Rabu 18 Desember 2019, 11:16 WIB

Melepaskan Diri dari Cengkraman Pakem Batik

Mohammad Ghazi | Nusantara
Melepaskan Diri dari Cengkraman Pakem Batik

MI/Mohammad Ghazi
Samsiyah membatik dengan bermotifkan perahu dan ombak, yang tidak lazim digunakan sebagai motif batik di Madura.

 

SAMSIYAH, 51, terlihat tak mempedulikan Media Indonesia yang mengambil gambar dirinya saat membatik di dapur yang ada di belakang rumahnya di Dusun Toronan, Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (15/12/2019). Pandangannya tetap tertuju pada canting berisi malan yang dipegangnya sambil menggoreskan canting itu pada selembar kain putih. Sesekali ia mencelupkan canting ke sebuah wadah di atas tungku yang sedang menyala lalu meniupnya perlahan dan kembali menggoreskan ke kain yang dipegangnya.

Ada gambar bermotif daun dan bunga di kain putih yang dipegang dengan tangan kirinya itu. Bila diamati, gambar yang nampak menggunakan pensil di kain yang dipegang nenek dua orang cucu itu tidak seperti gambar pada batik Madura. Biasanya, batik Madura memiliki motif daun, serat kayu, air hujan dan motif lain yang selama ini dikenal sebagai pakem atau aturan.

Tapi yang terlihat pada motif batik yang ada di salah satu pengrajin di desa yang dikenal sebagai sentra batik Madura itu, bermotifkan perahu dan ombak, yang tidak lazim digunakan sebagai motif batik. Di Madura, saat ini telah banyak beredar batik dengan motif aneh, berupa motif yang sebelumnya tidak pernah dipakai sebagai kelir dalam batik. Selain juga muncul batik lukis.

Saat ini sedang menjadi tren di antaranya motif monumen Arek Lancor, sebuah monumen yang menjadi simbol perlawanan masyarakat Madura terhadap penjajah serta motif yang tidak jelas dan terlihat sebagai lukisan abstrak. Motif lainnya adalah kerapan sapi yang menjadi bentuk protes terhadap perjudian dan aksi kekerasan terhadap binatang di salah satu bentuk tradisi di Madura tersebut.

Rusdi, seorang perajin batik tulis di Kelurahan Kowel, mengatakan saat ini para pebatik mulai menghindari pakem-pakem yang selama ini menjadi acuan dalam membatik.

"Motif keratonan atau motif mataraman itu dinilai terlalu mengikat kreatifitas para perajin. Awalnya kami berkeyakinan, yang namanya motif batik adalah motif warisan kerajaan itu. Namun, akhirnya kami mencoba lepas dari pakem itu dengan membuat motif lain," kata Rusdi. .

Menurut Rusdi, keberadaan pakem itu tidak lepas dari sejarah batik sebagai pakaian para petinggi kerajaan di masa lalu. Begitu pula dengan motif yang digunakan, seperti motif Sekar Jagad, Junjung Drajad, Burung Merak dan lainnya.

Motif itu juga disandarkan dengan mitos-mitos. Misalnya, motif batik kawung yang memiliki makna subur, toron ojhan (udan liris) yang menjadi simbol kemurahan rejeki, truntum yang merupakan simbol ketentraman, dan kembang kenikir yang bermakna penolak bala.

Pakem atau aturan tentang motif itu terkesan begitu mengikat dan seperti menjadi aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi para perajin dan konsumen. Sehingga, satu hasil produksi akan dianggap sebagai batik apabila menggunakan motif yang sesuai dengan pakem tersebut meskipun proses pembuatannya tidak melalui proses membatik, seperti menggunakan mesin cetak atau yang lazin disebut batik printing.

Bagi sebagian para perajin, jelas dia, batik adalah proses dan bukan pada motif. Sehingga, apapun gambar yang digunakan sebagai motif, asalkan dibuat dengan proses yang selama ini disebut dengan membatik, maka hasilnya tetap bisa disebut batik.

"Bagi kami, batik bukan lagi hanya menjadi simbol identitas,  melainkan juga menjadi simbol perlawanan terhadap kemapanan," kata Mahmud, salah satu pelaku usaha batik di Desa Larangan Badung, Kabupaten Pamekasan.

Pemerhati batik tulis Pamekasan, Taufikurrahman, mengatakan tindakan melepaskan diri dari pakem di kalangan pebatik itu tidak bisa lagi dibendung di era industri. Sebab, mereka tidak bisa lagi hanya berdiri di koridor kebudayaan, namun juga sudah memiliki kepentingan ekonomi.

"Beda dengan para pebatik di masa kerajaan yang memang mengabdi pada tradisi. Tapi saat ini para perajin itu dituntut untuk berkreasi agar hasil produksi mereka tidak jumud atau stagnan," kata Taufik.

Di Madura, batik yang merupakan warisan Kerajaan Mataram tidak bisa lagi diikat dengan pakem aturan tentang motif. Apalagi, kata dia, dalam sejarahnya pakem itu pernah mengalami pembelokan pada tahun 1948 hingga 1950, pada saat Madura menjadi negara bagian dari Republik Indonesia
Serikat.

"Pada saat itu muncul motif batik yang juga keluar dari pakem. Motif yang ada pada masa itu bernuansa perlawanan terhadap para penjajah, seperti motif keris, bambu runcing dan motif senjata lain sebagai bentuk perlawanan," katanya.

baca juga: Putra KH Hasyim Muzadi Meninggal Dunia Kecelakaan

Namun, kata dia, batik kontenporer yang saat ini sedang menjadi tren di kalangan pembatik, tidak bisa lepas dari koridor utama, yakni proses produksinya yang tetap memegang teguh aturan membatik. Pengamat kebudayaan Madura, Kadarisman Sastrodiwirdjo, mengatakan munculnya motif baru batik itu, sebagai pengembangan dari kreasi kebudayaan. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More