Sabtu 14 Desember 2019, 09:30 WIB

Poco-Poco Ramaikan Penutupan Pavilion Indonesia

Laporan Thalatie K Yani dari Madrid, Spanyol | Internasional
Poco-Poco Ramaikan Penutupan Pavilion Indonesia

MI/Thalatie K Yani
Sejumlah orang menari Poco-Poco di Paviliun Indonesia saat perhelatan UNFCCC COP25 di Madrid, Spanyol.

 

"MENARI balendang pata-pata, bergoyang rica-rica, ngana pe bodi poco-poco..."

Bunyi lagu Poco-Poco menarik perhatian pengunjung konferensi perubahan iklim UNFCCC COP25 di Ferie de Madrid, Madrid, Spanyol, Kamis (12/12). Bukan semata lagu yang menarik, tapi sejumlah orang yang menari di depan Pavilion Indonesia.

Sejumlah anggota delegasi Indonesia pun melepas beban mereka dengan menari bersama dan tertawa riang. Tampak Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Sugardiman yang turut bergoyang seperti melepas sesaat semua beban negosiasi di konferensi tersebut.

Tidak hanya warga Indonesia yang menari, pengunjung dari negara-negara lain juga ikut bergoyang bersama. Tawa riang sambil berupaya mengikuti langkah terdengar dari sejumlah pengunjung.

"It's fun hahaha..." celetuk salah satu pengunjung sambil tertawa berupaya mengikuti gerakan Poco-Poco.

Baca juga: PBB Tawarkan RI Bantuan Transisi Energi Terbarukan

Tidak hanya tarian Poco-Poco, stan souvenir Indonesia pun ramai dikunjungi. Beragam tas batik dengan beragam ukuran dan warna menarik perhatian pengunjung untuk bisa memilikinya.

"Bagaimana aku bisa mendapatkan tas itu?" ujar pengamat dari Korea Selatan sambil melihat aneka tas batik.

Ketertarikan mendapatkan tas batik, teh, kopi, dan pulpen batik membuat antrean mengular sampai keluar pavilion Indonesia.

Pavilion berukuran 300 meter persegi di Hall 8 IFEMA memang menarik perhatian delegasi dan berbagai peserta UNFCCC COP25. Apalagi desian bambu yang unik mendapatkan perhatian publik.

Paviliun yang dibuka 4-12 Desember itu merupakan cara Indonesia memberikan informasi mendalam tentang capaian Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Seperti Indonesia, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong menuturkan banyak negara di dunia seperti Brasil, Kanada, Bolivia, Amerika Serikat, dan Australia menghadapi tantangan besar soal karhutla.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Indonesia telah melakukan kajian terhadap karhutla yang terjadi pada 2019 dan mengambil aksi koreksi di lapangan, termasuk soal karhutla.

"Berdasarkan kajian atas apa yang terjadi di tingkat global, kejadian karhutla yang terjadi di berbagai negara karena adanya situasi abnormal dan wilayah Asia Tenggara mengalami situasi yang paling buruk," kata Wamen Alue menutup penyelenggaraan Paviliun Indonesia, Kamis (12/12).

Lebih lanjut, Alue mengatakan karhutla 2019 lebih rendah dibandingkan 2015.

"Kita juga butuh sistem mobilisasi sumber daya yang dimiliki pemerintah, pelaku usaha dan organisasi masyarakat untuk aksi pengendalian karhutla dan memitigasi dampaknya," kata Alue.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Paviliun Indonesia Agus Justianto menjelaskan, selain tentang manajemen pengendalian karhutla, diskusi panel yang diselenggarakan menyajikan berbagai aspek mulai dari pegunungan hingga lautan, dari Timur ke Barat, apapun gender dan berapapun usianya, semua tentang aksi yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) demi menjaga kenaikan temperatur tidak lebih dari 2 derajat celcius.

"Lebih dari 3.000 orang delegasi hadir mengikuti sesi panel yang digelar Paviliun Indonesia," kata Agus.

Selain aktor di tingkat tapak, Paviliun Indonesia juga menghadirkan tokoh pengendalian perubahan iklim global seperti Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, ekonom perubahan iklim Lord Nicholas Stern, dan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk SDG era Kofi Annan dan Ban Kim-moon sekaligus pakar pengentasan kemiskinan Profesor Jeffrey Sachs. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More