Rabu 18 Desember 2019, 17:10 WIB

Bencana Lingkungan dari Sedotan Plastik

Bintang Krisanti | Weekend
Bencana Lingkungan dari Sedotan Plastik

AFP/ Getty Images
Setiap tahunnya, porsi polusi sedotan plastik terhadap total 8 juta sampah plastik dunia, mencapai 0,025 persen.

MASIH suka menggunakan sedotan plastik? Jika anda pikir lebih sedikit berbahaya karena ukurannya yang lebih kecil dari botol mineral, maka saatnya berpikir ulang.

Berbagai sumber menyebutkan jika sedotan plastik menjadi permasalahan besar karena sulit untuk didaur ulang. Akibatnya, tidak seperti botol dan gelas air mineral, sedotan plastik tetap menumpuk di lingkungan. Tidak hanya itu, ukurannya yang kecil juga menyebabkan sedotan plastik kerap tidak terangkut atau lolos dari unit pengumpulan sampah.

Baru-baru ini Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan jika konsumsi sedotan plastik sudah sangat mengkhawatirkan. Di Asia, jika semua orang mengkonsumsi sedotan plastik maka diperkirakan setiap hari ada 4,5 miliar sedotan plastik masuk ke lingkungan.

Sementara National Geographic memperkirakan jika di Amerika Serikat, setiap harinya ada 500 juta sedotan plastik dikonsumsi. Mengerikannya limbah sedotan plastik juga sudah diungkapkan di studi yang ditulis Roland Geyer, Jenna R. Jambeck, dan Kara Lavender Law pada 2017 menyebut jika sampah sedotan plastik di seluruh pantai dunia mencapai 8,3 miliar.


Setiap tahunnya, porsi polusi sedotan plastik terhadap total 8 juta sampah plastik dunia, mencapai 0,025 persen. Memang lagi-lagi, tampak kecil, namun jika mengingat sangat sulitnya atau hampir tidak ada industri daur ulang sedotan plastik maka bahaya yang ditimbulkan dari jenis limbah ini sangat besar.

Bicara soal limbah plastik sekali pakai, laporan terbaru Center for International Environmental Law membawa fakta mengejutkan soal emisi karbonnya. Mereka menyebutkan jika produksi plastik sekali pakai pada 2019 menyebabkan emisi karbon yang setara dengan yang dihasilkan 189 pembangkit batu bara.

"Plastik sekali pakai menjadi masalah lingkungan maupun iklim, dan ini bukan hanya karena sistem pengelolaan sampah yang buruk melainkan karena gaya hidup manusia yang justru menyebabkan masalah ini semakin buruk," kata Claudia Giacovelli dari Kantor Pusat Teknologi Lingkungan Internasional UNEP di Osaka, Jepang.

Ia melanjutkan jika mengkampanyekan barang-barang yang ramah lingkungan, memperbaiki sistem pengelolaan sampah, dan meningkatkan kesadaran sosial adalah sebagian langkah yang kami lakukan untuk mengatur secara berkelanjutan penggunaan plastik sekali pakai.

UNEP pun menyerukan tiga langkah mudah yang harus dilakukan tiap orang untuk membantu, bukan saja meminimalkan plastik sekali pakai melainkan keseluruhan limbah:

1. Pikirkan baik-baik soal masa pakai setiap barang yang kamu beli. Hindari barang sekali pakai, dan lebih utamakan barang yang bisa didaur ulang.
2. Hindari fast fashion atau produk fesyen yang dibuat massal yang tidak ramah lingkungan dan tenaga kerja.
3. Tolak barang-barang yang tidak bisa dipakai ulang. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More