Senin 16 Desember 2019, 10:05 WIB

Pemerintah Dukung Digitalisasi UMKM Naik Kelas

van/S1-25 | Ekonomi
Pemerintah Dukung Digitalisasi UMKM Naik Kelas

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
CEO OVO Jason Thompson memberikan arahan kepada warga cara berbelanja menggunakan QRIS melalui aplikasi OVO, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12)

 

PEMERINTAH mendukung penuh digitalisasi di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk naik kelas. Hal tersebut guna memperkuat ekonomi nasional dan memberdayakan pelaku usaha nasional.

Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki mengatakan pemerintah sudah membangun infrastruktur pendukung digitalisasi seperti konektivitas internet ke seluruh pelosok Tanah Air. Untuk itu, pemanfaatan akses internet tersebut kiranya dilakukan untuk mengembangkan usaha secara digital.

“Bagi UMKM adalah bagaimana bisa mengakses pasar dari UMKM ini makin luas. Jadi warung juga kita harus perluas tidak lagi hanya jualan di kampungnya tapi juga bisa jualan di market place online,” kata Teten saat membuka Festival Gerakan Warung Nasional, di Jakarta, pada Sabtu (14/12).

Apabila pelaku usaha seperti warung-warung tradisional, katanya, mampu memanfaatkan teknologi digital dengan baik, bukan tidak mungkin akan banyak pelaku UMKM yang naik kelas. Bahkan, bisa go global dan bersaing dengan pengusaha internasional dan juga membuka banyak lapangan kerja baru.

“Kalau kita naik 10% saja dari yang kecil. Yang kecil sekarang 300 ribuan, yang menengah 60 ribu kalau yang menengah naik kelas 10% saja kan berarti nambah 6 ribu. Saat ini pengusaha besar itu sekitar 5 ribuan. Nah, ini akan ada perubahan dalam struktur ekonomi, struktur ekonomi yang lebih kuat,” tambahnya.

Saat ini, menurutnya, pasar Indonesia banyak dibanjiri produk impor. Hal itu merupakan pengaruh dari perdagangan bebas yang makin gencar terjadi di berbagai negara-negara regional Asia Tenggara. Pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Namun, Indonesia harus mampu bersaing dengan produk-produk impor tersebut.

Untuk itu, pemerintah mendukung fasilitas teknologi digital yang dikembangkan seperti Tokopedia, OVO, Warung Pintar, dan masih banyak lagi lainnya. Menurut Teten, fasilitas tersebut menjadi jembatan bagi
para pelaku UMKM untuk bisa menguasai pasar Indonesia, bahkan pasar regional.

“UMKM perlu juga didesain punya daya saing untuk bertarung dengan produk impor, daya saing untuk bisa masuk ke pasar global. Kita tidak boleh kalah dengan negara lain. Kami sudah identifikasi ada banyak komoditi unggulan nasional. Supaya bahan baku cukup, kita punya kemampuan mengolahnya tinggal dihubungkan dengab market luar negeri,” imbuhnya.

Ia pun mengajak usaha perusahaan e-commerce maupun usaha uang elektronik (e-wallet) untuk bersama-sama membuka peluang UMKM nasional bisa berjaya tidak hanya di pasar lokal namun bisa menjangkau ke pasar global. “Kami ingin ajak kepada teman-teman Tokopedia, Warung Pintar, OVO dan lainnya untuk sama-sama kita buka UMKM kita supaya bukan hanya bisa mendapat kejayaan, tapi juga bisa membangun usahanya, memperbaiki produknya bisa mendistribusikannya, bisa mengakses pasar lebih luas. Kami akan libatkan anak muda, kreator-kreator untuk bisa mengembangkan UMKM,” tambah Teten.

Infrastruktur pembayaran canggih

Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK, Triyono menambahkan pihaknya optimistis pertumbuhan ekonomi mampu mencapai target inklusi keuangan 75%. Hal itu mengingat pesatnya perkembangan teknologi digital di Tanah Air.

Dia membeberkan bahwa saat ini inklusi keuangan di Indonesia mencapai sekitar 60-an%. Pemerintah pun akan terus mendorong untuk bisa secepatnya mencapai target.

Sementara itu, untuk financial technology (fintech) peer to peer lending sudah mencapai Rp 60 triliun. Meski dinilai tersebut belum signifikan dibandingkan dengan kredit perbankan namun hal tersebut perlu diapresiasi kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Untuk mempercepat target inklusi dan kontribusi fintech maka diperlukan infrastruktur keuangan digital. Menurutnya, masyarakat Indonesia, khususnya para pelaku usaha perlu didorong untuk memanfaatkan teknologi digital bagi perkembangan usaha mereka.

“Dengan sendirinya harus ada infrastruktur pembayaran yang canggih, yang murah, yang aman. Salah satunya dengan dengan ekonomi digital menggunakan OVO dan kawankawan yang lainnya. Banyak sekali yang ada di masyarakat,” kata dia.

Festival Gerakan Warung Nasional (FGWN) diselenggarakan Tokopedia bersama OVO, Warung Pintar dan mitra lainnya merupakan puncak perayaan
Gerakan Warung Nasional untuk mengajak masyarakat mengembangkan ekosistem warung sekaligus mengakselerasi pemerataan ekonomi digital di Indonesia. Tokopedia, OVO dan mitra lainnya berkomitmen menjembatani pelaku usaha tradisional, seperti pemilik warung, toko kelontong dan usaha sejenis dengan teknologi untuk mengembangkan usaha di tengah tuntutan kebutuhan era digital.

Adapun festival tersebut dibuka oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki dan diselenggarakan di Lapangan Banteng, Jakarta. (van/S1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More