Selasa 17 Desember 2019, 16:30 WIB

Tertarik Bisnis Kopi? Kedai To Go Ternyata Paling Menjanjikan

Suryani Wandari | Weekend
Tertarik Bisnis Kopi? Kedai To Go Ternyata Paling Menjanjikan

Unsplash/ Ali Yahya
Bisnis kedai kopi masih terus menjanjikan di Indonesia.

DI Tanah Air, kehadiran kedai kopi rasanya telah sesemarak rumah makan Padang dan warteg. Dalam satu area ruko saja kini bisa terdapat banyak kedai kopi. Begitu pula diantara kedai sederhana di pinggir jalan, sekarang sudah tidak asing dengan kemunculan kedai kopi. 

Dengan begitu menjamurnya kedai kopi, sebagian orang mungkin mulai mengkhawatirkan jenuhnya pasar dan penurunan penjualan. Meski begitu, kalangan pebisnis kopi nyatanya masih optimis.

Hal tersebut disampaikan Head of Marketing Toffin, Ario Fajar dalam konfrensi pers bertajuk "Menyibak Ledakan Bisnis Kedai Kopi di Indonesia", Selasa (17/12) di Jakarta. Perusahaan penyedia solusi bisnis untuk industri hotel, restoran, dan kafe ini menilai bisnis kedai kopi akan terus tumbuh tahun depan.

Toffin melihat, pertumbuhan kedai kopi terutama masih terus potensial untuk yang berbentuk to go atau kedai kopi yang tidak menawarkan space untuk minum di tempat. "Potensi kedai kopi to go memang sangat besar... diperkirakan bisnis kedai kopi di Indonesia pada tahun 2020 masih akan positif dan tumbuh signifikan," jelas Ario. 

Lebih lanjut mengenai kedai kopi to go, Toffin mengungkapkan bahwa meski sederhana, kedai kopi itu memiliki kekuatan bisnis karena harga produk yang sangat terjangkau bagi kalangan milenial. "Generasi milenial ini rata-rata mengalokasikan uangnua untuk belanja minuman kopi Rp 200 ribu per bulan. Sehingga kami menyimpulkan bisnis ini akan tumbuh sigifikan pada tahun mendatang," tambahnya. Ia pun mencontohkan kedai kopi Janji Jiwa yang berdiri 2018 kini telah memiliki 500 gerai atau mengalahkan Starbucks dengan 421 gerai di Indonesia.

Untuk melihat pertumbuhan kedai kopi pada 2019 dan membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya, Toffin melakukan wawancara dengan para industri kopi. Riset yang dilakukan terhadap gerai jaringan kopi di kota besar itu mendapatkan adanya 2950 gerai kopi pada 2019, sedangkan tahun 2016 hanya sekitar 1000 gerai. "Angka rill sebenarnya bisa lebih besar mengingat sensus yang kami lakukan hanya mencakup gerai berjaringan di kota besar, tidak termasuk kedai kopi independen yang modern maupun tradisional di berbagai daerah," kata Ario Fajar. 

Riset itu juga mengungkapkan beberapa faktor pendorong pertumbuhan kedai kopi di Indonesia. "Pertama, kebiasaan atau budaya nongkrong sambil ngopi. Kemudian, meningkatnya daya beli konsumen, lalu dominasi populasi anak muda (generasi Y dan Z) yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengkonsumsi kopi," kata Nicky Kusuma, Visr President Sales and Marketing Toffin.

Ia melanjutkan, faktor pendukung pertumbuhan lainnya bagi bisnis kedai kopi, datang dari keberadaan media sosial sebagai platform promosi, kehadiran ride hailing (Grabfood dan Gofood), ketersediaan pasokan bahan baku, peralatan, dan sumber daya untuk membangun bisnis kopi serta margin bisnis kopi yang relatif cukup tinggi. 

Toffin memperhitungkan nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai Rp 4.8 triliun per tahun. Hal itu diasumsikan dari penjualan rata-rata per outlet 200 cup per hari serta harga kopi per cup Rp 22.500. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More