Rabu 18 Desember 2019, 08:50 WIB

Terapi Sel Punca Indonesia Dilirik Dunia

Ata/H-2 | Humaniora
Terapi Sel Punca Indonesia Dilirik Dunia

MI/ANDRI WIDIYANTO
Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional di FKUI-RSCM, Jakarta (17/12

 

INDONESIA resmi memiliki pusat produksi sel punca dan produk metabolit nasional yang diinisiasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Kimia Farma (persero). Pembentukan pusat produksi sel punca diharapkan dapat menjadi terobosan dan inovasi bagi Indonesia.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Produksi Sel Punca dari FKUI, Ismail, mengatakan Indonesia boleh berbangga telah menjadi salah satu negara yang mampu melakukan terapi sel punca bagi pasien umum di 11 RS. Di beberapa negara lain, pelayanan sel punca masih berada di tahap riset dan belum resmi diberikan untuk pasien umum.

"Hal ini tentu meningkatkan potensi adanya medical tourism karena ke depannya pelayanan sel punca bagi pasien umum ini tidak hanya diperuntukkan pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari mancanegara," kata Ismail di Kampus FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, kemarin.

Ia menyampaikan pusat produksi ini diharapkan juga dapat memberikan dampak sosioekonomi yang besar. Pasalnya, terapi penyakit degeneratif yang tersedia saat ini umumnya hanya bertujuan mengurangi gejala, tapi tidak menghentikan proses degeneratif itu sendiri.

Selain penyakit degeneratif, kondisi lain seperti trauma, autoimun, dan kanker juga banyak yang bersifat terminal atau tidak lagi memberi respons pada pengobatan konvensional.

Sel punca memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel yang spesifik membentuk berbagai jaringan tubuh, seperti tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah, atau sel otak.

Dengan demikian, pengembangan riset sel punca di Indonesia dapat menjadi solusi untuk pengobatan berbagai penyakit.

"RSCM sudah begitu dipercaya. Bahkan luar negeri sudah melirik kita. Korea sudah menyiapkan 12 atlet yang cedera untuk mendapatkan terapi sel punca di Indonesia," kata Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti.

Sejak penelitian riset sel punca dimulai, yakni pada 2008, sebanyak 300 pasien dari berbagai penyakit telah melakukan terapi sel punca dengan biaya hibah sebesar Rp36 miliar. Ke depannya, penelitian sel punca akan dikembangkan untuk pengobatan gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia alzheimer, dan sejumlah penyakit yang tidak lagi memberi respons dengan pengobatan konvensional.

"Ini akan makin memberikan kesejahteraan bagi masyarakar terutama individu, pasien yang mengalami berbagai penyakit dan mendapatkan tratment dari sel punca," ucap Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro.

"Kita harus berkolaborasi dan memberikan keyakinan bahwa dokter di Indonesia, terutama RS-nya, sanggup memberikan treatment stem cell yang sama baiknya dengan luar negeri, dan tentunya harganya walaupun masih mahal, lebih terjangkau oleh masyarakat," sebut Bambang. (Ata/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More