Rabu 18 Desember 2019, 11:27 WIB

Jakarta Banjir, Ini Tanggapan Jokowi

Akmal Fauzi | Megapolitan
Jakarta Banjir, Ini Tanggapan Jokowi

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo

 

PRESIDEN Joko Widodo menanggapi fenomena banjir yang terjadi di DKI Jakarta, kemarin, Selasa (17/12).

Jokowi mengatakan pemerintah sedang membangun dua bendungan di daerah Bogor sebagai salah satu kota penyangga Jakarta.

"Banjir ini kita masih dalam proses kan membangun bendungan yang namanya Sukamahi dan ada dua di atas, di Bogor, Ciawi dan Sukamahi. Selesai kira-kira akhir tahun depan. Insyaallah akhir tahun depan akan selesai," kata Jokowi di Balikpapan, Rabu (18/12).

Jokowi meyakini, jika kedua bendungan tersebut telah selesai, banjir di Jakarta akan bisa lebih dikendalikan. Namun, Presiden mengatakan, program pengendalian banjir harus diimbangi dengan pembersihan saluran air di Jakarta.

"Tetapi juga sangat tergantung sekali yang namanya banjir di Jakarta itu adalah pembersihan got. Kemudian juga pelebaran dari sungai Ciliwung yang sampai di Jakarta sudah menyempit. Yang ketiga manajemen pengelolaan pintu-pintu air yang ada, termasuk di dalamnya adalah pengerukan waduk-waduk yang ada di Jakarta, waduk Pluit dan lain-lainnya," jelasnya.

Baca juga: Pemprov DKI Dinilai tidak Siap Hadapi Banjir

Sementara itu, untuk mengatasi persoalan kemacetan, pemerintah juga terus berupaya menciptakan transportasi massal yang terintegrasi. Misalnya, Moda Raya Terpadu (MRT) tahap I yang telah selesai dikerjakan, dan Lintas Rel Terpadu (LRT) yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2021.

"Itu akan sangat mengurangi macet. Dan tentu saja mengintegrasikan dari moda transportasi yang ada, LRT gabungin nanti dengan MRT, dengan TransJakarta, dengan commuter kita, dengan kereta bandara, nanti mungkin dengan kereta cepat, berarti ada 6, diintegrasikan semuanya. Itu juga akan sangat-sangat mengurangi kemacetan di Jakarta," jelasnya.

Meski demikian, Presiden menggarisbawahi bahwa jika ibu kota negara tidak dipindahkan dari Jakarta, persoalan tersebut akan sulit untuk diselesaikan. Hal tersebut dikarenakan Jakarta merupakan pusat segala aktivitas kantor dan bisnis.

"Tapi sekali lagi, kalau tidak pindah ibu kota ya memang tetap akan sulit karena semua orang ingin meniti karier di Jakarta, ingin bisnis di Jakarta. Semuanya mikirnya di seluruh Tanah Air kan ke Jakarta semuanya atau ke Jawa sehingga yang terjadi adalah kepadatan penduduk yang semakin tambah semakin hari," ungkapnya.

"Sudah bolak balik saya sampaikan 56% penduduk kita itu ada di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya. PDB ekonomi kita juga sama 58% ada di Jawa, khususnya di Jakarta. Sehingga perlu pemerataan ekonomi. Kira-kira itu," tambahnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More