 atau doktor. Ini jadi perjuangan Kementerian Agama dan Indonesia untuk meningkatkan kualifikasi dosen yang harapannya bisa berkontribusi pada daya saing bangsa,” ucap dia.

Lebih lanjut, ia menyatakan Program 5.000 Doktor telah mengembangkan sejumlah program inovatif. Selain program beasiswa reguler, yakni para penerima beasiswa bisa memilih studi doktoral di kampus terbaik dunia, terdapat skema beasiswa customized program.

Dalam skema beasiswa customized program itu, penerima beasiswa dapat menentukan pilihan studi di kampus yang menjadi mitra Kementerian Agama. Bebe­rapa skema beasiswa yang sudah dikembangkan, misalnya MoRA-Leiden Scholarship on Religion and Socie­ty di Belanda, MoRA-McGill Scholarship on Religion and Society di Kanada, kemudian MoRA-Coventry Scholarship on Trust, Peace, and Social Relations di Inggris.

Skema selain dengan Kanada, Inggris, dan Belanda ada skema lain yang sudah berjalan yaitu dengan Perancis MoRA-INSA Scholarship on Applied Science and Technology (SAST), dengan Australia yaitu MoRA-ATN Research and Innovation Scholarship (MoARIS) dan skema Special Pathways Leading to PhD (SPLP) juga dengan Australia. Kemudian dengan Mesir MoRA-Arab League Scholarship on Philology dan MoRA-Canal Suez University on Arabic Teaching.

“Kami juga menginisiasi kerja sama baru dengan kampus di Maroko, Korea Selatan, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Irlandia. Manfaat yang diperoleh seperti kandidat mendapat program pelatihan bahasa di negara tujuan, sistem monitoring dan evaluasi yang lebih terstruktur. Selain itu, Kementerian Agama juga lebih fokus mengirim dosen untuk bidang tertentu, sesuai kebutuhan dan prioritas PTKI,” papar Kamaruddin.

Ke depan, Kementerian Agama akan meningkatkan kerja sama dengan beberapa kampus luar negeri. Tentunya sesuai kebutuhan peningkatan kualitas PTKI di Indonesia.

Sebagai salah satu inovasi baru Program 5.000 Doktor, pada kesempatan ulang tahun ke-5 itu, diluncurkan program baru bernama Integrated Master-Doctor Program (IMD).

Program ini bertujuan memberikan kesempatan kepada alumni terbaik PTKI untuk menempuh jenjang pendidikan master atau S-2, kemudian berlanjut tingkat doktor di luar negeri. Peluncuran disaksikan sejumlah duta besar negara sahabat.

“Nantinya lulusan program ini wajib kembali ke Indonesia. Kemudian, mereka ditempatkan di kampus PTKI sebagai staf pengajar atau membantu pelayanan kepada masyarakat di Kementerian Agama. Sebelumnya, kami juga telah mengadakan program talent scouting untuk menjaring kandidat terbaik dari sejumlah kampus PTKI di Indonesia,” tutup Kamaruddin. (Tes/S5-25)

Baca Juga

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA  GANI

KAI Perpanjang Operasional Kereta Luar Biasa

👤Deden Muhamad Rojani 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 22:52 WIB
Joni menerangkan perpanjangan operasional KLB tersebut ditujukan untuk melayani masyarakat yang dikecualikan sesuai dengan aturan...
MI/ BARY FATHAHILAH

11 Syarat untuk Memberlakukan New Normal

👤Antara 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 21:17 WIB
Prof Wiku Adisasmito menyebutkan terdapat 11 indikator kesehatan masyarakat agar bisa kembali ke aktivitas ekonomi produktif dan aman dari...
Antara

Jumlah Pasien di RSD Galang Menurun

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 20:44 WIB
"20 orang di antaranya pria dan 19 wanita. Mereka dijaga oleh 276 personel gabungan yang terdiri dari paramedis, nonmedis dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya