Minggu 15 Desember 2019, 04:00 WIB

Siklus Kehidupan dalam Wastra Sumba

Galih Agus Saputra | Weekend
Siklus Kehidupan dalam Wastra Sumba

Ebet
Ilustrasi

BANGSA Indonesia dewasa ini barangkali sudah dikenal di mata dunia dengan kekayaan wastranya. Berbagai macam motif maupun teknik pembuatan wastra mudah ditemukan di sepanjang wilayah kepulauan Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua. Tak hanya itu, keberadaannya pun kerap menjadi bahan sorotan dan kajian para cendekia di berbagai bidang, seperti sejarah, seni, hingga antropologi. Mereka datang dari mana-mana, mulai negara tetangga di Asia Tenggara hingga belahan dunia lainnya, tak terkecuali Eropa.

"Wastra Indonesia sesungguhnya ialah bagian dari keragaman budaya Indonesia yang tiada terkira," tutur penulis buku sekaligus kolektor wastra Indonesia, Etty Indriati.

Etty sendiri barangkali ialah salah satu dari sekian banyak orang yang punya perhatian besar terhadap wastra Indonesia. Selain mengamati batik, beberapa waktu lalu, ia juga sempat bercerita tentang pengalamannya terjun langsung ke lapangan sambil menulis soal tenun Sumba.

Menurut Etty, tenun Sumba sejak dahulu sudah menjadi bagian integral siklus kehidupan masyarakat Sumba. Ia selalu ada di berbagai macam upacara adat yang sengaja dihelat untuk memperingati peristiwa penting, seperti kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Oleh karena itu pula, tenun Sumba dibuat setiap saat, seturut dengan kehadirannya sebagai suatu keharusan dalam kehidupan masyarakat.

"Ada yang membuat, ada yang memakai, ada yang mengapresiasi," imbuh Etty, saat ditemui Media Indonesia, di Bin House, Menteng, Jakarta, Selasa (19/11).

Kerja sama

Ketika berkunjung ke Sumba, Etty menjelaskan bahwa dirinya sempat bertemu dengan beberapa kelompok tenun. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 10-14 orang, yang mana saling bekerja sama dalam proses pembuatan kain tenun. Mereka juga punya tugas masing-masing, mulai memintal benang dari kapas, meracik warna alami dari akar kombu (untuk warna merah) dan daun indigo (untuk warna biru), menggambar motif, hingga memelintir rumbai benang di ujung kain.

Namun, lanjut Etty, dewasa ini ada beberapa wilayah di Sumba yang tidak lagi membuat tenun, seperti di Kapunduk dan Palindi. Pada 1980-an, masih banyak orang di wilayah tersebut yang membuat tenun, tapi kini sudah sangat jarang ditemui. Meski begitu, 10 wilayah lainnya masih produktif hingga saat ini atau sebagaimana yang dapat dijumpai di beberapa daerah administratif Kecamatan Kanatang, Kambera, Rindi, Pahunga Lodu, Umalulu, dan Kecamatan Pandawai.

Adapun proses pembuatan tenun Sumba sendiri, setidaknya mengenal delapan tahapan. Etty menjelaskan bahwa mulanya orang-orang Sumba akan melakukan pakabubul dengan sebuah alat yang terbuat dari besi berjari empat. Pada bagian tengah alat tersebut terdapat lubang yang memudahkan untuk berputar sehingga saat benang digulung keempat jarinya ikut berputar dan membentuk gulungan benang.

Seusai pakabubul, orang-orang kemudian menata benang atau yang disebut pamaning (memaning). Proses penataan benang ini biasa dilakukan oleh dua orang jika kain yang hendak dibuat berukuran pendek. "Kalau kainnya panjang, seukuran 10 meter biasanya dibutuhkan empat sampai enam orang untuk pemaning atau menyesuaikan ukurannya," tutur Etty.

Kain panjang yang dibuat dengan teknik tenun Sumba, biasanya disebut rohu bangi. Namun, sebelum menjadi kain, kumpulan benang itu biasanya disusun terlebih dahulu agar membentuk motif, hingga kemudian benar-benar diberi warna, di-welah (penyusunan benang sebelum menenun), ditenun, dan diberi rumbai pada ujung kain. Sementara itu, soal motif, Etty menjelaskan bahwa pada umumnya tenun Sumba selalu identik dengan makna simbolis yang diwakili berbagai macam bentuk, seperti hewan, tumbuhan, benda-benda, hingga manusia.

