Selasa 17 Desember 2019, 14:28 WIB

Penyaluran Bantuan Sosial di NTT Tidak Tepat Sasaran

Palce Amalo | Nusantara
Penyaluran Bantuan Sosial di NTT Tidak Tepat Sasaran

Antara
Seorang warga menunjukkan kartu keluarga sejahtera. Bansos yang digelontorkan ke NTT tidak tepat sasaran.

 

WAKIL Gubernur Nusa Tengggara Timur (NTT), Josef Nae Soi menyoroti penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat miskin di daerah itu, yang ternyata tidak tepat sasaran. Termasuk juga kriteria miskin tidak sesuai dengan keadaan di NTT. Makan jagung sebagaimana dilakukan masyarakat NTT dianggap sebagai orang miskin. Josef mengatakan itu saat menyampaikan pengarahan pada acara 'Pertemuan Tahunan Bank Indonesia" Perwakilan Nusa Tenggara Timur di Kupang, Selasa (17/12/2019).

"Ada macam-macam bantuan tunai, dari BI (Bank Indonesia), KUR (Kredit Usaha Rakyat), KUBE (Kelompok Usaha Bersama) dan PKH (Program Keluarga Harapan). Tetapi temuan saya secara acak, banyak dari bantuan itu tidak sampai kepada rakyat yang dikategorikan sebagai miskin," ujar Josef Nae Soi.

Kondisi seperti itu yang menjadi salah satu alasan penduduk miskin di daerah itu masih tinggi. Saat ini penduduk miskin di NTT tercatat nomor 3 terbesar setelah Papua dan Papua Barat. Karena itu, ia minta para penyalur bantuan sosial melakukan instropeksi diri, bekerja dengan hati yang tulus.

"Harus ada keserasian perasaan antara kita yang melayani dengan orang yang dilayani karena tujuan akhir Indonesia maju ialah semua orang hidup sejahtera," ujarnya.

Menurut Josef, belum lama ini ia bertemu Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan sempat membahas kriteria kemiskinan yang beberapa di antaranya tidak cocok dengan kondisi NTT.

Seperti penduduk yang rumahnya bukan berlantai semen disebutkan sebagai keluarga miskin. Padahal banyak keluarga yang rumahya berlantai tanah, memiliki banyak ternak. Selain itu, banyak warga di perdesaan daerah itu  mengonsumsi jagung yang telah diolah dan dimasak seperti nasi.

"Jangan sampai orang NTT tidak makan nasi selama satu minggu, tetapi makan jagung itu disebut orang miskin," ujarnya.

Begitu juga, ada warga yang minum gula hasil sadapan pohon lontar, menjadi kenyang dan tidak makan nasi seharian. Masyarakat yang makan jagung dan minum gula tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Kepala BI Perwakilan NTT I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan Perekonomian NTT sepanjang 2019 tumbuh relatif stabil. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga tumbuh stabil didukung oleh terkendalinya inflasi sepanjang  2019. Begitu pula  kinerja investasi terus terjaga yang didorong oleh pembangunan infrastruktur pemerintah. Serta investasi swasta terutama di bidang kelistrikan | perkebunan dan pariwisata.

"Untuk itu kami mengapresiasi seluruh upaya yang telah kita lakukan bersama di Tim Pengendalian Inflasi Daerah | baik provinsi maupun kabupaten dan kota  serta upaya keras Satgas Pangan di bawah koordinasi Polda NTT yang terus bekerja sama dan berkoordinasi erat sepanjang tahun 2019 ini," ujarnya.

Menurutnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang efisien dan berkelanjutan, Bank Indonesia berkomitmen mengembangkan UMKM melalui pendekatan klaster. Hingga saat ini, BI Perwakilan NTT  kami telah membina sepuluh klaster tematik, antara lain klaster sapi yang  telah berhasil meningkatkan produksi tiap tahunnya dan mampu mengakses pasar antar daerah. Ada juga klaster kopi di Kabupaten Ngada, berhasil meraih Juara I tingkat nasional untuk kategori kebun kopi berproduksi tinggi dari Kementerian Pertanian.

baca juga:  Pohon Tumbang Tutup Akses ke Lembang

Adapun penyaluran kredit perbankan sampai triwulan III 2019 tumbuh sebesar 11,98% (yoy) didukung oleh kualitas penyaluran kredit yang tercermin dari rendahnya rasio kredit bermasalah sebesar 2,41%. Sedangkan pencapaian pangsa kredit UMKM di di daerah tu telah mencapai 35,42%, dan melampaui target penyaluran kredit UMKM secara nasional yakni 20% dan mampu menjaga kualitas kredit pada batas aman. (OL-3)

 

Baca Juga

Antara

17 Ribu Ha Sawah di Banyumas Masuki Panen

👤Lilik Darmawan 🕔Senin 06 April 2020, 15:55 WIB
Musim panen padi di Banyumas April ini akan mengalami puncaknya, diperkirakan 15 ribu hektare (ha) sawah yang memasuki panen. Sebelumnya,...
dok pemprov jatim

3 Hari Tayang, Chatbot Covid-19 Jatim Diserbu Ratusan Ribu Warga

👤Aries Wijaksena 🕔Senin 06 April 2020, 15:37 WIB
Akses chat ini untuk mencegah kesimpangsiuran data dan informasi di...
Antara

Jelang Panen Raya, Harga Beras di Kupang Turun

👤Palce Amalo 🕔Senin 06 April 2020, 15:30 WIB
Harga berasi turun sebesar Rp1.000 per kg jika dibandingkan harga sebelumnya Rp11.000 per kg. Penurunan harga beras ini terjadi jelang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya