Selasa 17 Desember 2019, 03:00 WIB

Siapkan Guru sebelum Ganti Sistem

Atikah Ismah Wahyu | Humaniora
Siapkan Guru sebelum Ganti Sistem

Biaya Ujian Nasional
Sumber: Kemendikbud

 

KETUA Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Irman Yasin Limpo mengungkapkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus mempersiapkan guru dan tenaga pendidik dengan matang sebelum mengubah sistem terkait dengan empat kebijakan baru yang dite-rapkan Mendikbud Nadiem Makarim. Harapannya, guru dapat mengaplikasikan dengan baik di sekolah dan dapat diterima sistem.

“Kesulitan yang selalu terjadi setiap ada kebijakan baru dari pemerintah ialah penyesuaian pada guru,” jelas Irman dalam diskusi publik di Jakarta, kemarin. Dia menambahkan, bahkan sampai saat ini masih banyak guru yang belum menguasai kurikulum 2013 setelah adanya perubahan dari kurikulum 2006 karena masih banyak guru yang belum mengikuti diklat.

“Jadi kurikulum 2013 yang diajarkan, yang mengajar (guru) pengetahuannya 2006. Jadi sebaiknya hati-hati sebelum membahas kurikulum, harus siap dulu semua, baru pindah ke sistem baru. Ini mempertimbangkan siswa, karena kalau dia ujian asesmen memakai sistem baru, gurunya belum disesuaikan sistem baru, anak-anaknya jawab apa?” tandas Irman.

Meski menyambut baik re­volusi sistem pendidikan di Tanah Air yang digaungkan Mendikbud, Irman menekankan perlunya persiapan yang matang bagi pihak-pihak terkait, terutama bawahannya.

“Sekarang kalau Anda mau diasesmen, saya guru Anda, terus saya nggak ngerti bagaimana cara mengasesmen Anda, terus Anda diasesmen orang lain berdasarkan standar nasional, ya pasti salah lah. Anda pasti rendah nilainya,” tandasnya.

Langgar hak

Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Perlin-dungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menyambut positif keputusan Mendikbud mengganti UN dengan asesmen kompetensi dasar dan survei karakter.

“UN sering hanya mengukur pada aspek ipteknya, bukan pada etika dan estetika. Hanya dalam dua hari nasib anak bisa berubah. Ini melanggar hak anak dan hak guru,” jelas pria yang biasa disapa Kak Seto. Ia menambahkan, guru lah yang paling mengetahui potensi dan kompetensi setiap siswa, dan fungsi ini diambil alih oleh negara hanya dengan tes pilihan ganda.

Guru, lanjutnya, menjadi aspek terpenting yang perlu diperhatikan dalam perbaik-an sistem pendidikan. Pemerintah perlu memperbaiki kesejahteraan guru, baik secara fisik maupun psikologis, serta memastikan guru mampu mengajar dengan metode baru.

Ia menambahkan, selain dari pakar, Mendikbud harus mendengar suara siswa sendiri. “Seharusnya kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum,” tandasnya. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More