Minggu 15 Desember 2019, 06:15 WIB

Sekali Dayung, Pendidikan dan Nilai Kebangsaan Terlampaui

Galih Agus Saputra | Weekend
Sekali Dayung, Pendidikan dan Nilai Kebangsaan Terlampaui

ilustrasi
Buku Eureka di Negeri Seberang

Koordinator tim beasiswa Netherlands Education Support Office, Indy Hardono, berbagi cerita tidak hanya tentang bagaimana hidup di negeri orang. Dia bercerita pendidikan nasional dari sisi historis dan bertutur pendidikan dari berbagai negara.

Judul: Eureka di Negeri Seberang

Penulis: Indy Hardono

Penerbit: Afterhours

Tahun: 2019

Tebal: 151 halaman

DEWASA ini, barangkali sudah banyak pelajar yang rela membagikan pengalaman studinya di luar negeri. Seturut perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, tak sedikit pula pelajar Indonesia yang membuat laman media sosial untuk menceritakan berbagai macam hal, mulai hobi, keseharian, materi perkuliahan, hingga cara mengatur pengeluaran ketika hidup di berbagai negara yang mereka pilih untuk menempuh studi.

Namun, di tengah-tengah terpaan era digital itu, tampaknya masih ada sosok yang berupaya untuk membagikan pengalaman serupa dengan 'cara lama'. Ialah Indy Hardono, perempuan yang belakangan dikenal sebagai Koordinator Tim Beasiswa, Netherlands Education Support Office (Neso). Sebelumnya, ia menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, jurusan Gas Petrokimia (1986-1992). Selanjutnya, ia juga sempat melanjutkan studi S-2, di Nyenrode Business Universiteit, Belanda (1995-1996).

Berbekal pengalaman menempuh studi sekaligus menjadi koordinator beasiswa dari 'Negeri Kincir Angin' itu, lantas merangsang Indy untuk menawarkan berbagai macam 'hal yang terkait satu sama lain', atau yang selanjutnya ia sebut sebagai resultante. Dan apa yang Indy kerjakan kali ini tampaknya selaras dengan peribahasa 'sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui'.

Alih-alih membagikan pengalaman studi di bidang teknik dan bisnis, Indy melalui buku barunya, Eureka di Negeri Seberang (2019), justru mencuat dengan pandangan atau perenungannya atas pendidikan nasional dan kebangsaan. Meski tak dapat dimungkiri bahwa ia kerap menggunakan analogi teknik dalam gaya penuturannya, justru hal itulah yang menjadi pertanda kelugasan Indy dalam menggunakan diksi.

Indy mengakui bahwa dirinya bukan penulis yang baik. Namun demikian, ia sudah menulis sejak menempuh pendidikan di bangku SD. Produktivitasnya dalam menulis semakin meningkat sejak empat tahun lalu, atau lebih tepatnya ketika artikel pertamanya terbit di kompas.edukasi.

Keranjingan menulis

Indy kemudian mengaku semakin keranjingan menulis sejak memiliki ketertarikan dengan dunia pendidikan dan segala macam permasalahan di dalamnya.

"Tidak banyak guru yang dapat mengenali potensi anak didiknya. Banyak guru hanya sekadar mengajar, sekadar menyampaikan materi ajar, sekadar mengembangkan sisi kognitif saja. Tidak banyak guru melatih sisi rasa dari anak didiknya, apalagi menantang anak didiknya untuk membuktikan kemampuannya. Saya cukup beruntung memiliki beberapa guru yang 'mengenal' saya lebih dalam," turur Indy, dalam tabik Eureka di Negeri Seberang (2019, hlm xiii).

Indy selanjutnya menjelaskan bahwa pendidikan sesungguhnya tak bergaris batas. Ia memiliki spektrum yang amat luas, dan tidak mungkin dibicarakan tanpa diketahui unsur-unsur pembentuknya. Banyak hal yang membuat dirinya semakin ingin tahu dan mengulik lebih dalam di bidang yang tidak melulu tentang kurikulum ataupun anggaran pendidikan nasional. Menurutnya, banyak permasalahan yang sangat mendasar di bawah gunung es masalah pendidikan nasional.

"Hal sedernaha, bahkan kasatmata namun sering kali luput dari radar kita," imbuhnya (hlm xvi).

Ciri khas tulisan Indy barangkali boleh dibilang tidak jauh dengan unsur kontemplatif, historis, filosofis, melankolis, dan kritis. Kala mengurai narasi tentang pendidikan nasional, misalnya, ia juga tidak lupa menyelami pandangan maupun kisah beberapa tokoh pendiri bangsa, misalnya Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.

Dengan menyitir ungkapan Ki Hadjar Dewantara, Indy lantas menjelaskan bahwa pengajaran umumnya memerdekakan manusia dari hidup dan lahirnya. Sementara itu, pendidikan, ia memerdekakan hidup dan batinnya. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak bergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar kepada kekuatan sendiri. Adapun konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara selanjutnya, kata Indy, mengenal tiga unsur utama, yaitu ngerti (cognitive domain), ngrasa (affective domain), dan nglakoni (psychomotor domain).

Bagi Indy, sosok Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu contoh pahlawan pendidikan nasional yang juga mendapatkan eureka-nya di negeri seberang. "Soewardi (nama Ki Hadjar Dewantara sebelumnya -red) akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Belanda. Selama lima tahun di masa pengasingan, ia memperdalam bidang pendidikan dan banyak melakukan perenungan intelektual.

Di sana ia banyak belajar tentang konsep-konsep pendidik Barat, seperti Frobel dan Montessori. Juga konsep pendidikan Santiniketan dari India yang dipelopori Rabindranath Tagore yang menggabungkan konsep nasionalisme, kebangsaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi," tulis Indy (hlm 11).

Kompetisi dunia

Namun demikian, Indy dalam bukunya turut menjelaskan bahwa pendidikan nasional termasuk kompetisi di dunia yang semakin luas di satu sisi dan terkoneksi di sisi lain juga perlu dihadapi dengan membaca. Tidak hanya itu, menurut Indy, budaya membaca seyogianya harus ditularkan dan diinspirasi seorang pemimpin. Soekarno, misalnya, ialah salah satu sosok yang sangat gila membaca, termasuk menulis, hingga mewariskan buku sekaliber Di Bawah Bendera Revolusi.

Selain itu, ada juga Hatta yang membawa berpeti-peti buku sebagai tafakur intelektualnya ketika pulang ke Tanah Air, pascakurang lebih 11 tahun hidup di negeri Belanda. Namun ironinya, lanjut Indy, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) pernah mencatat bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat baca.

"Faktanya, dan ini mengkhawatirkan; budaya membaca di Indonesia masih kurang. Itu pun kalau tak mau dikatakan sangat memprihatinkan," imbuhnya (hlm 41). (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More