Rabu 18 Desember 2019, 07:00 WIB

KLHK Optimalkan Teknologi dalam Pemulihan Kerusakan Lingkungan

mediaindonesia.com | Humaniora
KLHK Optimalkan Teknologi dalam Pemulihan Kerusakan Lingkungan

DOK
Pemulihan Kerusakan Lingkungan

 

BERTAMBAHNYA populasi manusia yang diiringi dengan eksploitasi alam yang berlebihan sering kali menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Karena itu, diperlukan suatu upaya nyata untuk memperbaiki lingkungan. 

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya melakukan sejumlah restorasi lingkungan melalui program-program yang mengoptimalkan teknologi. Hal itu menjadi prioritas KLHK dalam lima tahun ke depan.

“Lima tahun ke depan perlu menguatkan infrastruktur sistem kualitas lingkungan yang real time sehingga informasi kualitas lingkungan ke masyarakat makin akurat,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, MR Karliansyah, di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Sejumlah hasil pun telah dicapai dengan mengoptimalkan teknologi dalam pemulihan kerusakan lingkungan. Pada pemulihan ekosistem gambut pada area Hutan Tanam Industri (HTI) dan perkebunan terdapat 3,474 juta hektare area pemulihan ekosistem gambut dengan 4.438,70 hektare rehabilitasi vegetasi serta 306.112 hektare suksesi alami. 

Masyarakat juga dilibatkan dalam pemulihan ekosistem gambut. Misalnya saja dengan 178 rencana kerja masyarakat (RKM), 71 dokumen identifikasi masalah dan analisis situasi, serta 71 SK Tim Kerja Perlindungan dan Pengolahan Ekosistem Gambut.

Selain ekosistem lahan gambut, KLHK juga melakukan pemulihan lahan akses terbuka serta pemulihan terumbu karang di berbagai wilayah di Indonesia. Misalnya Agroeduwisata di Belitung seluas 8.014 ha, taman wisata bambu di Dharmasraya seluas 3,8 ha, dan kawasan wisata luar ruang seluas 6,4 ha di Bengkulu Tengah.

Pemulihan ekosistem terumbu karang sejumlah wilayah juga tidak luput dari perhatian KLHK. Misalnya terumbu karang di Wakatobi dengan 370 spider frame dan 7.920 bibit, Karimun Jawa seluas 200 meter persegi, dan Kepulauan Seribu total 7.700 meter persegi. 

PROPER untuk industri 4.0
Pada saat ini telah berkembang industri 4.0 yang diperkenalkan pemerintah Jerman di pameran Hanover Fair pada 2011. Penemuan komputer yang telah diterapkan di dunia industri 3.0 untuk membuat proses produksi menjadi otomatis dengan menggunakan robot-robot telah menggantikan peran manusia untuk melaksanakan pekerjaan yang berbahaya dan berulang. 

Pada industri 4.0 peningkatan produktivitas dilanjutkan dengan mengintegrasikan teknologi informasi, manufaktur, dan jasa sehingga memberikan pelayanan yang lebih individual. Hal itu membuat semakin efisien dalam penggunaan sumber daya dan proses pengembangan produksi. 

Dalam melakukan restorasi dan pengawasan ekosistem tersebut, KLHK juga mengoptimalkan teknologi pengembangan sistem pemantauan kualitas lingkungan. KLHK menggunakan berbagai peralatan dan infrastuktur yang dilengkapi dengan sensor untuk mengambil data secara langsung dan dalam jumlah yang sangat besar. Data tersebut dikirimkan melalui jaringan internet dan diproses secara real time.

Algoritma yang dipasang pada sistem tersebut mampu mengatur fungsi sistem secara otonom dengan sedikit atau bahkan tanpa campur tangan manusia. Hasilnya sangat presisi, dapat disesuaikan setiap saat sesuai dengan kondisi lingkungan yang dideteksi oleh sensor. 

KLHK telah mengembangkan sistem dengan mengoptimalkan sensor di sejumlah tempat untuk melakukan pemantauan kualitas lingkungan. Banyak sensor dipasang di badan sungai untuk memantau kualitas air setiap saat (real time) yang terintegrasi dalam Sistem Pemasangan Onlimo (online monitoring kualitas air sungai) yang terdapat di 34 stasiun. 