Bait-bait pesan

Sebagai sebuah karya seni, lanjut Etty, motif pada tenun Sumba juga mengandung makna simbolis yang tersirat dalam bait-bait sastra Sumba. Bahasa orang Sumba ialah Kambera dan pada sastra Sumba banyak dijumpai pantun dengan bait-bait yang mengandung pesan untuk menjalani hidup dengan baik. Adapun motif itu di antaranya ada habak, kare atau karibu, njara, kurangu, dan tau.

Motif habak, menurut Etty, memperlihatkan sosok cicak terbang. Ia memiliki makna bahwa manusia selalu membutuhkan persiapan atas segala hal yang terkadang datang tiba-tiba atau mendadak. Sementara itu, motif karibu identik dengan bunga yang menjadi simbol keibuan ilahi. Ia juga menjadi simbol alat reproduksi perempuan atau indung telur jika dipandang dari potongan melintang.

Adapun Njara, ia mewakili kuda yang menjadi lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, ada juga simbol lainnya, yaitu njara dai atau kuda poni yang dianggap masyarakat sebagai kuda pertama yang ada di Sumba pada zaman dahulu. Tak kalah menarik, semangat gotong royong, persaudaraan, dan kesatuan juga digambarkan masyarakat Sumba melalui simbol udang (kurangu), yang dalam kehidupan nyata mereka selalu berenang secara menggerombol.

Sementara itu, motif tau pada gilirannya digunakan masyarakat Sumba sebagai representasi simbol manusia. Masyarakat Sumba juga mengenal beberapa jenis manusia, yang mana ia mewakili anatomi tubuh maupun posisi badan. Ana tau (manusia telanjang), menurut Etty, juga menyimbolkan manusia yang polos, penyendiri, takut, dan selalu membutuhkan pengasihan dari Sang Pencipta.

Menurut Etty, entitas tenun dewasa ini juga telah menjadi karya seni komunal masyarakat Sumba karena ia digarap secara berkelompok atau bersama-sama. Tenun Sumba menjadi gambaran bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi keharmonisan komunal dan tidak hanya semata-mata mengandalkan pencapaian individual.

"Pembuat tenun di Sumba pun menamakan kelompok mereka masing-masing dengan nama yang melambangkan harapan mereka. Ada yang menamakan kelompoknya Lukumba Nduma Luri (benang untuk hidup) dan ada juga yang menamakannya Pahamun Dumaluri (memperbaiki hidup)," tutur Etty.

Tenun Sumba selama ini telah menjadi primadona di kalangan pencinta wastra dunia. Sejumlah museum terkenal di Eropa bahkan ikut memamerkannya sejak puluhan tahun silam. Menurut Etty, beberapa museum yang dewasa ini pernah memamerkan tenun Sumba, di antaranya ada Museum Etnologi Retterdam (Belanda), British Museum (Britania Raya), Metropolitan Museum of Art (Amerika Serikat), National Gallery of Australia (Australia), dan National Textile Museum (Malaysia). (M-4)

Baca Juga

AFP/GEORG HOTCHMUTH/APA

Selera Musik Ternyata Tidak Bebas dari Prasangka

👤MI Weekend 🕔Rabu 25 November 2020, 08:35 WIB
Musik sejatinya bisa menjadi salah satu cara untuk meruntuhkan stereotipe...
Twitter/BTS_twt

Jadi Nomine Grammy 2021, Begini Reaksi BTS

👤Irana 🕔Rabu 25 November 2020, 07:25 WIB
Pada Grammy 2019, BTS juga mendapat nominasi, namun untuk visual album mereka alih-alih konten...
Dok Jacoweek

Jakarta Coffee Week 2020 Siap Digelar Daring

👤Retno Hemawati 🕔Selasa 24 November 2020, 23:15 WIB
Diadakan sejak tahun 2016, di tahun ke-limanya kali ini Jacoweek dilakukan secara online...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya