Sabtu 14 Desember 2019, 17:00 WIB

Kedubes Jepang Sambut Kepulangan Pimpinan Ponpes

Melalusa Susthira K | Internasional
Kedubes Jepang Sambut Kepulangan Pimpinan Ponpes

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.
Para pemimpin pondok pesantren berfoto bersama dalam acara ramah tamah usai melakukan lawatan ke Jepang selama 10 hari.

 

TAHUN ini, Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang untuk Indonesia kembali mengadakan program kunjungan pimpinan pondok pesantren Indonesia ke Jepang.

Sembilan pemimpin pondok pesantren beserta pendamping dari PPIM-UIN Jakarta, berkesempatan mengunjungi 'Negeri Sakura' tersebut selama 10 hari.

Pihak Kedubes Jepang pun menggelar acara ramah tamah untuk menyambut kepulangan rombongan tersebut ke Tanah Air, Jumat (13/12).

Direktur Bagian Politik Kedubes Jepang Susumu Takonai mengaku senang mendengarkan para peserta membagikan pengalaman mereka selama berkunjung ke berbagai kota di Jepang.

Ia juga menyatakan suka citanya karena program tahunan sejak 2004 itu berlangsung dengan sukses dan terus terselenggara hingga tahun ini.

Baca juga: Indonesia dan India Sepakat Tingkatkan Kerja Sama

“Tujuan program ini adalah memperdalam pertukaran antarmasyarakat Jepang dan Indonesia. Ini saling menguntungkan, karena buat masyarakat Jepang bisa mengerti juga apa Islam di Indonesia, bagaimana muslim di Indonesia,” ujar Takonai saat acara penyambutan, di Hotel Four Points, Jakarta Pusat, Jumat (13/12).

Takonai berharap program studi komparatif yang mempelajari sistem pendidikan dan budaya Jepang tersebut dapat membawa manfaat baik bagi para peserta, untuk diimplementasikan dalam memajukan pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia.

Adapun cendekiawan muslim Azyumardi Azra, menuturkan program studi komparatif ke Jepang itu lebih dari suatu kunjungan belaka melainkan suatu implementasi ajaran Islam, yakni rihlah.

Menurutnya, acap kali umat Islam masih melanggengkan paham ‘self sufficiency of Islam”. Sehingga rihlah tersebut, sambungnya, sangat penting bagi para pemimpin ponpes Indonesia untuk dapat membuka cakrawala dan perspektif baru.

“Jadi itu maksudnya kalau lihat negeri orang lain kayak Jepang, kalau kita punya Quran kalau enggak disiplin enggak bakal maju, enggak cukup. Enggak bisa kalau kita enggak kerja keras, enggak ngelola ponpes dengan baik, manajemen yang baik, proses pembelajaran yang baik, enggak bakalan maju,” terang mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Sementara itu, peneliti senior Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fuad Jabali, yang mendampingi rombongan pimpinan ponpes ke Jepang, mengatakan program studi komparatif tersebut dapat menjadi medium reflektif sekaligus wadah inspiratif bagi para peserta untuk dapat memajukan pondok-pondok pesantren di Indonesia.

Berkaca pada keseharian masyarakat Jepang yang masih memeluk erat tradisi di tengah modernisme, Fuad berharap para peserta yang mengepalai institusi pendidikan Islam dapat pula mentransfer nilai-nilai baik ajaran Islam dalam laku sehari-hari santri maupun umat muslim lainnya.

“Itu menjadi kritik diri bagi mereka lewat orang (masyarakat Jepang),” imbuhnya.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat oleh Direktur Bagian Politik Kedubes Jepang, Susumu Takonai, kepada masing-masing peserta.

Pada kesempatan tersebut turut hadir pula Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komaruddin Hidayat dan Guru Besar UIN Jakarta Jamhari Makruf yang duduk sebagai Dewan Penasehat PPIM-UIN.

Program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang yang diselenggarakan setiap tahunnya sejak 15 tahun lalu tersebut, bertujuan memperdalam saling pengertian antara masyarakat Jepang dan masyarakat Muslim di Indonesia.

Pada program ke-15 tahun ini, sembilan orang pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Bengkulu, Sumbawa, Padang, Bali, hingga Halmahera berkesempatan mengunjungi Jepang selama sepuluh hari sejak Selasa (3/12) lalu.

Selama di Jepang, rombongan mengunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Hiroshima.

Dalam kunjungan mereka tersebut, rombongan melakukan berbagai kegiatan, di antaranya dialog antaragama, peninjauan ke sekolah-sekolah, kuil-kuil, dan pusat budaya Jepang lainnya. Para peserta juga berkesempatan tinggal selama beberapa hari di kediaman penduduk Jepang langsung. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More