Minggu 15 Desember 2019, 15:41 WIB

Satu Brimob Tewas, Satgas Tinombala Perketat Keamanan Wilayah Ope

M Taufan SP Bustan | Politik dan Hukum
Satu Brimob Tewas, Satgas Tinombala Perketat Keamanan Wilayah Ope

Ilustrasi
Teroris

 

SATUAN Tugas (Satgas) Operasi Tinombala masih memburu kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pascapenyerangan yang menewaskan satu anggota Polri di Pos Sekat Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.  

Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Lukman Wahyu Hariyanto mengatakan, proses olah tempat kejadian perkara pascapenyerangan telah dilakukan.  

Berbagai barang bukti pun diamankan. Termasuk beberapa butir selongsong amunisi milik kelompok MIT.  Selain melakukan penyisiran, satgas yang terdiri dari pasukan TNI dan Polri juga memperketat keamanan di wilayah operasi.  

"Tidak hanya wilayah Parigi Moutong. Wilayah operasi di Poso juga kami perketat keamanannya," terang Lukman.  

Menurutnya, satgas yang melakukan penyisiran di wilayah hutan dan pegunungan Desa Salubanga dibagi ke tiga titik.  

Hal ini dilakukan karena keberadaan kelompok MIT diduga belum begitu jauh dari lokasi penyerangan.  

"Kita berharap bisa segera menangkap hidup atau pun mati kelompok itu," tegas Lukman.  

Penyerangan yang menewaskan anggota Brimob Polda Sulteng Bharatu Saiful pada Jumat (13/12) itu cukup membuat jajaran Polda bersedih.  

Pasalnya, almarhum yang baru saja menyelesaikan ibadah sholat Jumat bersama rekan dan warga sekitar langsung diberondong tembakan oleh kelompok MIT yang terlihat berjumlah lima orang.  

Meski sempat membalas tembakan, namun nyawa Saiful tidak bisa tertolong.
 
"Hasil pemeriksaan di kamar jenazah RS Bhayangkara Bharatu Saiful terkena dua luka tembak. Luka pertama di punggung sebelah kiri dan luka kedua di perut sebelah kanan," ungkap Lukman.  

Setelah sempat disemayamkan di kamar jenazah RS Bhayangkara, jenazah Saiful diterbangkan ke kampung halamannya di Padenglang, Banten.  

"Upacara pelepasan sudah dilakukan kemarin (Sabtu). Sampai di Pandeglang almarhum langsung dikebumikan," tandas Lukman.  

Sebelumnya, Polda Sulteng merilis 10 anggota MIT yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).  

Di mana, 10 DPO itu adalah Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Jaid alias Pak Guru, Galu alias Nae alias Mukhlas, dan Abu Alim alias
Ambo.  

Selain itu, Moh Faisal alias Namnung, Rajif Gandi Sabban alias Rajes, Alvin alias Adam alias Mus'Ab, Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama, Hairul alias Irul, serta Ali Kalora alias Ahmad Ali.  Qatar, Askar, Galu, dan Abu Alim diketahui berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka adalah mantan Mujahidin Indonesia Barat (MIB).  

Mereka bergabung bersama MIT yang saat itu masih dipimpin Santoso alias Abu Wardah saat MIT belum lama mendeklarasikan diri pada 2012 silam.  

Sedangkan Rajif merupakan pengikut MIT yang berasal dari Ambon. Rajif sendiri bergabung bersama MIT pada 2014 silam. Ia diketahui bergabung setelah mendapat ajakan MIT melalui video yang pernah diupload di YouTube 2015 silam.  

Sama seperti Rajif, Alvin dan Jaka Ramadhan yang diketahui berasal dari Banten juga bergabung bersama MIT setelah menonton video ajakan MIT di YouTube.  

Sementara Ali Kalora dan Hairul berasal dari Poso. Ali sendiri merupakan salah satu deklarator saat pembentukan MIT di awal bersama Santoso dan Basri alias Bagong pada 2012 silam. (OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More