Jumat 13 Desember 2019, 11:30 WIB

Kongres AS Akui Genosida Armenia

Melalusa Susthira K | Internasional
Kongres AS Akui Genosida Armenia

AFP/FREDERIC J BROWN
Aksi warga AS keturunan Armenia yang menuntut pemerintah AS mengakui genosida Armenia

 

KONGRES Amerika Serikat (AS), Kamis (12/12), secara resmi mengakui pembunuhan massal sekitar 1,5 juta warga Armenia pada 1915-1917 sebagai genosida. Pengesahan Senat atas resolusi yang berulang kali macet tersebut membuat Turki berang yang menyangkal adanya genosida.

Dalam meloloskan resolusi tersebut, AS bergabung dengan 30 negara lain yang mengakui genosida dilakukan Armenia di bawah Kekaisaran Ottoman yang berpusat di Istanbul.

"Sangat tepat dan patuut Senat berdiri di sisi kanan sejarah," ujar anggota senat AS Robert Menendez yang mendorong resolusi diloloskan, Kamis (12/12).

"Saya bersyukur resolusi ini telah diloloskan ketika masih ada orang-orang yang selamat dari genosida, yang akan dapat melihat Senat mengakui apa yang mereka alami," sambungnya, sembari menahan air mata.

Baca juga: Pasal Pemakzulan Trump Diperdebatkan

Resolusi tersebut mendeklarasikan bahwa adalah kebijakan AS untuk mengenang Genosida Armenia melalui pengakuan dan peringatan resmi.

“(Kebijakan) untuk menolak upaya memberi dukungan, terlibat, atau dengan cara lain mengaitkan pemerintah AS dengan penyangkalan Genosida Armenia ataupun genosida lainnya," terang resolusi tersebut.

Menyambut baik resolusi genosida Armenia yang diloloskan tersebut, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menyebut langkah Senat AS sebagai kemenangan bagi keadilan dan kebenaran.

"Ini merupakan penghormatan kepada 1,5 juta korban genosida pertama abad ke-20 dan langkah berani dalam mempromosikan agenda pencegahan," tulis Pashinyan dalam akun Twitter pribadinya, Jumat (13/12).

Sebaliknya, pemerintah Turki mengutuk langkah senat AS dan memperingatkan hal tersebut akan berdampak pada hubungan AS dengan Turki.

Pemerintah Turki telah berulang kali menyangkal adanya genosida dan bersikeras bahwa jutaan warga Armenia yang tewas tersebut merupakan akibat dari Perang Dunia I.

"Perilaku beberapa anggota Kongres AS merusak hubungan Turki-Amerika," cicit Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Fahrettin Altun, Jumat (13/12).

“Sejarah akan mencatat resolusi ini sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak rasional oleh beberapa anggota Kongres AS melawan Turki. Mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab karena menyebabkan kerusakan jangka panjang antara kedua negara," sambungnya.

Resolusi yang diloloskan Senat tersebut, telah diloloskan lebih dulu oleh DPR AS. Sebelumnya, upaya meloloskan resolusi tersebut mendapat hambatan berkali-kali oleh sekutu Presiden AS Donald Trump yang mengusahakan relasi baik dengan Turki maupun Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Hubungan Turki dan AS merenggang manakala Erdogan memutuskan membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.

Selain itu, Trump juga berusaha Erdogan meminta Erdogan agar mencegah invasi Turki ke Suriah utara, selepas pihak AS menarik mundur pasukannya.

Adapun pada Rabu (11/12), Komite Urusan Luar Negeri Senat AS menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk menjatuhkan sanksi keras terhadap Turki dan para pemimpinnya atas serangan di Suriah dan pembelian sistem rudal Rusia. RUU tersebut akan berlanjut ke meja Trump untuk segera ditandatangani. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More