Ada juga AQMS (air quality monitoring system) untuk pemantauan kualitas udara ambien yang saat ini difokuskan pada daerah rawan kebakaran lahan dan daerah perkotaan yang memiliki risiko pemaparan pencemaraan dari aktivitas kendaraan bermotor dan industri. 

Sampai 2019 ini sudah ada di 26 kota, dan 2020 rencana bertambah di 15 kota, serta akan terus bertambah setiap tahunnya. Begitu pula untuk pemantauan ekosistem gambut telah terbangun Simatag (Sistem Monitoring Tinggi Muka Air Tanah Gambut) untuk memastikan ekosistem gambut tetap basah sehingga tidak mudah terjadi kebakaran. Semua sistem tersebut merupakan cara mengumpulkan data dalam jumlah yang sangat besar dan real time untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan dan memprediksi pola perilaku. 

Terkait hal itu, KLHK mengintegrasikan sistem pelaporan perusahaan yang terdaftar di Simpel (Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup) untuk mengukur beban pencemaran terhadap lingkungan. Hal itu dilakukan melalui integrasi sistem pemantauan kualitas air Onlimo, kualitas udara AQMS, dan ekosistem gambut Simatag sehingga pola-pola perubahan lingkungan dapat diprediksi secara real time. Hal itu sebagai langkah antisipasi untuk mengambil langkah langkah memitigasi atau adaptasi perubahan lingkungan dapat dilakukan secara cepat bahkan secara otonom.

Mulai 2019, data tersebut sudah digunakan dalam penilaian kinerja perusahaan peserta Proper (Program Penilaian Peringkat Kinerja) perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Perusahaan dapat mengakses langsung hasil penilaian kinerja mereka tanpa harus dicetak di kertas secara manual. 

Program pemberdayaan masyarakat dalam Proper wajib didasarkan atas social mapping untuk mengidentifikasi masyarakat yang rentan dan local hero yang dapat dijadikan sebagai agen perubahan. Setelah itu dilakukan identifikasi modal sosial dan potensi sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama masyarakat untuk merumuskan program bersama. 

Indikator keberhasilan program selalu dirumuskan dan terukur, kemudian dilakukan evaluasi keberhasilan dan kepuasan penerima manfaat. Target akhir ialah tercapainya kemandirian masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. 

Keberhasilan program pemberdayaan ini dilakukan dengan mengubah pola pikir dari program bagi-bagi bantuan (charity) menjadi program terstruktur dan terukur untuk memberdayakan masyarakat.
Keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam mengelola lingkungan tersebut akan diumumkan KLHK dengan memberi label buruk maupun baik.

“Saya merasa gembira di tahun 2019 ini penyampaian hasil kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan sudah dilakukan secara online melalui Sistem Pelaporan Elektronik (Simpel) oleh 2.045 perusahaan dari 6.735 perusahaan yang memiliki akun Simpel,” kata Menteri Lingkungan dan Kehutanan Siti Nurbaya. 

Menteri Siti mengungkapkan, pada 2019 tercatat efisiensi energi mencapai 663,9 juta GJ, penurunan emisi GRK sebesar 93.8 juta ton CO2 e, penurunan emisi udara sebesar 1,91 juta ton, reduksi limbah B3 sebesar 17,75 juta ton, 3R limbah non-B3 sebesar 9,92 juta ton, efisiensi air sebesar 459,89 juta m3, penurunan beban pencemaran air 50,59 juta ton, dan berbagai upaya perlindungan keanekaragaman hayati. 

Upaya perbaikan kinerja pengelolaan lingkungan tersebut ternyata juga berdampak positif terhadap masyarakat. Pada 2019 tercatat Rp22,87 triliun bergulir di masyarakat untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Seperti kita ketahui, program pemberdayaan masyarakat dalam Proper wajib didasarkan atas social mapping untuk mengidentifikasi masyarakat yang rentan dan local hero yang dapat dijadikan sebagai agen perubahan. (Dro/S1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More