Minggu 15 Desember 2019, 21:05 WIB

PBNU Kaji Persoalan Pengurangan Peran Perizinan Obat BPOM

Antara | Humaniora
PBNU Kaji Persoalan Pengurangan Peran Perizinan Obat BPOM

ANTARA FOTO/Arnas Padda
Petuga Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji laboratorium.

 

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengkaji substansi Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dari berbagai aspek termasuk soal rencana Kementerian Kesehatan mengambil alih peran Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam perizinan obat.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (15/12) PBNU akan melakukan kajian itu seiring dengan agenda Bahtsul Masail PBNU pada Selasa (17/12).

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Sarmidi Husna, mengatakan, isu soal BPOM itu merupakan salah satu bahasan para ulama NU selain defisit BPJS Kesehatan, pengamanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan kebijakan lainnya yang berdampak bagi masyarakat Indonesia.

"Oleh karena itu, PBNU mengumpulkan sejumlah tokoh agama untuk meninjaunya dari sisi keislaman, tokoh dunia kesehatan dan solusi atas masalah yang terjadi. Yang tidak kalah penting kami akan mengawal rekomendasi tersebut," katanya.

Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antarahli keilmuan Islam, terutama Fikih, di lingkungan pesantren yang berafiliasi dengan NU. Pada forum tersebut berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya dibahas untuk ditentukan hukumnya.


Baca juga: Dukung UN Diganti, Pengamat: Mendikbud Perlu Bongkar Kebiasaan


Sarmidi mengatakan BPOM merupakan badan yang berwenang untuk melakukan sertifikasi produk. Dengan begitu, masyarakat tidak terpapar produk yang tidak boleh dikonsumsi.

Dalam hal itu, dia mengatakan PBNU merekomendasikan agar lembaga yang melindungi masyarakat untuk diperkuat.

Adapun persoalan Kemenkes mengambil alih wewenang izin edar yang saat ini ditangani BPOM terus mengemuka.

Menkes Terawan menengarai lamanya proses perizinan obat di BPOM menjadi sebab tingginya harga obat. Dampaknya biaya pengobatan masyarakat juga terpicu mahal.

Sementara Kepala BPOM Penny Lukito menyebut pihaknya sudah melakukan terobosan agar perizinan obat sederhana dan cepat.

Dan ia menilai tingginya harga obat tidak ada kaitan dengan durasi proses perizinan di BPOM.

Penny mengatakan, masalah utama mahalnya harga obat bukan perizinan tetapi bahan baku obat yang hampir 100% masih impor dan rantai distribusi obat yang sangat panjang. (OL-1)

Baca Juga

MI/ BARY FATHAHILAH

11 Syarat untuk Memberlakukan New Normal

👤Antara 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 21:17 WIB
Prof Wiku Adisasmito menyebutkan terdapat 11 indikator kesehatan masyarakat agar bisa kembali ke aktivitas ekonomi produktif dan aman dari...
Antara

Jumlah Pasien di RSD Galang Menurun

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 20:44 WIB
"20 orang di antaranya pria dan 19 wanita. Mereka dijaga oleh 276 personel gabungan yang terdiri dari paramedis, nonmedis dan...
Istimewa/Kemensos

Tembus Lebih 95% di Tahap I, Kemensos Akselerasi Pembagian Bansos

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 20:15 WIB
Sekjen Kemensos Hartono Laras antarkan langsung paket sembako ke rumah seorang lanjut usia sakit, dan orang dengan gangguan jiwa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya