Sabtu 14 Desember 2019, 06:45 WIB

Rohman Gumilar Lewat Literasi Lanjutkan Harapan

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Weekend
Rohman Gumilar Lewat Literasi Lanjutkan Harapan

MI/SUMARYANTO BRONTO
Rohman Gumilar Lewat Literasi Lanjutkan Harapan

Mimpi-Mimpi yang Diperjuangkan

Tamu-tamu yang diundang dalam Kick Andy, mereka ialah orang yang berdaya mewujudkan mimpinya dari sebuah permasalahan. Masalah mereka beragam, solusi yang ditawarkan langsung menuju sasaran.

"AKU rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas," begitulah sebuah kutipan dari Bung Hatta, bapak bangsa Indonesia seperti yang diterapkan Rohman Gumilar, seorang petani lulusan sekolah dasar (SD) dari Desa Kadakajaya, Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat.

Meski pendidikannya kurang beruntung ketimbang yang lain, ia tetap memiliki keinginan untuk berbuat baik dan melakukan perubahan bagi lingkungannya. Buku menjadi jalannya. Ya, ungkapan buku ialah jendela dunia benar adanya baginya. Dia yakin membaca buku dapat melihat dunia dari beragam sisinya.

Gugum, sapaan akrabnya, memang seorang petani yang melalui masa kecilnya dengan keprihatinan. Sejak kelas 3 SD, ia mendapati kedua orangtuanya berpisah dan tinggal bersama kakeknya di sawah.

Namun, ia tak mau mengalah dengan nasib, di balik sosoknya yang sederhana, ia merupakan pejuang literasi. Ia mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bina Kreasi Muda agar masyarakat di desa, khususya anak-anak, memiliki pendidikan yang tinggi tidak seperti dirinya yang hanya lulus sekolah dasar.

"Usai lulus SD, saya merantau ke kota untuk bekerja jadi kuli bangunan ataupun buruh pabrik. Namun, di 2002 ketika saya pulang ke kampung, kondisi di kampung rupanya belum ada perubahan," kata Gugum. Menurutnya, pendidikan belum menjadi prioritas sehingga kebanyakan setelah lulus SD pilihannya hanya bekerja jadi buruh tani atau ujungnya menikah. "Saya berpikir, SDM tidak akan ada peningkatan jika pendidikan rendah, hingga akhirnya saya berinisiatif untuk mendirikan sebuah taman bacaan," lanjut Gugum.

Sejak berdiri pada 2012, sudah ada lebih dari 3.000 buku yang didapat dari donatur maupun membeli buku rutin dari uang gaji sejak menjadi buruh pabrik. "Ketika gajian, targetnya pasti beli buku karena buku itu sangat penting," kata Gugum.

Pindah lokasi

TBM sering berpindah lokasi dan Gugum harus mencari donatur untuk keberlangsungan Saung Maca. Pada hal ini, Gugum tidak hanya merintis TBM Bina Kreasi Mandiri, dalam perjalanannya, ia membangkitkan pemuda di daerah lain untuk mendirikan TBM serupa. "Banyak di antaranya yang datang dan mengatakan ingin mendirikan TBM, saya support dan berikan buku satu dus dengan syarat harus berkembang dan maju," kata Gugum.

Di TBM, Gugum juga aktif memberikan pelatihan, seperti pembuatan film, pembuatan naskah, hingga mendaur ulang sampah. "Semuanya didapat berkat membaca," kata Gugum. Meski banyak menghadapi kendala, ia tetap gembira karena setiap harinya Saung Maca selalu ramai dikunjungi warga sekitar, khususnya anak-anak.

Kerja kerasnya pun berbuah manis, ia telah berhasil mengubah pandangan warga tentang pentingnya pendidkan. Banyak warga Kadakajaya yang telah menempuh pendidikan tinggi, bahkan Rohman telah menamatkan kejar paket C atau pendidikan kesetaraan setingkat SMA. Dirinya memperoleh apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada 2018 mendapat anugerah Een Sukaesih Award.

Sekarang ia pun tengah menggalang dana untuk perluasan sarana dan prasarana agar TBM yang ia dirikian bisa nyaman dirasakan warga sekitar. Tak hanya itu, dalam dua tahun belakangan, Rohman sedang bekerja sama dengan sebuah SMA untuk membuka sekolah terbuka tanpa biaya alias gratis. "Saya bahagia apabila ada orang yang bisa diajak untuk berbuat baik. Banyak yang bilang saya hebat, tapi sebenarnya mereka itu yang hebat bisa berubah berbuat kebaikan," tutup Gugum. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More