Senin 16 Desember 2019, 15:02 WIB

Jokowi Kesal Masih Ada yang Hobi Impor Migas

Dhika Kusuma Winata | Ekonomi
Jokowi Kesal Masih Ada yang Hobi Impor Migas

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo berpidato dalam acara pembukaan Musrenbangnas RPJMN 2020-2024 di Istana Negara, Jakarta, hari ini.

 

PRESIDEN Joko Widodo menyatakan kekesalannya terkait dengan neraca perdagangan yang kembali mengalami defisit. Ia menyebut berulangnya defisit tersebut lantaran ada pihak-pihak yang lebih senang mengimpor dan menghambat transformasi ekonomi dalam negeri, khususnya di sektor energi.

"Ada yang hobinya impor karena untungnya gede. Sehingga transformasi ekonomi di negara kita mandek gara-gara ini. Kita berpuluh-puluh tahun memiliki masalah besar yang namanya defisit neraca perdagangan gara-gara impor kita lebih besar dari ekspor kita," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/12).

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 tercatat defisit US$1,33 miliar. Defisit itu berasal dari ekspor November yang sebesar US$14,01 miliar, sedangkan impornya lenih tinggi yakni US$15,34 miliar.

Dalam acara Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional RPJMN 2020-2024 itu, Jokowi menyoroti impor minyak yang per hari mencapai 700.000-800.000 barel.

Baca juga: Jokowi Kesal Pembangunan Kilang Minyak Hanya Janji

Dia juga menyoroti impor avtur untuk keperluan dalam negeri. Padahal, imbuhnya, crude palm oil (CPO) dalam negeri bisa dimanfaatkan untuk produksi avtur. Impor yang besar di sektor energi itu, imbuh Jokowi, jelas membebani transaksi berjalan yang mengakibatkan defisit.

"Sumur-sumur minyak kita itu masih banyak kok. Kenapa enggak digenjot produksinya. Avtur masih impor padahal CPO bisa dipindah menjadi avtur. Karena ada yang masih senang impor minyak. Ini ndak benar ini," tegas Jokowi.

Tak hanya sampai di situ, Jokowi juga mengungkapkan kekesalannya soal impor gas. Menurut dia, batu bara di Indonesia yang melimpah semestinya bisa dimanfaatkan untuk produksi gas. Namun, Indonesia juatru masih bergantung pada impor untuk pemenuhan kebutuhan gas.

Jokowi menyebut ada pihak-pihak yang mencari bermain dan mencari untung agar ketergantungan impor migas tersebut terus berjalan. Ia mengingatkan agar jangan ada pihak-pihak yang menghalangi upaya menggilangkan ketergantungan impor migas tersebut.

"Sudah ketemu siapa yang senang impor dan saya mengerti. Perlu saya ingatkan hati-hati kamu, saya ikuti kamu. Jangan menghalangi orang ingin membikin batu bara menjadi gas hanya gara-gara kamu senang impor gas," tukas Jokowi.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More